Para ahli akan fokus untuk membersihkan kerusakan Mangrove oleh tumpahan minyak dari Tanker yang kandas.

Tim kedua dari Jepang berangkat menuju Mauritius pada Rabu (19/8) dengan peralatan spesial penyerap minyak untuk membantu pembersihan minyak yang tumpah dari kapal Tanker Jepang yang kandas pada awal bulan ini.

“Minyak yang tumpah dari kapal yang kandas itu telah menyebabkan gangguan serius bagi masyarakat Mauritius, ekonomi negara itu bergantung pada pariwisata dan keindahan lautannya,” sebut pejabat kementerian lingkungan Jepang Yukihiro Haisa.

“Saya sangat tertekan.”

Enam orang anggota tim sedang menuju Mauritius dari Jepang, dengan pimpinan grup bergabung dari New York.

Haisa menyebutkan pemerintah Mauritius telah meminta tim itu untuk menilai akibat dari tumpahnya minyak itu di terumbu karang setempat.

Kapal MV Wakashio milik Jepang kandas pada 25 Juli dan mulai menumpahkan minyak seminggu kemudian, memuntahkan sekitar 1.000 ton dan mengancam taman laut yang dilindungi dan berbagai spesies langka.

“Kami akan menerapkan kemampuan teknis kami untuk membersihkan minyak yang menutupi hutan mangrove,” kata Noriaki Sakaguchi, seorang ahli lingkungan dari Japan International Cooperation Agency.

Baca juga :  286 Orang Positif COVID-19 di Sumbar, Tenaga Kesehatan Paling Berisiko

“Sekalinya rusak, maka akan butuh waktu lama untuk sebuah sistem ekologi kembali pulih,” katanya.

Tim itu membawa 20 kotak penghisap minyak spesial yang dapat menghisap 1.200 liter minyak.

Akar struktur yang rumit
Material itu disumbangkan oleh perusahaan berbasis di Tokyo, M-Tech X dan telah digunakan dalam insiden tumpahnya minyak di Jepang tahun lalu.

“Saya akan menyaksikan bagaimana kami bisa menggunakan material penghisap itu untuk membersihkan area pantai dan struktur hutan yang tercemar minyak,” kata Haisa.

Tokyo telah mengirimkan sebuah tim beranggota enam orang ahli, termasuk seorang penjaga pantai dan diplomat, untuk membantu.

Baik Jepang maupun Mauritius berada dalam tekanan karena tidak melakukan apa-apa untuk mencegah tumpahan minyak yang lebih luas.

Otoritas Mauritius pada Selasa (18/8) telah menangkap kapten kapal itu.
Pemerintah belum mengungkapkan, mengapa kapal yang sedang dalam perjalanan dari Brazil ke Singapura itu berlayar sangat dekat dengan daratan yang kini telah mengancam bencana ekologis.

Kapal itu membawa 4.000 ton minyak dan para awak berhasil memompa sekitar 3.000 ton minyak pada Minggu untuk mencegah bencana lingkungan yang lebih parah.

Baca juga :  Silakan Tunggu di Rumah, BLT Pemprov Sumbar Akan Dikirim Melalui Pos

(alih bahasa oleh patra)