Jepang mengakhiri status krisis nasional akibat pandemi COVID-19 dan menghimbau masyarakatnya untuk menerapkan “new normal.”

Hal itu disampaikan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe pada Senin (25/05/2020) melalui pernyataannya dalam konferensi pers. Ia menyebutkan, “Saya telah memutuskan untuk mengakhiri situasi krisis negara… dalam satu setengah bulan terakhir, kami telah mengontrol situasi (infeksi) ini.”

“Jumlah infeksi baru yang ditemukan turun di bawah 50 kasus di seluruh negeri. Sekarang ada 10.000 kasus yang dirawat, dan kini turun dibawah 2.000,” kata PM Abe pada Al Jazeera.

Meski begitu PM Abe menekankan bahawa virus ini belum hilang di Jepang. “Pertarungan kita melawan virus ini akan berlanjut,” katanya.

Meski begitu, pembatasan terhadap beberapa bisnis, perjalanan dan acara-acara besar akan dicabut dalam tahap selanjutnya setelah dilakuakn peninjauan setiap tiga minggu dalam beberapa bulan kedepan.

PM Abe mengingat masyarakat untuk tetap waspada terhadap risiko infeksi gelombang kedua. Mereka harus tetap menggunakan masker, menjaga jarak dan bekerja di rumah jika memungkinkan.

Baca juga :  Kata Dokter Reisa, Penerapan Kebiasaan Baru di Pasar Tidak Sulit, Yuk Ikuti!

Jepang memiliki 16.581 kasus dimana 830 berakhir dengan kematian.

Selanjutnya, ia mengapresiasi apa yang disebut sebagai Model Jepang dalam mengatasi virus korona.

Model ini masih menjadi misteri. Menggunakan masker, kerja dari rumah dan social distancing adalah hal-hal yang disarankan dan Jepang tidak menerapkan lockdown.

Dilansir dari laman India Times, Jepang bukanlah negara yang melaksanakan tes paling banyak. Negara ini hanya melakukan test sebanyak 270.000 test, yang merupakan jumlah paling rendah di tujuh negara paling maju dunia, menurut World Meter. Sebagaimana dari Brisbane Times, Tasuku Honjo, professor immunology dari Kyoto University dan pemenang Hadiah Nobel bidang kesehatan mengungkapkan teorinya.

Ia merasa bahwa perilaku hidup bersih menjadi poin utama. Orang-orang Jepang selalu mencuci tangan, mereka tidak berciuman dan berpelukan. Kedua, vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin, vaksin yang diberikan untuk melindungi diri terhadap tuberkulosis) meningkatkan imunitas masyarakat Jepang.

Hal demikian menurutnya membuat gen orang-orang Asia lebih kuat terhadap virus dibandingkan orang-orang Kaukasia. Selain itu, juga ada kemungkinan bahwa COVID-19 yang menyerang Jepang adalah variasi yang lebih lemah dan tidak bermutasi.

Baca juga :  2 Orang Positif Covid-19 dari Penelusuran Kontak dengan Mantan Wakil Wali Kota Padang Panjang

Sehari Setelah PM Shinzo Abe mengumumkan pencabutan keadaan darurat Tokyo bangun dari hibernasi. Financial Times melaporkan, Kegiatan bisnis yang dibuka kembali harus menerapkan pedoman kesehatan yang harus dilaksanakan.Asosiasi industri telah menetapkan lebih dari 100 pedoman tentang bagaimana berbagai sektor harus menghindari “three C”; closed spaces, crowded places and close-contact settings (“tiga C”: ruang tertutup, tempat ramai dan pengaturan kontak dekat).

Meski telah mengakhiri situasi darurat nasional, Jepang tetap mengetatkan kontrol atas perbatasannya dengan memperluas larangan masuk orang dari atau ke berbagai negara untuk mencegah penyebaran virus corona.

Kyodo News melaporkan, kementerian luar negeri menambahkan 11 negara yang dilarang, yaitu India, Afghanistan, Bangladesh, El Salvador, Ghana, Guinea, Kyrgyzstan, Pakistan, Afrika Selatan dan Tajikistan. Dengan tambahan itu, Jepang dilarang menjadi 111 negara, termasuk Amerika Serikat sebagian besar Asia dan semua Eropa. (Haldi Patra)