Padang, inioke.com–Peran dan posisi jurnalis sangat penting dalam pengarusutamaan pengurangan risiko bencana.

“Jurnalis mendorong aksi pemerintah dan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana,” kata Ketua Jaringan Jurnalis Siaga Bencana (JJSB) Sumbar, John Nedy Kambang, dalam diskusi Mitigasi Bencana di Sumbar, Kamis (4/3).

John Nedy Kambang memulai materinya dengan pertanyaan tentang jurnalis di titik nol, sembari membagikan buku berjudul Jurnalis di Titik Nol yang diterbitkan JJSB Sumbar.

“Jurnalis di titik nol menyangkut posisi jurnalis melaporkan langsung dari lokasi bencana dengan segala risikonya,” ujar jurnalis CNN Indonesia ini.

Disampaikan John, di satu sisi bencana itu “anugerah” bagi jurnalis. Informasi kebencanaan menarik untuk dibaca dan ditonton oleh banyak orang.

“Bencana biasanya menciptakan situasi yang tidak pasti, sehingga semua orang menunggu kepastian data dan informasinya. Selain itu, bencana juga iven besar yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Menarik untuk diliput dan tanpa rekayasa,” ungkap Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumbar ini.

Dijelaskan John, dalam liputan bencana ada tiga hal yang harus dieksplorasi media. Prabencana, saat bencana terjadi, dan pascamedia. Kebanyakan media, hanya fokus pada bencana, lupa pada prabencana dan pascabencana.

Baca juga :  Pemko Padang Bakal Tutup Jalan Adinegoro

“Untuk itu, kita harus konsisten menyadarkan masyarakat dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Kemudian, mengurangi kesalahan dalam pemberitaan atau penyajian informasi,” paparnya.

Meskipun begitu, pungkasnya, tidak ada berita seharga nyawa. Keselamatan jurnalis juga penting.
“Terakhir, jangan lupa etika,” tutupnya. (ioc)