Jakarta, inioke.com–Alih-alih bersoal tentang kata mudik atau pulang kampung, Dodi Triaviandi bersama kedua orang temannya yang tinggal di Cibubur, Jakarta Timur, justru melakukan kampanye kreatif. Di tengah polemik penggunaan kata mudik dan pulang kampung tersebut, mereka membuat stiker-stiker yang dipasang di kaca mobil dan truk, serta tembok-tembok di Jakarta.

Kalau Emang Abang Sayang, Virus Corona Jangan Kau Bawa Pulang. Begitu diantara kata-kata di stiker tersebut dengan desain klasik atau yang biasa nampang di angkot dan truk. Stiker buatannya pun sengaja dibikin dalam beberapa versi bahasa daerah agar bisa menjangkau lebih banyak orang.

Stiker ajakan tidak mudik. (Dodi Triaviandi)

Dengan stiker-stiker tersebut, Dodi ingin mengampanyekan larangan mudik untuk memperkecil risiko penularan COVID-19. Sebelumnya, ia melakukannya di media sosial melalui tagar #TakPulangKarenaSayang.

“Pada akhirnya, Indonesia punya tradisi yang kuat untuk mudik tadi. Selain dari masalah tradisi yang berhubungan dengan keagamaan umat Muslim, itu juga sebenarnya masalah ‘bonding’ mereka dengan kampung halamannya,” kata Dodi yang adalah pekerja industri kreatif, seperti dikutip ABC Indonesia.

Dodi Triaviandi dan temannya membuat ajakan tidak mudik dengan metode komunikasi yang mudah dipahami warga Indonesia.  Menurutnya, faktor emosional ‘is a big thing’ atau hal yang besar buat orang Indonesia.

Baca juga :  Surat Rahmah El Yunusiyyah dan Siti Afifah Meminta Syekh Dr. H. Karim Amrullah Memberi Siraman Rohani

“Dari situ, kami terpikir untuk membuat suatu kampanye yang bukan imbauan atau larangan mudik, tapi sebuah pengingat,” tuturnya.

Melalui kampanye #TakPulangKarenaSayang, Dodi ingin meyakinkan 24 persen warga yang masih ingin mudik, melalui metode komunikasi yang menurutnya dapat diterima warga Indonesia.

Stiker dengan bahasa daerah. (Dodi Triaviandi)

Sementara itu, stiker kreasinya akan disebarkan lebih luas ke angkot, pasar, terminal, dan tembok-tembok di pinggir jalan kota Jakarta, yang mudah dilihat para pejalan kaki. Upaya Dodi dan kawan-kawannya mengingatkan warga melalui stiker, mungkin salah satu cara mengisi celah yang ditinggalkan pemerintah.

“Jadi makin banyak diingatkan, semakin baik,” katanya. (io/ABC Indonesia)