Oleh: Deddy Arsya

Bagaimana kata-kata makian bermula? Kata orang, satu di antaranya bisa berasal dari wabah.

Setidaknya, itulah yang dicatat kamus: Konon kata makian (kasar) ini “berasal dari penyakit kolera, sejenis penyakit perut yang amat berbahaya.”

Kata itu: kalera, kadang ditulis (dalam kamus lain), kulera!

Tapi bisa juga dia berasal dari yang lain, dari kata ‘kaleran’ misalnya, kelereng, gundu, mainan anak-anak, yang bisa juga berarti ‘sepasang kacang almond yang tergantung-gantung di pangkal paha laki-laki’. Ini barangkali yang lebih lazim sebagai asal kata-kata kotor dalam masyarakat Melayu, bukan?

Tapi apapula gunanya bagi kita mencari asal-muasal dari kata ‘najis’ itu?

Yang hendak kita bahas sebenarnya adalah—betapa—tamparan badai wabah telah diingat dengan cara yang tak lazim: ia menjelma sebagai kutukan dan makian, umpatan dan caci-maki. Mungkin saja akan berguna juga bagi kita kini untuk mengingat apa yang terjadi di dunia kita saat ini: sebagai apa dan dengan cara apa kita akan mengenang corona—‘dosa ekologis’ ini kelak?

Amuk Sepanjang Abad ke-19

Kolera adalah penyakit massif abad ke-19 di Hindia Belanda umumnya, juga di Sumatra Barat khususnya. Setidaknya itulah yang tercatat. Dia diimpor dari palka-palka para pelaut (terutama) Eropa.

J.C. Boelhouwer, seorang Letnan Infantri, sedang berlayar dari Eropa ke Hindia untuk terlibat dalam perang melawan kaum Padri di dataran tinggi Minangkabau ketika kapalnya diamuk badai wabah. Sudah sepekan ia berada di kapal, ketika kemudian muncul berjangkit penyakit kolera yang mengerikan itu dan dalam beberapa hari saja yang terjangkit menjadi begitu bertambah sehingga “pada suatu pagi 11 jenazah dilemparkan ke Iaut.” Matros-matros yang mati tidak dihitung. “Penyakit yang menakutkan ini yang tidak asing di daratan, dan juga di tanah air kami yang tercinta, dengan akibat-akibatnya dapat diperkirakan akan muncul di kapal yang penuh dengan manusia,” demikian dicatatnya dalam Herinneringen van mijn verblijf op Sumatra’s Weskust Gedurende de jaren 1831 -1834.

Selain dari penumpang-penumpang dan awak kapal, ada 200 prajurit Belanda di kapal itu yang seluruhnya telah kehilangan semangat dan ketakutan. “Kami takut karena penyakit itu lekas sampai ke kamar kapal … Acapkali saya melihat korban-korban yang malang itu berdiri sehat, tiba-tiba ia berseru ,’ah, sakit benar badan’, ‘ah, perut saya’, dan kemudian ia terjatuh. Segera mereka dibawa ke tempat tidur. Dokter yang cepat datang mendapati mereka telah mati,” catatnya lagi.

Selama beberapa hari saja kapal itu telah kehilangan 25 orang seradu dan 12 matros.

Baca juga :  Masker Barendo Berbentuk Kutang Popular di Jepang

Jeffrey Hadler dalam Sengketa Tiada Putus, khususnya membicarakan cacar, tetapi, tidak hanya cacar, kolera juga disebutnya sebagai epidemi yang tidak kalah mematikan. Mengutip Reizen in Midden-Sumatra, dia menuliskan bagaimana rumah-rumah di seluruh kampung di pedalaman Minangkabau terjangkit penyakit itu pada 1870. Pada akhirnya, catat Jeff, mengutip laporan itu, “Semua penduduk akan mati akibat epidemi—cacar atau kolera—dan karena itu populasi dengan berbagai cara berkurang. Kini di sana segalanya hancur, orang-orangnya miskin papa, berdiam di rumah tanpa ada cara mendapatkan penghidupan.”

Sejak 14 Mei 1883, kolera telah juga menghantam Bombay dan sekitarnya, “dengan laju ratusan per minggu,” demikian kata laporan bertajuk “Precautions Against Cholera” dalam jurnal Public Health. Di Mesir pada bulan itu juga, ketakutan akannya menyebabkan otoritas setempat mengeluarkan resolusi untuk mengkarantina seluruh pendatang dari Hindustan. Pemerintah kolonial Inggris menentang resolusi itu dengan mengatakan kalau kolera belum sampai pada taraf epidemi di India, angka kematian masih 28 orang selama seminggu, tidak ratusan seperti yang tersebar. Tapi, resolusi itu terus berlanjut di Mesir, karantina masih dijalankan hingga Juni.

Pada bulan itu juga, Konsulat Jenderal Belanda di Alexandria, kata laporan yang sama, telah melaporkan kalau kolera telah menjadi epidemi di Hindia—daerah jajahan mereka di Asia. “Kolera telah menjadi epidemi di Padang (Sumatra) sejak 14 Juni (1883),” demikan laporan itu menyebut. Selengkapnya: “On the 19th of June intelligence was received by the Netherlands Consul General at Alexandria, that cholera had been epidemic at Padang (Sumatra) since the 14th, and the same day the Board’s regulations against cholera were ordered to be applied to arrivals from that locality.” Sehingga kemudian setiap kedatangan dari daerah tersebut juga diterapkan pengkarantinaan oleh pemerintahan kota-kota di Timur Tengah. Tidak ada informasi yang jelas tentang kondisi Jawa, kata laporan itu lagi, tetapi Dewan Kesehatan Turki Usmani di Konstantinopel (Istanbul) telah memutuskan untuk mengkarantina seluruh peziarah ke Arab (jemaah haji) dari Jawa dengan dasar perhitungan “prevalensi kolera di Padang”.

Di akhir abad itu, kolera memang sedang mengganas di dunia. Di Hindia sendiri, epistenstrumnya ada di tiga titik penting berikut ini: Aceh, Padang, dan pesisir Jawa. “Banyak jatuh korban selama perang lalu (Perang Aceh),” tulis H. A. A. Niclou dalam Beri-beri te Atjeh (1887). Kerugian besar akibat wabah itu, kata pemerintah kolonial beralasan, sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari “ekspedisi kami di wilayah ini”, terutama terjadi ketika di daerah tersebut “tidak ada perawatan pertama yang dipersiapan” akibat sedang dalam masa darurat perang. Namun, laporan yang sama juga menyebut kalau penyakit itu juga mewabah bahkan di daerah-daerah yang termasuk paling sehat dan paling siap (untuk penanganan medis) seperti di Sumatra Barat dan pesisir Jawa (binnenlanden van Java).

Baca juga :  Beberapa Kebijakan Kontroversi Pemerintah di Tengah Wabah Covid-19

Abda ke-20 Masih Menggila

Rumah sakit di Padang pada awal abad ke-20. (Sumber: ANRI)

Wabah ini tidaklah berhenti pada abad ke-19. Dia tampak masih sama ganasnya di Hindia setidak-tidaknya pada tiga dasawarsa awal abad berikutnya.

Pandji Poestaka melaporkan pada 1 Juli 1927 tentang kemunculan wabah kolera di Jawa. Singapura sesungguhnya telah lebih dulu diamuk wabah yang sama pada tahun sebelumnya. Oleh sebab itu, setiap penumpang kapal yang pulang dari sana yang akan memasuki pelabuhan di Jawa segera dikarantina dan disuntik vaksin petugas medis. Karantina besar-besaran dan vaksinasi telah dilakukan terhadap ribuan orang di Tanjung Priok. Namun, penyebaran wabah tampaknya tidak berhasil dihampang. Pada kronik di edisi berikutnya diumumkan kalau “Betawi dinjatakan berdjangkitan penjakit kolera.” Vaksinasi semakin massif dilakukan termasuk kepada para tahanan di penjara-penjara pemerintah. Sebanyak 1000 lebih tahanan dalam penjara Cipinang juga disuntik vaksin. “Djoega orang-orang [tahanan] kominis.”

Tani, majalah terbitan Dinas Pertanian Fort de Kock, pada 5 Desember 1927 juga mengkonfirmasi kalau di Hindia Belanda saat itu tengah terjangkit penyakit kolera. Episentrumnya ada di Betawi dan Tanjung Priok. Beberapa orang bumiputra dan orang Eropa sudah dijangkitinya. Hal itu membuat pemerintah di daerah-daerah melakukan pengkarantinaan untuk mencegah penularan. Kebijakan-kebijakan ini terutama diterapkan di pelabuhan-pelabuhan yang menjadi simbul bagi lalu-lintas manusia di kawasan. Di Teluk Bayur (Emmahaven), pelabuhan terbesar di pantai barat Sumatra masa itu, termasuk yang menerapkan karantina bagi siapa saja yang datang dari pelabuhan-pelabuhan terjangkit (terutama Tanjung Priok), yang harus 5 hari lamanya “diperhatikan oleh tabib (dokter) Goebernemen.” Mereka harus masuk karantina selama itu karena menurut laporan majalah tersebut, “Baroe orang merasai sakit betoel kalau soedah 5 hari lamanja menanggoeng benih penjakit itoe.” Para penumpang kapal  tidak boleh turun dulu ke darat meninggalkan pelabuhan. Di situ diberi tempat dalam bangsal. Selama masa karantina, mereka dapat makan dan tempat tidur “pertjoema, djadi tak oesah membajar”. Majalah yang sama juga melaporkan: “Soenggoehpoen atoeran itoe menjoesahkan sedikit bagi kita, tetap sangat besar faedahnja dengan maksoed mendjaga, soepaja djangan sampai menoelar penjakit iteo kemari.”

Baca juga :  Menteri Agama Imbau Masyarakat Berlebaran di Rumah Saja dan Silaturahmi Virtual

Pada edisi berikutnya, majalah yang sama melaporkan kalau di Betawi penyakit ini sudah berkurang, “tiada berbahaja lagi penjakit kolera, (mudah2an boeat selamanja).” Namun, sekalipun di Betawi pengakit ini telah berkurang, dan tidak berapa lama lagi aturan karantina boleh diharap akan dicabut, tetapi di Teluk Bayur, “tiap-tiap orang masih ditahan [dikarantina]”. Hanya mereka yang telah divaksin yang tidak masuk karantina. Siapa saja yang mempunyai surat keterangan dokter yang menerangkan tidak lebih dari enam bulan yang lalu dan tidak kurang dari lima hari yang sudah, telah disuntik kolera, maka ia tidak “ditahan karantene.” Surat itu haruslah ada “tjap djedjak iboe djarinya (djempolnja)”.

Kata laporan pada edisi yang lain, penyakit itu amat berbahaya, “jang dihinggapinja, djarang jang semboeh.”  Penyakit ini juga “banjak bertjabul di Mekah”. Bisa jadi karena Mekah menjadi pusat jemaah haji dari segala penjuru dunia, termasuk dari daerah-daerah episenstrumnya seperti Jawa dan Sumatra. Maka mereka yang hendak pergi ke tanah suci, “haroeslah disoentik dahoeloe melawan Cholera!”

Pada masa itu, vaksin kolera telah ditemukan. Jika telah disuntik vaksin, tidak akan mudah lagi terjangkit, kalaupun kena juga tidak lagi berbahaya. Suntikan tidak boleh dilakukan sembarangan, harus oleh Dokter Gubernemen. “Disoentik itoe ta’ sedikit djoega sakit. Boleh djadi sehari doea badan koerang enak sedikit, lain tidak. Diroemah-romah sakit (polikliniek) dapat disoentik dengan tidak oesah membajar,” demikian dilaporkan majalah yang sesungguhnya lebih banyak berisi “chabar ringkas dan pemberian tahoe tentangan harga barang2 Alama Minangkabau” itu.

***

Barangkali sejak vaksin ditemukan dan vaksinasi telah massif dilakukan, kolera tidak lagi begitu ‘menyusahkan’ di masa-masa kemudian.

Mungkin wabah hanya siklus yang akan segera berlalu sebagaimana telah berlalunya banyak wabah lainnya sepanjang sejarah. Barangkali ia serupa aie gadang saja, yang akan datang secara berkala, mengubah tepian tempat mandi—menghanyutkan rumah dan sawah kita, bahkan kampung dan kota—lalu pergi dan hilang.

Selama lebih-kurang satu abad orang-orang di Hindia Belanda umumnya, dan di Sumatra Barat khususnya, telah menanggungkan amuknya beberapakali. Ia memang hanya sekali-sekali datang, masanya pun tidak lama, rata-rata hanya dalam hitungan bulan sudah lenyap-hapus. Tetapi sekali ia hadir, mau tidak mau orang-orang dibuatnya galesoh-pesoh dan lintang-pukang. Pantas jika penyakit ini bertransformasi menjadi semacam kata umpatan: Cholera, oh Kaleraaa!

“Sitokar kalera tumah, dicampakkannyo sajo barang awak ka bawah!” (*)

[Deddy Arsya, dosen sejarah di IAIN Bukittinggi]