Oleh: Zulprianto

 

Merebaknya ‘realitas’ Covid-19 ini juga diikuti oleh masuknya istilah-istilah dari Bahasa Inggris dalam berbagai teks yang kita baca.

 

Covid-19 mewabah di seluruh penjuru negeri. Wabah ini tak pelak mengganggu perekonomian dan memaksa kita mengubah gaya dan intensitas interaksi sosial. Tak berlebihan jika ada yang bilang bahwa virus Corona ini tidak hanya meregang nyawa manusia, tetapi juga merenggangkan jarak kemanusiaan. Virus ini menyerang sifat manusia sebagai makhluk sosial, yaitu kemauan dan kemampuan bekerja sama untuk mengembangkan peradaban dan kebudayaan. Sifat sosial ini merupakan fitur pembeda manusia dari makhluk lain. Atas alasan ini, wabah Corona kini pun pasti berdampak pada penurunan produktivitas kita dalam banyak hal.

Merebaknya ‘realitas’ Covid-19 ini juga diikuti oleh masuknya istilah-istilah dari Bahasa Inggris dalam berbagai teks yang kita baca. Istilah-istilah tersebut termasuk hand sanitiser, lockdown, social distancing, physical distancing, work from home, untuk menyebut beberapa di antaranya. Penggunaan atau penyebaran istilah-istilah tersebut tidak perlu mengejutkan mengingat bahasa bertugas untuk memaknai realitas secara simbolik. Importasi properti linguistik demikian tentu saja tidak hanya terjadi ke dalam Bahasa Indonesia, tetapi juga ke dalam bahasa lain.

Di media sosial, kita dibuat tersenyum dengan gambar-gambar dan ungkapan terkait wabah Covid-19. Misalnya, dalam satu gambar tertulis hand stabiliser, bukan hand sanitiser. Kedua istilah tersebut memiliki arti, tetapi, berdasarkan konteksnya, hand sanitiser pastilah istilah yang dituju. Contoh yang lain menggambarkan penduduk suatu kampung menutup gerbang kampung mereka. Di portal gerbangnya tertulis lockdon’t, bukan lockdown. Keduanya terdengar mirip, tetapi berbeda arti. Lebih tegasnya, berbeda dari contoh yang pertama, lockdon’t tidak berarti sama sekali dalam Bahasa Inggris. Oleh karena itu, merujuk lagi ke konteks, kata yang dimaksud tentulah lockdown.

Kita berharap meme-meme tersebut sengaja diciptakan untuk kepentingan komedi, untuk menghibur kita yang sedang dirundung dan dikurung wabah Corona. Akan tetapi, jika meme-meme tersebut dimaksudkan dalam konteks yang serius, mereka dapat menunjukkan rendahnya literasi kita, khususnya literasi terkait Bahasa Inggris. Jika demikian, meme-meme itu lebih mencerminkan tragedi daripada komedi: tragedi literasi. Oleh sebab itu, mungkin akan lebih bijaksana kalau kita menggunkan istilah-istilah Bahasa Indonesian atau Bahasa daerah.

Baca juga :  Mahyeldi : Pandemi Membawa Hikmah Beragam Bagi Dunia Pendidikan

Menarik untuk merenungkan kenapa istilah-istilah asing tersebut digunakan secara luas. Pastinya, ada banyak alasan kenapa ungkapan seperti hand stabiliser dan lockdon’t itu kita gunakan, terlepas dari salah benarnya. Di antaranya, penulisnya mencoba menitipkan gengsi sosial melalui pilihan bahasanya, dalam hal ini, Bahasa Inggris. Bahasa Inggris, saat ini, merupakan bahasa superior dan penggunanya berharap terimbas kesan superior ketika menggunakan properti bahasa dimaksud. Penelitian menunjukkan ungkapan dari Bahasa Inggris tidak hanya digunakan dalam teks-teks terjemahan, tetapi juga dalam teks-teks asli Bahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia. Menariknya, kecenderungan demikian semakin meningkat. Banyak buku yang isinya berbahasa Indonesia, tetapi diberi judul yang tertulis di sampulnya berbahasa Inggris. Kita dapat membuktikan ini dengan mudah ketika kita berkunjung ke toko-toko buku utama.

Alasan lain terkait dengan kelalaian linguistik. Kita mungkin tidak merasa perlu memberikan terjemahan yang tepat untuk ungkapan-ungkapan asing tersebut. Hal ini sangat disayangkan mengingat penggunaan istilah-istilah asing tersebut beresiko mengurangi ketersampaian informasi yang hendak disampaikan. Tidak heran jika banyak pihak yang mengkritik pemerintah karena menggunakan istilah-istilah asing terkait Covid-19 tersebut.

Menariknya, kritik tidak hanya terjadi terhadap istilah-istilah terkait Covid-19 di dalam konteks bahasa target seperti Bahasa Indonesia, tetapi juga dalam konteks bahasa aslinya, yaitu Bahasa Inggris. Saya ingin membahas dua istilah, yaitu social distancing dan work from home. Kedua istilah ini menuai kontroversi karena makna referensial dan makna emotif yang terkadung dalam kata, masing-masing, social dan home. Jika makna referensial terkait dengan relasi antara kata dan realitas (dan dapat dibuktikan sebagai benar atau salah), makna emotif terkait dengan perasaan atau emosi (dan tidak dapat dibuktikan sebagai benar atau salah). Jika makna referensial bersifat objektif, emotif bersifat subyektif.

Kita bahas dulu kontroversi istilah populer social distancing. Sebagian orang berpendapat bahwa istilah ini tidak tepat mewakili realitas yang hendak disampaikan. Pakar linguistik tersohor berkebangsaan Britania Raya, Profesor David Crystal, misalnya, menanggapi kontroversi ini dalam akun Twitternya. Baginya, social distancing sepenuhnya merupakan istilah yang salah. Sebagai gantinya, ia menyarankan istilah physical distancing karena, lanjutnya lagi, dalam masa wabah virus Corona seperti ini, kita perlu meningkatkan kedekatan sosial (social solidarity), bukan malah menjauhi satu sama lain (social distancing). Kita tentu sepakat untuk membenarkan pendapat Profesor David Crystal.

Baca juga :  Gubernur Sumbar Berupaya Selesaikan Persoalan "Pitih Sanang" PAP PLTA Koto Panjang

Kenyataannya, sebuah artikel yang terdapat dalam sebuah blog yang berafiliasi dengan Oxford English Dictionary (OED) juga senada dengan Profesor David Crystal. Menurut artikel itu, istilah social distancing pertama kali digunakan pada tahun 1957, aslinya merujuk pada sikap yang disengaja untuk menjauhkan diri dari orang lain secara sosial, bukan fisikal. Dalam konteks ini, social distancing merupakan sikap individu yang berkonotasi negatif. Dalam konteks wabah Covid-19, pesan yang hendak disampaikan adalah menjauhi sesama secara fisik demi mencegah diri menularkan atau tertular Covid-19. Sebaliknya, secara sosial, kita perlu mendekatkan diri dengan orang lain. Sesungguhnya, physical distancing merupakan bentuk upaya melindungi orang lain dan bentuk tanggung jawab sosial. Ungkapan ‘Jauh di mata (fisikal/lahir) dekat di hati (emosi/batin)’ tepat sekali menggambarkan situasi yang diharapkan dari setiap kita saat ini.

Di sisi lain, kita bisa memaklumi bahwa orang yang menggunakan istilah social distancing tidak bermaksud mengajak anggota masyarakat untuk menjadi ‘anti-sosial’, melainkan sekedar menjaga jarak jasmaniah antar sesama untuk sementara dan, pada saat yang sama, tetap mempertahankan sifat sosial selamanya. Dalam hal ini, kita bisa mengatakan istilah (bentuk) yang dipakai dan maksud (meaning) tidak sejalan. Sumber kontroversi dari penggunaan istilah social vs. physical terkait dengan cakupan makna referensial yang mereka kandung.

Sejauh ini, istilah social distancing tampaknya lebih populer daripada physical distancing. Menurut hemat saya, di samping disparitas bentuk dan makna di atas, keberterimaan istilah ini dikarenakan oleh makna kolektif yang dikandung oleh kata social dalam frase social distancing. Dengan menganjurkan social distancing, pemerintah, misalnya, dapat mengajak anggota masyarakat secara kolektif atau keseluruhan. Sebaliknya, istilah physical distancing mengimplikasikan penjagaan jarak setingkat individual, minus pesan bahwa penjagaan jarak yang dimaksud harus dilakukan dalam skala besar (sosial). Jalan pintas yang bisa kita tempuh untuk mengatasi kebingungan linguistik ini dapat dilakukakan dengan memberikan makna baru pada istilah social distancing: istilah ini tidak lagi menggambarkan sikap anti-sosial sebagaimana makna aslinya, melainkan harus dipahami sebagai menjaga jarak fisikal dalam skala sosial. Solusi ini tentu saja tidak akan memuaskan semua pihak, apalagi para pakar linguistik, seperti halnya keberatan yang disampaikan Profesor David Crystal. Bagaimana dengan penggunaan istilah social distancing dalam Bahasa Indonesia? Menurut saya, karena kita mengimpor istilah social distancing ini bulat-bulat ke dalam Bahasa Indonesia, kita juga dengan sendirinya mengimpor kontroversi semantik yang dikandungnya, sadar atau tidak sadar.

Baca juga :  Semakin Lama PSBB Semakin Terpuruk Ekonomi

Selanjutnya, penggunaan kata home dalam ungkapan work from home juga tidak luput dari kontroversi. Pasalnya, home memiliki makna emotif yang beragam bagi orang yang berbeda. Secara khusus, home bermakna emotif yang positif, tenteram, aman, nyaman, damai, dan sebagainya. Barangkali, itulah sebabnya ungkapan yang muncul dalam Bahasa Inggris adalah I am going home, bukan *I am going house. Ungkapan yang pertama menyiratkan kenyamanan atau kedamaian setelah berjibaku dengan pekerjaan di luar rumah. Kata home dan house merupakan dua kata yang bersinonim. Akan tetapi, sinonim tersebut hanya terjadi pada makna referensial, bukan emosional.

Persoalan dengan walk from home adalah setiap orang memiliki ‘rumah’ yang berbeda. Istilah work from home (kerja dari rumah) hanya terdengar nyaman dan damai bagi mereka yang biasanya memiliki rumah besar yang memiliki ruang kerja, komputer, pustaka, akses internet, dan fasilitas lain. Bagi yang tinggal di rumah kontrakan sempit atau kos-kosan dengan fasilitas terbatas dan ‘serbaguna’, work from home jauh dari kesan nyaman dan damai. Untungnya, kata ‘rumah’ dalam Bahasa Indonesia tidak atau belum memiliki dualisme makna ini dan, dengan demikian, terbebas dari kontroversi semantik dimaksud. Sayangnya, sebagian kita lebih bangga mengatakan work from home daripada kerja dari rumah. (*)

Penulis adalah Dosen di Prodi Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Andalas dan saat ini sedang kuliah S3 di School of Humanities and Social Sciences Deakin University, Melbourne