Padang, inioke.com–Diduga ditelantarkan oleh pihak RSUP M Djamil, seorang bayi asal Pariaman meninggal pada Kamis (29/4) lalu. Keluarga tidak terima bayinya meninggal akibat kelalaian rumah sakit. Namun, pihak RSUP M Djamil justru mempermasalahkan lemahnya sistem rujukan dari rumah sakit jejaring ke rumah sakit pusat.

Meninggalnya bayi usia 1 bulan tersebut menjadi viral lantaran pihak keluarga menganggap bahwa kematian bayi itu akibat ditelantarkan oleh pihak rumah sakit tersebut.

Orang tua bayi, Rydha yang merupakan orang tua dari bayi tersebut mengatakan, pihaknya akan menuntut pihak RSUP M Djamil Padang.

“Kami sebagai keluarga tidak terima perlakuan pihak rumah sakit M Djamil Padang. Kami merasa, anak kami telah ditelantarkan, tidak ditanggapi dengan cepat, sehingga dia meninggal,” ungkap Rydha pada klikpositif, jaringan inioke.com, Minggu (3/5).

Rydha menceritakan, bayinya bernama Isyana Putri Aisyah itu, sebelum di rujuk ke RSUP M Djamil Padang telah dirawat di IGD RS Aisiyah Pariaman. Karena peralatan medis yang tidak lengkap, RS Aisyah merujuk bayi tersebut ke RSUP M Djamil.

Baca juga :  Pemprov Sumbar Susun Naskah Akademik Perda Tatanan Baru Berbasis Kearifan Lokal

“Namun sampainya di sana anak kami ditangani seperti pasien layaknya COVID-19,” sebut Rydha.

Padahal, lanjutnya, sebelum dia mendapatkan surat rujukan, pihak rumah sakit Aisiyah telah memeriksa bayinya terkait gejala COVID-19. Hasilnya bayinya tidak terindikasi COVID-19.

“Sekitar pukul lima sore anak kami meninggal,” sebut Rydha.

Terkait peristiwa itu, Direktur RS Aisyiah, Syahrul Adhly, menyampaikan, bayi itu telah diperiksa di IGD dan telah diinfus. Bayi itu harus dirujuk ke Padang lantaran diagnosa ada penyumbatan paru-paru.

“Selain itu, kenapa kami sarankan ke Padang, karena pasien telah kami periksa juga terkait indikasi COVID-19, hasilnya negatif,” ungkap Syahrul.

Permasalahkan sistem rujukan

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Padang, Yusirwan Yusuf, mengklarifikasi persoalan meninggalnya bayi yang disebut-sebut ditelantarkan pihak rumah sakit tersebut.  Yusirwan mengakui, masih ada kekurangan dalam aspek pelayanan, yang mana keluarga pasien merasa kurang puas atas yang dilaksanakan.

“Namun, sebetulnya kalau kita melihat kronologis dari kejadian ini, ada beberapa permasalahan yang kita tarik, masih lemahnya sistem rujukan dari rumah sakit jejaring dengan rumah sakit pusat,” ujarnya, Minggu (3/5).

Baca juga :  Sumbar Ingin Jadi Pilot Project Sistim Daring di Indonesia

Ia mengungkapkan, telah ada kesepakatan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Sumbar dan Dinas Kesehatan, bahwa bila ada pasien terduga COVID-19 yang ingin dikirim ke RSUP M Djamil, harus diberikan data pendahuluan, pemeriksaan laboratorium dan rontgen foto torak.

“Ada beberapa persyaratan yang dikirim ke rumah sakit, dan itu harus dikontak dulu M Djamil supaya bisa mempersiapkan kondisi-kondisi emergency pada pasien tersebut. Pada kenyataannya, pasien tidak dibekali data-data yang lengkap tadi,” sambungnya.

Yusirwan melanjutkan, sampai di M Djamil, karena pasien sesak napas, untuk gejala utama pada screening, pasien itu terimbas COVID-19.

“Karena pada wabah ini, ada beberapa keluhan gejala klinis yang memang menjadi dasar utama kita memilah pasien, karena kita sama tahu penyakit pandemi ini menular, perlu perlakuan khusus pada pasien ini,” tuturnya.

Dari hasil rontgen foto torak, ada bronco pneumonia dan akan diambil swab, swab untuk memastikan melalui PCR, apakah positif atau negatif COVID-19.

“Keluarga pasien menolak. Sehingga ujung-ujungnya terjadi seakan-akan terbengkalai pelayanan, ini karena terjadi miskomunikasi sehingga berakibat kejadian ini,” ujarnya.

Baca juga :  Santri Tanpa Pesantren: Penganut Mazhab "Googleiyah"

Yusirwan menegaskan,pihak RSUP Dr M Djamil, tetap akan memberikan upaya-upaya perbaikan di internal, juga kedepan ini akan memberlakukan disaster plan, agar kasus yang berat ini tidak terulang lagi dengan respon time yang terlambat.

“Siapapun pasien yang masuk ke emergency, sesak atau tidak sesak, kita sudah tata laksana cara pasien COVID-19. Kita berharap dengan kondisi kedepannya, ini akan menjadikan RS M Djamil ini respon time kita makin cepat, terutama dengan pasien commorbite yang berat,” pungkasnya. (gyn)