Pengembala dan pemerintah menyebutkan kambing yang menghasilkan wool kasmir terusir dari padang rumput di area sensitif yang dipersengketakan India dan Tiongkok.

Wool dari kambing Pashimna yang diternakan oleh pengembara di daerah pegunungan di Ladakh (India), adalah kashmir termahal di dunia. Kasmir wool atau lebih dikenal dengan kashmir yang diperoleh dari kambing kasmir, kambing pashmina telah dipakai untuk membuat tekstil dan pakaian selama beberapa ratus tahun.

Dilansir dari Bangkok Post, kambing-kambing itu menghasilakn sekitar 50 ton kasmir terbaik dan termahal setiap tahun, mendukung industri kerajinan vital di Kashmir yang menyerapk ribuan orang. sebagian besar wol dirajut menjadi benang dan selendang indah dan dijual di seluruh dunia dari tokok mewah Harrods di London hingga Dubai Mall di Uni Emirat Arab dengan harga mencapai 800 dollar untuk satu syal.

Terdapat lebih dari 1.000 keluarga pengembala nomaden di dataran tinggi Changtang yang luasnya mencapai 5.000 meter persegi. Di daerah itu, terdapat sekitar 300.000 Kambing Pashmina, Yak (Sapi yang biasa ditemukan di Tibet) dan kuda sepanjang musim panas. Mereka bergerak ke dataran rendah untuk merumput selama musim dingin dari Desember sampai Februari dengan temperatur sampai minus 50 derjat celsius.

Baca juga :  Jalan berliku Tol Padang Pariaman-Pekanbaru

Dalam beberapa bulan terakhir ketegangan di wilayah itu meningkat. Ada beberapa bentrokan yang terjadi antara tentara India dan Tiongkok. Yang terbaru, kedua negara bertetangga itu memusatkan tentaranya di Ladakh.

Binatang itu terpaksa harus keluar dari daerah tempat mereka biasa merumput karena perselihan India dan Tiongkok, menyebabkan kematian ribuan hewan itu pada tahun ini kata penduduk dan pejebat setempat kepada South China Morning Post.

Lusinan pengembala dengan ternaknya sampai beberapa tahun lalu bisa menyeberangi Sungai Indus yang membeku untuk mencapai daerah untuk merumput, area yang sekarang diklaim oleh Tiongkok tulis Al Jazeera.

Dilansir dari Al Jazeera, Tsering juga mengatakan bahwa tentara India menghalangi hewan itu untuk memasuki wilayah yang sensitif, sementara para pengembala menyebutkan bahwa tentara Tiongkok mendorong pengembala dari Tibet untuk memasuki wilayah mereka.

Jumlah kematian yang tinggi, bisa menghasilkan bencana bagi sektor ini kedepannya. Dunia akan kekurangna wool kasmir yang berharga karena kambing Pashmina hidup di “atap dunia” itu terperangkap dalam perbatasan yang dipersengkatakan antara India dan Tiongkok.

Baca juga :  60 atlet biliar Sumbar ikuti 9-Ball Home Tournament Limapuluh Kota

“Kita akan menyaksikan penurunan produksi yang signifikan,” kata Sonam Tsering dari All Changtang Pashmina Grower Cooperative Marketing Society kepada AFP.

“Sekarang adalah musim berkembang biak. Sekitar 85% dari bayi-bayi yang baru lahir mati tahun ini karena sejumlah pengembala terusir dari area merumput (pada Februari),” katanya kepada AFP.

Ketegangan militer menjadi pukulan lain bagi para pengembala setelah berhadapan dengan musim dingin dan musim panas yang keras. Beberapa dari mereka telah meninggalkan cara hidup seperti ini dan pindah ke kota-kota seperti Ladakh untuk mencari sumber penghasilan baru. (patra)