Ade Kurniawan limbung. Sudah terbayang olehnya hidup di kampung membesarkan anaknya baru berusia 48 hari. Tapi bayangan itu lenyap, saat petugas Bandara H Asan Sampit menyatakan ia bersama anak dan mertuanya tidak bisa berangkat karena suhu tubuh anaknya melebihi 37 derajat celsius.

Ia menolak pembatalan keberangkatan itu, karena surat hasil rapid test bersama anak dan mertuanya menunjukkan hasil negatif. Namun, sesuai protokol penerbangan, suhu tubuh diatas 37 derajat celsius tidak diizinkan berangkat.

“Saya niatnya ingin pulang kampung dari Sampit bersama anak dan mertua, kemarin jam empat sore. Saya sudah resign di sini. Tapi, sewaktu di bandara, ada pengecekan suhu tubuh. Ternyata suhu tubuh anak saya tinggi, 38,3 derajat celsius. Kami tidak diizinkan berangkat,” ujarnya, Sabtu (13/6).

Petugas bandara menghubungi Gugus Tugas setempat untuk penanganan lebih lanjut anak Ade tersebut. Setelah konsultasi dengan dokter anak di rumah sakit, diputuskan bahwa sang anak harus isolasi mandiri.

“Tiba di rumah sakit, langsung isolasi. Dia diisolasi mulai jam enam malam kemarin. Pada malam kemarin, anak saya juga sudah dilakukan tes swab oleh petugas medis. Sedang mertua berada di rumah sakit untuk mendampingi anak di kamar isolasi,” jelasnya.

Baca juga :  BMKG : Gempa Dini Hari Tadi Akibat Aktivitas Sesar Sianok

Ade, seorang perantau Minang asal Jorong Tanjuang Simantupang, Nagari Situjuah Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota. Ia merantau ke Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, bekerja sebagai karyawan perusahaan perkebunan sawit.

Istrinya baru saja meninggal dunia pada pertengahan Mei lalu. Sang istri merupakan warga Limapuluh Kota dan dimakam di sana. Sementara saat ini sang anak sedang menjalani isolasi mandiri dengan ditemani mertua di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit.

Pria berusia 30 tahun itu telah berhenti dari pekerjaannya karena ingin pulang kampung memulauli kehidupan baru.

“Saya ingin membawa anak dan mertua pulang kampung. Saya berhenti karena ingin pulang habis. Anak dan mertua kan ndak mungkin pulang kampung berdua. Jadi, saya pulang kampung bersama mereka. Saya sudah membuat surat resign pada 6 juni kemarin. Saya ingin mendampingi anak di kampung,” tuturnya.

Sekarang, anaknya yang harus diisolasi di rumah sakit. Sementara, istrinya meninggal pertengahan Mei lalu. Beberapa hari setelah melahirkan, istrinya harus diisolasi di rumah sakit RSUD Dr Doris Sylvanus Palangkaraya karena gagal fungsi paru-paru. Setelah hampir setengah bulan di rumah sakit, istrinya pun berpulang.

Baca juga :  Covid 19 dan Horor Kelas Miskin

Meski begitu berat cobaan yang menderanya, ia berusaha tetap tegar. Pihak maskapai telah mengembalikan uang pembelian tiket penerbangannya. Ia akan menggunakan uang tersebut untuk biaya sehari-hari selama anak dan mertuanya berada di rumah sakit. Menurutnya, hasil pemeriksaan swab anaknya akan keluar 15-20 hari lagi. Sementara, mereka tidak memiliki kerabat di rantau.

Jika uang tersebut habis, dan anaknya nanti sudah diperbolehkan keluar karena sehat, Ade mengaku tidak tahu harus berbuat apa.

“Di sini, kami tidak ada siapa-siapa. Kalau habis pitih, dan kalau anak sudah keluar dari rumah sakit (karena dinyatakan sehat), saya tidak tahu kelanjutannya bagaimana,” terangnya.

Membayangkan kondisinya ke depan, Ade mohon doa masyarakat Sumbar untuk kesembuhan anaknya. Serta berharap ada bantuan nantinya untuk proses pemulangan ke kampung bersama anak dan mertua.

“Saya berharap ada pihak yang membantu proses kepulangan kami,” sebutnya.

Ade pernah sekolah Pondok Pesantren Almakmur Tungkar. Ketua alumninya, Dodi Mardianto Datuk Katumanggungan, yang mendapat informasi tentang Ade pertama kali, turut memohon uluran tangan bersama untuk membantu.

Baca juga :  7480 Mahasiswa KKN UNP Dilepas Mendes PDTT secara Virtual

“Saya berkomunikasi dengannya tadi malam. Kebetulan saya ketua alumni di pondok pesantren itu. Dia memang butuh bantuan. Kebetulan, teman-teman alumni pesantren tidak ada yang berada di dekat posisinya,” terangnya, sembari memberikan nomor kontak yang bisa dihubungi untuk membantu. Dodi Mardianto 0813-7437-0173, dan Ade Kurniawan 0823-8346-2066. (ioc)