Tatap muka memang dibatasi tetapi komunikasi menggunakan gawai tetap berjalan seperti biasa sehingga saya tidak merasa disisihkan. Saya bisa tetap semangat.

Down, takut dan cemas. Itu yang dirasakan oleh dr Lila Yanwar, ketika mendengar dan melihat hasil tes swab. Ya, hasil tes tersebut menunjukkan kalau Lila positif COVID-19.

Kejadian itu sekitar 15 hari lalu. Saat Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan di Dinas Kesehatan Sumbar itu dinyatakan postif COVID-19. Sekarang, ia salah seorang diantara 6 orang yang sembuh dari wabah virus corona di Sumbar.

Lila memeriksakan diri saat baru pulang dari Jakarta. Ia baru saja menyelesaikan tugas mencari dan membeli alat pelindung diri (APD). Tugas ke Jakarta itu lantaran APD tersebut susah di dapat saat pandemi corona seperti sekarang.

“Sepulang dari Jakarta, saya merasa kurang enak badan dan berinisiatif untuk memeriksakan diri,” ceritanya.

Setelah dinyatakan positif, ia memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Hari-harinya selama isolasi dilalui di paviliun yang terpisah dari rumahnya. Ia bisa menerima kondisi demikian. Sebagai seorang dokter, ia paham benar, kalau mental juga berpengaruh terhadap kesembuhan pasien. Dari itu, ia tidak mau mentalnya drop, dan ia harus berusaha keras untuk bisa sembuh.

Baca juga :  Pernah Kontak dengan Pasien Positif COVID-19, Sembilan Orang dari Pasbar akan Tes Swab

Meski pun dalam kesendirian, Lila masih bisa berkomunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya melalui gawai. Menurutnya, menjalani hari-hari dalam karantina harus dikuatkan dengan dukungan moral dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.

“Tatap muka memang dibatasi tetapi komunikasi menggunakan gawai tetap berjalan seperti biasa sehingga saya tidak merasa disisihkan. Saya bisa tetap semangat,” katanya.

Dalam pengalamannya sebagai dokter, dukungan moral itu membuat pasien terhindar dari stres sehingga mampu membangun optimisme untuk sembuh. Begitu juga dalam menghadapi virus yang telah menjadi pandemi ini. Bahkan, mengurangi rasa bosan dan stres selama masa isolasi, Lila tetap mengerjakan tugas kantornya dari paviliun tersebut.

Sementara untuk memperkuat daya tahan tubuhnya, ia rajin mengonsumsi vitamin dan obat-obat alami, seperti rebusan daun sirih, jahe, kunyit, perasan jeruk, sankis, dan sebagainya. Serta, berjemur di sinar matahari pagi.

Perjuangan, tekad dan semangat Lila untuk sembuh membuah hasil. Setelah berkutat dalam aktivitas di masa-masa karantina selama 14, ia kembali dites swab untuk mengetahui perkembangan virus di tubuhnya. Hasil tes swab pertama hasil negatif. Artinya, virus ditubuhnya tidak berkembang dan mati sendiri oleh imun tubuhnya. Sampai akhirnya, tes swab kedua dilakukan, dan hasilnya negatif juga. Ia benar-benar dinyatakan sembuh.

Baca juga :  Keluar Masuk Sumbar Harus Miliki Surat Bebas Korona Berbasis RT-PCR

Sekarang, Lila sudah bisa menjalani hari-hari seperti biasa bersama orang-orang tercinta. Langkahnya untuk memeriksakan diri, kemudian menjalani karantina mandiri, serta perjuangan melawan semua efek psikologis dari virus dan masa-masa pengasingan itu, patut dijadikan contoh bagi pasien lain. Termasuk, mereka yang tidak memiliki gejala, namun dikonfirmasi positif.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, saat menghadirkan Lila dalam konferensi video, Jumat (10/4), mengapresiasi perjuangannya untuk sembuh. Ia bersyukur, jumlah pasien positif COVID-19 yang sembuh terus bertambah. Sebelumnya, ada empat orang yang dinyatakan sembuh, kemudian bertambah 2 pasien lagi, sehingga jumlahnya menjadi 6 orang.

“Kita berharap semua nanti bisa sembuh. Pengalaman dokter Lila bisa menjadi pedoman pula bagi pasien lain yang masih positif agar tidak stres. Tetap menjaga optimisme dan keinginan untuk sembuh,” katanya, didamping Juru Bicara COVID-19 Sumbar, Jasman Rizal. (GYN)