Libya, inioke.com–Dua pemerintahan bersaing untuk merebutkan Libya. Government of National Accord (GNA) yang berbasis di Tripoli dipimpin oleh Perdana Menteri Fayez al-Sarraj yang diakui PBB dan pemerintah di timur di negara itu yang berkoalisi dengan General Khalifa Haftar, yang memimpin Libyan National Army (LNA). LNA dibantu oleh Russia, Uni Emirat Arab dan Mesir.

Situasi di Libya menjadi panas setelah kajatuhan diktator Muammar Gaddafi pada 2011. Pemerintah selanjutnya gagal mengontrol negara itu. kekerasan semakin menngkat pada 2014, setelah sengketa pemilu dan negara itu terpecah menjadi dua pemerintahan, dengan al-Sarraj mengambil kontrol GNA pada 2016. Sementara itu, Haftar melancarkan serangan militer selama bertahun-tahun.

Al Jazeera melaprkan tentara GNA berhasil memasuki Tarhuna, benteng terakhir komandan Khalifa.. Jend. Haftar telah mengepung kota itu semenjak April 2019. Namun bantuan militer dari Turki membantu pasukan pemerintah untuk memukul mundur LNA sebut BBC.

 

Turki mulai menyediakan bantuan militer terhadap GNA pada November tahun lalu setelah menandatangani pakta kerja sama untuk wilayah demarkasi maritim, yang memberikan Ankara hak untuk mengeksplorasi Lautan Maditerania yang ditolak oleh Yunani dan beberapa negara lainnya sebut Al Jazeera.

Baca juga :  Warga Singapura Mengaku Mata-mata Tiongkok di Amerika Serikat

Turki menginginkan solusi politik secepatnya untuk menyelesaikan konflik di Libya —dengan atau tanpa kerja sama Haftar lapor Al Jazeera.

Sebuah sumber dari pasukan Haftar di timur Kota Benghazi menyebutkan mereka telah menarik pasukannya dari Tripoli, lapor Reuters. Kemajuan GNA diikuti laporan penarikan tentara bayaran Russia dari perusahaan Rusia Wagner Group yang bertempur untuk pihak Jend. Haftar. Namun laporan ini tidak pernah dibuktikan. Para Awal Mei, sebuah bocoran dari UN mnyebutkan ratusan tentara bayaran dari the Wagner Group, yang dijanlankan oleh Yevgeny Prigozhin, yang dikenal dekat dengan Presiden Putin, beroperasi di Rusia sebut BBC.

Bantuan dari Turki membantu GNA untuk merebut beberapa kemenangan dalam beberapa minggu terakhir. Tarhuna adalah posisi strategis untuk serangan ke ibukota yang akhirnya ditinggalkan pasukan Haftar. AL Jazeera melaporkan pada Kamis (4/6), GNA menyebutkan mereka telah merebut seluruh Tripolo dan mengalahkan serangan Haftar yang dilancarkan semenjak April tahun lalu.

Juru bicara kelompok Haftar menyebutkan penarikan pasukannya dari Tripoli sebagai langkah kemanusian untuk menghintadari pertumpahan lebih besar di Libya. Ratusan orang tewas dan 200.000 orang terusir dari rumah semenjak serangan Haftar.

Baca juga :  Pendataan BLT Selesai, Padang "Mambagi" dalam Pekan ini

Namun konflik masih jauh dari berakhir. LNA masih menguasai bagian timur dan sejumlah daerah di selartan Libya, dimana terdapat banyak ladang minyak. (patra)