Oleh: Deddy Arsya

 

Pada tahun 1824, seorang kolonial berkebangsaan Belanda melakukan tur. Kolonel Nahuijs, begitu namanya disebut, melintasi Sumatera bagian tengah, dari pinggir barat melintang hingga ke pesisir timur. Dari Bengkulu, Padang, menaiki dataran tinggi Minangkabau, mengilir-ilir ke Riau, lalu menyeberang ke Singapura dan Pulau Pinang.

Tiga tahun setelah tur itu, sebuah buku terbit di negeri Belanda. Brieven over Bencoolen, Padang, Het Rijk van Minangkabau, Rhiou, Singapoera en Poelo-Pinang, begitu judulnya, berisi catatan dan laporan perjalanan  sang kolonel.

Apa gambaran Nahuijs tentang Padang?

Kolonel Nahuijs yang mengunjungi Padang pada tahun 1824. Dia mencatatkan dalam catatannya bahwa Padang adalah sebuah kota kecil tidak penting di pesisir barat pada masa itu.

Padang adalah kota yang berantakan. Padang, dalam pandangan Eropanya, hanyalah sebuah tempat kecil hunian bangsa Eropa yang paling tidak berarti dan tidak teratur di antara hunian bangsa Eropa lainnya yang pernah dikunjunginya di Hindia. Nahuijs menulis: “… dan saya bisa mengatakannya kepada Anda bahwa saya belum pernah melihat tiga buah rumah yang terawat baik di seluruh Padang.”

Baca juga :  BLT Zaman Belanda di Padang, Ada Komisi untuk Orang Miskin

Sementara itu, kondisi rumah-rumah pribumi di Padang, kata Nahuijs lagi, hanya berupa rumah-rumah kecil yang terbuat dari bambu.

Pada kunjungannya itu, Nahuijs selanjutnya juga mencatatkan, bahwa di Padang sangat sedikit tukang kayu (de timmerlieden) dan tukang batu (metselaars). Sementara pemerintah Belanda harus segera membikin begitu banyak bangunan publik.

Di bawah pemerintahan Letnan Kolonel Raaff, kata Nahuijs, Padang membutuhkan banyak bangunan publik yang harus segera dibikin. Nahuijs mencatatkan kondisi bangunan publik di Padang sangat tidak memadai. Dia memberi contok kondisi penjara atau rumah tahanan. Rumah-penjara pemerintah di Padang sangat kecil (het gouvernements gevangan-huis zoo weinig)  untuk tempat menahan para penjahat, katanya. Akibatnya, ketika malam para penjahat harus dirantai sebagai jaminan agar tidak melarikan diri. Penjara ini juga harus dijaga oleh beberapa orang polisi—dijaga dengan ketat.

Di awal-awal kehadirannnya kembali di Padang sejak 1817, Belanda telah disibukkan oleh keikut-sertaannya dalam perang padri di pedalamam Minangkabau. Padang hampir-hampir terabaikan dan belum tersentuh perbaikan sejak diserahkan ke tangan Belanda kembali dari kekuasaan Inggris. Letnan Kolonel Raaff, penguasa Padang masa itu, dengan giat dan penuh ambisi tengah sibuk-sibuknya menggempur benteng-benteng padri di darek Minangkabau. Seluruh tenaga dikerahkan untuk menaklukan darek.

Baca juga :  Mengenal Kompleks Pendidikan Islam Surau Menara Solok Selatan

Dalam kondisi serupa itu, Nahuijs menilai, Kolonel Raaff nyaris tidak mampu memberikan perubahan yang berarti bagi wajah kota ini.(*)

 

Deddy Arsya, Dosen IAIN Bukittinggi