Oleh: Khairul Anwar

 

Covid-19 terus merangsek ke seluruh penjuru dunia, meluluhlantakan hampir semua pola hidup di belahan negara-negara. Mulai dari negara maju, berkembang dan miskin sekalipun, disibukan dengan penanganan virus yang semakin mengganas. Pola kehidupan sosial mulai berubah, sebut saja di beberapa negara maju. Negara yang iruk pikuk dengan kemajuannya, sekarang lenyap dan larut dalam kesunyian ditelan rasa takut akan corona.

Virus yang muncul pertama kali di Wuhan Cina, sekarang sudah hampair rata menyelimuti dan membuat rasa takut manusia di seluruh penjuru bumi. Ribuan, bahkan jutaan orang yang terpapar berjuang melawan keganasan virus mematikan ini. Ada yang pulih dan banyak yang meninggal.

Semua media di seluruh dunia bicara tentang murka corona. Semua berjibaku melawan untuk terhindar dari serangan virus ini. Semua tenaga, fikiran tertuju untuk mancari solusi agar terhindar dan berharap agar covid-19 segera berakhir.

Tidak hanya para medis yang berjuang melawan corona. Pemerintah juga disibukkan dengan nano virus ini. Tak kalah juga para ilmuwan, teknokrat dan para ahli, turun tangan dan menumpahkan semua daya pikir mereka untuk melawan corona. Ahli ekonomi, ahli hukum, politisi dan praktisi lain serius berpikir untuk menyusun langkah dan strategi membasmi covid-19.

Di samping itu, para ahli agama juga dibikin sibuk dengan mengkaji pola ibadah yang jelas berubah semenjak dihantam corona. Tidak sedikit silang pendapat bermunculan terkait pelaksanaan ibadah terutama bagi yeng memeluk agama Islam. Ada yang meyakini tetap beribadah seperti biasa karena tidak memahami mekanisme pelaksanaan ibadah ketika wabah melanda. Tidak sedikit juga yang mematuhi anjuran ulama dan pemerintah setelah dikeluarkannya peraturan dan fatwa.

Kepanikan semakin hari semakin tinggi, apalagi setelah membaca dan menyimak informasi di berbagai media tentang perkembangan corona. Disamping khawatir terpapar corona juga takut tentang kondisi ekonomi yang semakin sulit jika pandemi ini berlangsung lama.

Baca juga :  Menjadi Sehat untuk Diri Sendiri dan Orang Lain

Beberapa pola penanganan sudah dilakukan di berbagai negara, mulai dari pola lockdown, physical distancing, anjuran pakai masker dan cuci tangan, penyemprotan fasilitas umum untuk mengantisipasi penyebaran corona. Usaha dan upaya yang dilakukan ternyata tetap kalah cepat dengan semakin luasnya corona menyebar.

Corona sudah sampai ke desa-desa. Apakah melalui interaksi penduduknya dengan orang terpapar virus diluar desa ataupun terbawa (carrier) oleh orang-orang yang masuk ke desa tanpa gejala. Tidak sedikit penduduk desa yang terpapar covid-19 di Indonesia, sehingga desa-desa pun bergerak untuk mengantisipasi penyebaran corona di desa.

Regulasi negara terkait penanganan covid-19 sudah dileuarkan pemerintah, bahkan pandemi ini sudah dinyatakan peresiden  melalui Keputusuan Presiden nomor 12 tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Sebagai Bencana Nasional.

Di samping itu pada semua institusi negara termasuk kementerian juga mengeluarkan regulasi terkait penanganan, antisipasi penyebaran dan dampak covid-19. Sebut saja kementerian pendidikan dan kebudayaan, kementerian hukum dan HAM, kementerian keuangan, kementerian desa dan institusi kementerian lainnya.

Pada kementerian desa, sudah dilakukan perubahan regulasi terkait pelaksanaan kegiatan yang bersumber dari dana desa dengan tetap berpedoman pada protokol penanganan covid-19. Perubahan regulasi penggunaan dana desa sudah dilaksanakan hampir pada semua desa di Indonesia, seperti pelaksanaan kegiatan dengan mengutakan pola Padat Karya Tunai (PKT), pengadaan APD untuk relawan, penyemprotan disinfektan, persiapan ruang isolasi mandiri untuk yang terpapar ataupun antisipasi yang disiapkan untuk para pemudik dan bentuk pencegahan lainnya.

Arus mudik dari rantau merupakan hal yang mustahil untuk dibendung, sekalipun dilakukan pembatasan di beberapa provinsi tidak mengurangi tekad pemudik untuk pulang kampung termasuk pemudik yang menuju Sumatera khususnya Sumatera Barat. Para pemudik walaupun sudah diingatkan melalui imbauan kepala desa, kepala daerah bahkan gubernur, tetap saja ada yang nekad pulang karena alasan ekonomi disamping khawatir terpapar corona.

Baca juga :  Atasi Kendala Komunikasi dalam Tim Kerja Ketika WFH

Sampai hari ini sudah ribuan pemudik yang masuk ke Sumatera Barat dari perantauan. Mereka sebenarnya khawatir jika ada diantara mereka ada yang carrier corona virus yang akan berkibat buruk pada keluarga mereka dikampung halaman, tapi untuk tidak pulang sangat sulit bagi mereka karena tidak mampu bertahan lagi di rantau disebabkan tidak berpenghasilan, apakah akibat pemutusan hubungan kerja ataupun sebab lain yang membuat mereka harus mengambil jalan untuk pulang ke kampung halaman.

Kondisi di desa dan nagari tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami masyarakat perantauan, di samping kesulitan ekonomi mereka juga khawatir terapar corona, akan tetapi masyarakat desa tidak bisa menghindar dari kepulangan sanak keluarga mereka di perantauan.

Terkait kepulangan perantau, banyak renacana dan jalan yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan pemudik dari rantau. Diantara langkah untuk kepulangan masyarakat rantau adalah;

Pertama; mendata kemungkinan jumlah masyarakat yang akan pulang ke kampung halaman di semua desa dan nagari.

Kedua; menyiapkan ruang karantina mandiri di desa dan nagari, baik berupa rumah penduduk, gedung serba guna, gedung sekolah atau fasilitas lain yang dianggap bisa dijadikan ruang karantina mandiri.

Ketiga; menyiapkan ruang isolasi mandiri bagi masyarakat tempatan atau masyarakat rantau yang berstatus PDP atau kurang sehat dengan gejala covid-19.

Keempat; menghitung kebutuhan pangan untuk PDP dan perantau yang akan dikarantina selama 14 hari sesuai dengan protokoler penanganan covid-19.

Setelah empat langkah ini disusun, kita harus menghimpun kemampuan keuangan yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan di desa dan nagari. Dalam hal ini saya menawarkan, disamping bantuan pemerintah dan bantuan pihak lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat desa. Masyarakat desa diminta kembali pada kearifan lokal sesuai dengan kondisi desa dan nagari. Diantara langkah-langkah penguatan untuk kebutuhan penanganan covid-19 di desa dan nagari adalah dengan pola gotong royong.

Pertama; membebankan pada keluarga inti terkait semua kebutuhan selama dilaksanakannya karantina mandiri di desa dan nagari.

Baca juga :  Universal Basic Income

Kedua; jika pola ini tidak sanggup dilakukan oleh keluarga inti, maka kaum akan bertanggung jawab untuk menyelematkan anggota kaumnya.

Ketiga; Andaikan kaum juga kewalahan untuk kebutuhan dimaksud, maka suku akan mengambil peran penting untuk memenuhi kebutuhan selama karantina berjalan.

Keempat; Sekiranya suku tidak mampu untuk melanjutkan tanggungjawabnya, maka hal ini baru diambil alih oleh kampung ataupun desa dan nagari sebagai langkah akhir yang bisa dilakukan secara partisipatif kolektif dan bersama-sama oleh semuruh masyarakat nagari.

Di samping itu ungkap, lembaga-lembaga dan sumber bantuan perlu disinergikan untuk mengkaji dan menantisipasi kebutuhan di desa dan nagari supaya tidak tumpang tindih. Banyak lembaga dan kerukunan yang bisa dimanfaatkan untuk itu termasuk memaksimalkan fungsi Lembaga Amil Zakat dan Sedekah yang ada di desa, kecamatan ataupun daerah. Hal lain adalah, jika ada bantuan yang diserahkan pada masyarakat, baik dari pemerintah, pemerintah daerah ataupaun lembaga lain, diharapkan ada pengkajian terkait kebutuhan masyarakat. Jangan barikan bantuan yang sebenarnya mereka tidak membutuhkan sehingga penyerahan bantuan tidak efektif dan tidak tepat guna, seperti menyerahkan bantuan beras untuk masyarakat yang di desa mereka adalah penghasil beras, atau memberikan bantuan sayuran sementara mereka tidak kesulitan sayuran dan bentuk bantuan lain yang dinilai tidak tepat.

Langkah penting lainnya adalah, melaksanakan pola hidup sehat sesuai dengan protokoler penanganan covid-19, disamping usaha yang dilakukan di desa dan nagari, perbanyak berzikir dan berdoa, hindarkan perdebatan dan pebedaan termasuk soal pelaksanaan ibadah dengan mengikuti fatwa ulama dan peraturan pemerintah secara ketat, terencana dan seksama. Semoga dengan langkah tegas penanganan covid-19 di desa dan nagari dapat dilaksanakan dengan baik dan berharap pandemi segera berakhir ungkap konsultan pemberdayaan masyarakat kementerian desa PDTT itu mengakhiri pendapatnya.(*)

Koordinator PID KPW2 P3MD Provinsi Sumatera Barat