Oleh: Yvette Tan

 

Li Zhensheng mempertaruhkan hidupnya untuk mengabadikan Revolusi Kebudayaan Tiongkok.

Sebagai seorang fotografer yang bekerja untuk surat kabar pemerintah, Li Zhensheng memiliki kesempatan langka terhadap orang-orang dan berbagai tempat selama salah satu periode paling bergejolak pada abad ke-20 itu.

Ia berhasil mengambil sepuluh ribu foto, yang beberapa diantaranya pernah diterbitkan sedangkan lainnya tersimpan di kediamannya karena takut dihukum karena hal itu.

Apa yang tidak diketahuinya kemudian adalah beberapa dari foto itu akhirnya menemukan jalannya sendiri ke dunia luar.

Pria 79 tahun itu meninggal awal pekan ini akibat pendarahan otak di Amerika Serikat, sebut penerbit Hong Kong-nya, the Hong Kong University Press.

“Saya telah mengejar kesaksian dan merekam sejarah sepanjang hidup,” penerbit merekam perkataan Li sebelum ia meninggal. “Sekarang saya akan istirahat dalam sejarah.”

Red-Colour News Soldier

Lahir pada 1940 pada sebuah keluarga miskin di Provinsi Liaoning, Tiongkok, Li tumbuh dalam keadaan yang sulit. Ibunya meninggal saat ia berusia tiga tahun dan ia tumbuh dengan membantu ayahnya di sawah sampai berusia 10 tahun. Pada umur segitulah ia mulai bersekolah dan segera menjadi peringkat atas di kelas.

Baca juga :  Sambut Era Normal Baru, Pessel Buka Objek Wisata

Ia kemudian mendapat tempat di Changchun Film School dan akhirnya menjadi staf fotografer untuk harian Heilongjiang di Timur Laut Tiongkok.

Pekerjaan ini datang pada salah satu periode paling brutal dalam sejarah Tiongkok. Revolusi Kebudayaan dimulai pada 1966 ketika pemimpin Komunis Mao Zedong memulai kampanye untuk menghancurkan musuh-musuhnya.

Gubernur Provinsi Heilongjiang memangkas rambutnya setelah dituduh memanjangkannya seperti Ketua Mao (Li Zhensheng/Contact Press Image/Eyevine)

Mao memobilisasi ribuah pemuda Tiongkok untuk menghancurkan “empat hal lama” dalam kebudayaan Tiongkok –adat lama, kebiasaan lama, kebudayaan lama dan pemikiran lama.

Sekolah ditutup jadi para siswa dapat berkonsentrasi pada “revolusi” dan ketika gerakan itu menyebar, mereka mulai menyerang hampir semua hal dan semua orang yang mempertahankan kekuasaannya. Anak-anak kembali ke orang tua mereka dan para siswa kembali ke guru mereka, para intelektual diusir. Ribuan orang dibunuh dan dipaksa untuk bunuh diri.

Pekerjaan baru Li dengan posisi yang tidak biasa ini membuatnya bisa merekam kekerasan dan kebrutalan yang terjadi di sekitarnya. Li mencatat bahwa Penjaga Merah –pelajar militan, memiliki akses untuk memfoto apapun yang mereka inginkan, jadi ia memutuskan membuat sebuah emblem tangan bertuliskan “Red-Colour News Soldier”.

Baca juga :  Status Keadaan Darurat Bencana Nonalam COVID-19 sebagai Bencana Nasional Belum Berakhir

“Pekerjaan saya membuat saya bisa mengambil gambar orang-orang yang dipersekusi dan mendapat kekerasan,” katanya dalam sebuah wawancara terdahulu dengan BBC.

“Saya menyadari, era yang berguncang ini harus direkam. Saya tidak tahu pasti apakah melakukannya demi revolusi atau demi diri saya sendiri atau demi masa depan.”

Tetapi ia menyadari foto-foto yang sensitif itu dapat menjadikannya target, jadi ia menyembunyikan negatif film itu di kediamannya –jumlah foto-foto itu sekitar 20.000. Ketika akhirnya dituduh sebagai aktivis kontra-revolusi pada 1968,  pemerintah menggeledah kediamannya namun negatif film itu tetap aman tersembunyi. Jika mereka menemukannya, LI akan dihukum berat dan negatif film itu hampir pasti akan dihancurkan.

Foto-foto Li tetap aman tetapi dirinya tidak –ia bersama isterinya dihukum untuk menjalani kerja paksa selama dua tahun. Setelah dibebaskan, ia kembali ke kediaman lamanya dan menemukan negatif film itu tetap aman.

Para perenang tengah membaca “buku Kecil Merah” Mao (LI hensheng/Contact Press Image/Eyevine)

Li kemudian menjadi seorang profesor di sebuah universitas di Beijing dan pada pada 1980 –sebuah periode ketika Tiongkok mengalami sepotong kebebasan pers, hasil pekerjaannya itu ditampilkan dalam sebuah pameran fotografi di Beijing. Saat itulah gambar-gambarnya ditemukan oleh Robert Pledge dari Contact Press Image (CPI), yang kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku berjudul Red-Colour News Soldier.

Baca juga :  Gubernur Sumbar Bakal Usulkan Perda tentang Penerapan New Normal

“Kami bersyukur terhadap Li yang menanggung resiko untuk mengamankan gambar-gambar ini ketika kebanyakan koleganya setuju agar negatif film politis mereka dihancurkan,” kata Pledge.

Ia mengungkapkan Li menyimpan semua gambarnya dalam amplop kertas cokelat kecil. Pada setiap amplop Li menulis keterangan detail dalam kaligrafi Tiongkok halus. Komune dan desa, nama-nama orang, jabatan dan berbagai kejadian spesifik dicatat secara hati-hati.

Foto-fotonya telah dipamerkan di lusinan negara. Pada 2013, ia dianugerahi the Lucie Awar –sebanding Oscar dalam bidang fotografi. Pada 2018, foto-foto itu dicetak dengan teks Tiongkok untuk pertama kali dan diterbitkan di Hong Kong.

“Tidak ada seorang fotografer pun yang merekam revolusi (kebudayaan) sepenuhnya dan secara kompeten dibanding Li,” kata pernyataan Contact Image Press setelah kematiannya.

“Ia meninggalkan warisan fotografi yang tak ternilai. Ia akan sangat dirindukan.” (Patra/bbcnews)