Padang, inioke.com—Meningkatnya jumlah orang kena corona di Sumbar, karena masih banyak masyarakat yang menganggap pandemi virus berbahaya itu biasa saja. Hal ini disampaikan Tim pengawas COVID-19 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Lisda Hendarajoni.

Lisda mencontohkan di daerahnya, Pesisir Selatan. Menurutnya, masih banyak masyarakat di Pesisir Selatan yang menganggap COVID-19 ini biasa. Ia melihat, hari pertama pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masih banyak masyarakat yang belum menjalankan aturan ini.

“Mayarakat masih menganggap COVID-19 ini hal biasa dan masih jauh dari tempat tinggal mereka. Mereka masih menganggap itu kejadian yang terjadi di luar daerah. Padahal sudah masuk perbatasan, kalau di Pesisir Selatan sudah masuk Tarusan,” katanya saat melakukan konferensi video bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumbar, Rabu (22/4).

Melihat kenyataan seperti, istri Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, itu bersama Tim Penggerak PKK Pesisir Selatan terus melakukan sosialisasi PSBB kepada masyarakat.

“Perubahan sebelum dan sesudah PSBB tidak jauh berbeda untuk hari pertama pelaksanaannya karena anggapan PSBB yang biasa saja bagi masyarakat. Namun kita bersama pemerintah daerah terus mensosialisasaikan hal ini,” jelasnya.

Baca juga :  Gubernur Sumbar Surati Bupati dan Wali Kota untuk Umumkan Secara Terbuka Penerima Bansos

PSBB sudah mulai dilaksanakan di Sumbar hari ini. Namun dari sejumlah pantauan, pergerakan masyarakat masih seperti biasa. Dalam masa PSBB ini masyarakat harus berdiam di rumah, tidak boleh keluar kecuali untuk membeli makan atau sembako, berobat dan hal penting. Kalau terpaksa keluar rumah harus mengenakan masker.

PSBB juga membatasi gerak orang keluar masuk daerah menggunakan kendaraan. Kemudian, mengatur hal-hal yang berhubungan dengan keramaian, ibadah keagamaan, kegiatan pendidikan, budaya, dan seterusnya. (gyn)