Oleh : Bimbi Irawan

Peneliti pada RANCAK PUBLIK Rumah Kajian Perencanaan dan Kebijakan Publik

Masjid dalam kehidupan masyarakat Minangkabau tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja, tetapi juga memiliki fungsi dalam kehidupan sosial budaya. Salah satunya, masjid  menjadi syarat fisik sebuah wilayah dapat berstatus sebagai nagari sebagaimana disebut dalam mamangan adat “babalai bamusajik”. Setiap nagari setidaknya memiliki sebuah balai adat untuk menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan urusan adat, dan sebuah masjid tempat penyelesaian hal-hal yang terkait dengan masalah syariat.

Salah satu masjid yang terlihat jelas fungsi sosial budayanya dalam kehidupan banagari adalah Masjid Kurang Aso Anam Puluah. Masjid tua ini berada di Nagari Pasia Talang Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan. Nagari Pasia Talang dahulunya merupakan pusat Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu yang dipimpin oleh empat orang rajo atau Rajo Nan Barampek dan memiliki wilayah hingga ke Pasisia Banda Sapuluah yang saat ini menjadi bagian wilayah Kabupaten Pesisir Selatan.

Sebagai pusat Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, di Nagari Pasia Talang ini dapat dijumpai rumah gadang mulai dari rumah gadang yang berfungsi sebagai istano rajo maupun rumah gadang kaum dan suku. Sebagai pusat kerajaan dan pusat nagari Pasir Talang, selain rumah gadang, di pusat Nagari Pasir Talang juga terdapat sebuah balai-balai adat dan sebuah masjid tua yang bernama Masjid Kurang Aso Anam Puluah. Keberadaan balai-balai adat dan Masjid Kurang Aso Anam Puluah ini merupakan kelengkapan fisik sebuah wilayah boleh disebut menjadi nagari yakni babalai bamusajik. Dalam arti, sebuah daerah baru syah menjadi nagari kalau terdapat setidaknya sebuah balai adat tempat kerapatan bagi niniak mamak menyelesaikan masalah adat dan sebuah masjid tempat beribadah dan penyelesaian masalah-masalah terkait syariat. Kedua bangunan ini sekaligus menjadi simbol dari semboyan adat Minangkabau, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

Masjid Kurang Aso Anam Puluah dipercaya sebagai masjid tertua tidak hanya di Sungai Pagu tetapi juga di Kabupaten Solok Selatan. Tidak diketahui secara pasti kapan masjid ini bangun. Dalam penanggalan Hijiriah, ada yang mengatakan dibangun tahun 1088 H, 1025 H dan dalam tahun Masehi ada pula yang menyatakan dibangun pada tahun 1496 M dan 1592 M. Pembangunannya dipimpin oleh Syekh Maulana Sofi, penyiar Islam di Alam Surambi Sungai Pagu. Masjid dibangun dengan melibatkan segenap unsur adat di Nagari Pasir Talang terutama para penghulu /niniak mamak Nagari Pasir Talang yang berjumlah 59 orang.

Masjid Kurang Aso Anam Puluah penuh dengan simbol yang mencirikan kondisi sosial budaya masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu khususnya Nagari Pasir Talang. Simbol-simbol itu terlihat dari jumlah tiang, tingkatan atap, dan penggunaaan ruang masjid untuk alek nagari.

Masjid ini memiliki tiang sebanyak 59 buah yang dalam penuturan Bahasa Minangkabau disebut Kurang Aso Anam Puluah yang berarti kurang esa (satu) dari enam puluh. Masjid ini mendapatkan nama dari jumlah tiangnya yang berjumlah 59 tiang. Angka 59 ini melambangkan 59 penghulu pucuak di Nagari Pasir Talang.

Struktur adat di Nagari Pasir Talang terbagi dalam empat suku besar yang terdiri dari suku Malayu IV Nyinyiak, suku Panai Tigo Ibu, suku Tigo Lareh Nan Bakapanjangan, dan suku Kampai Nan XXIV. Suku Malayu IV Nyinyiak terbagi pula atas 4 suku yakni Malayu, Durian, Bariang, dan Koto Kaciak. Penghulu pucuak dalam suku Malayu IV Nyinyiak ini berjumah sebanyak 17 niniak mamak. Sedangkan Suku Tigo Lareh Nan Bakapanjangan yang terbagi atas 3 suku meliputi suku Jambak/Caniago, Sikumbang, dan Kutianyie memiliki 15 penghulu pucuak.

Suku berikutnya Panai Tigo Ibu terbagi pula atas 3 suku, Panai Tanjung, Panai Tangah, dan Panai Lundang dan terdapat 3 penghulu pucuak di suku ini. Suku Kampai Nan XXIV terbagi pula atas 4 suku, Kampai Sawah Laweh, Kampai Aie Angek, Kampai Tangah Niur Gadiang, dan Kampai Bendang. Sesuai dengan namanya terdapat 24 penghulu pucuak di dalam suku Kampai ini.

Dalam suku Malayu terdapat 17 penghulu pucuak, suku Tigo Lareh 15, suku Panai 3, dan suku Kampai 24, sehingga kalau dijumlahkan berjumlah 59 penghulu pucuak di Nagari Pasir Talang. Dengan demikian tiang dalam masjid ini melambangkan jumlah niniak mamak atau penghulu pucuak di Nagari Pasir Talang.

Angka 59 ini juga melambangkan jumlah nenek moyang masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu yang turun dari Pagaruyung ke Alam Surambi Sungai Pagu. Jumlah nenek moyang ini kemudian dilanjutkan dengan membentuk 59 penghulu pucuak dalam struktur adat Nagari Pasir Talang.

Dari 59 buah tiang di masjid ini, tiang terbesar berada di bagian tengah yang disebut dengan Tiang Macu. Tiang terbesar sekaligus tertinggi ini berukuran satu dekapan orang dewasa. Konon, ada keyakinan bahwa barang siapa yang dapat mendekap tiang macu ini sampai mempertemukan kedua tangannya, dipercaya niatnya akan terkabul.

Entah disengaja atau tidak, tiang-tiang di bagian tengah masjid termasuk tiang macu  berjumlah 25 tiang. Angka 25 ini tentunya melambangkan jumlah Rasul yang wajib dipercaya yang berjumlah 25 orang Rasul, dan Tiang Macu yang besar dibandingkan tiang lainnya melambangkan bahwa Rasul terakhir, Nabi Muhammad SAW merupakan yang tertinggi di antara para Rasul lainnya, Penghulu Para Nabi.

Gambar Susunan Tiang Masjid Kurang Aso Anampuluah

Kalau jumlah tiang melambangkan jumlah penghulu pucuak Nagari Pasir Talang dan jumlah nenek moyang yang turun dari Pagaruyung, maka jumlah tingkatan atap masjid juga melambangkan simbol dalam masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu. Masjid Kurang Aso Anam Puluah berbentuk pundan berundak, dengan empat tingkatan. Tingkatan atap ini melambangkan empat rajo di Alam Surambi Sungai Pagu sekaligus melambangkan bano kaampek suku di Nagari Pasir Talang.

Suku Malayu Ampek Nyinyiak dipimpin oleh Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sutan Besar Tuanku Rajo Disambah, yang berfungsi sebagai Rajo Alam. Suku Tigo Lareh Nan Bakapanjangan dipimpin pula oleh seorang rajo bergelar Tuanku Rajo Malenggang. Rajo di suku Tigo Lareh ini berperan sebagai panglima yang memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu. Suku berikutnya Panai Tigo Ibu yang dipimpin oleh Tuanku Rajo Batuah, rajo yang memiliki fungsi sebagai Rajo Ibadat, yang mengurusi urusan keagamaan. Dan rajo dalam suku Kampai bergelar Tuanku Rajo Bagindo yang berfungsi sebagai Rajo Adat di Alam Surambi Sungai Pagu.

Ada juga yang mengatakan bahwa yang melambangkan Rajo Nan Barampek itu ada pada bagian kubah yang terletak paling atas, di atas tiga undakan atap. Puncak kubah ini diletakkan di bagian atas ujung tonggak Macu yang melambangkan bahwa Rajo Nan Barampek memiliki fungsi sebagai pucuk atau pimpinan adat pada setiap sukunya.

Empat Tingkatan Atap Masjid Kurang Aso Anampuluah

Ruangan dalam masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat dan belajar ilmu agama  saja. Ruangan ini juga dipakai untuk kegiatan alek nagari di Alam Surambi Sungai Pagu, salah satunya dalam alek Mambantai Kabau Nan Gadang. Alek ini dilaksanakan sebelum masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu turun ke sawah. Sebelum turun ke sawah dilaksanakan sebuah alek menyembelih seekor kerbau dengan harapan agar sawah yang hendak diolah dapat memberikan hasil yang melimpah dan memberikan kemakmuran bagi anak nagari.

Setelah menyembelih seekor kerbau, keesokan hari acara dilanjutkan dengan makan bersama dengan hidangan yang dibawa oleh anggota kaum niniak mamak atau penghulu. Acara makan bersama ini dihadiri oleh Rajo Nan Barampek, seluruh niniak mamak, dan anak kemenakan dengan memakai pakaian kebesaran masing-masing. Pada acara inilah diumumkan Plakat Turun Ke Sawah yang berisi aturan yang harus ditaati anak nagari untuk turun ke sawah.

Makan bersama itu dilaksanakan di Masjid Kurang Aso Anam Puluah. Peserta dalam alek ini duduk berkelompok menurut balahan besar suku masing-masing. Ruangan Masjid Kurang Aso Anam Puluah dibagi atas dua bagian, bagian utara dan bagian selatan. Masing-masing ruang itu disebut Sabalah Gadang. Sabalah gadang di bagian selatan merupakan tempat kedudukan raja dan penghulu suku Kampai Nan XXIV dan III Lareh Bakapanjangan. Sedangkan sabalah gadang bagian utara tempat suku Malayu IV Nyinyiak dan Panai III Ibu.

Saat ini, kegiatan makan bersama pada acara Mambantai Kabau Nan Gadang ini tidak lagi dilaksanakan di Masjid Kurang Aso Anampuluah, tapi dilaksanakan di Masjid Alam Surambi Sungai Pagu, sebuah masjid permanen yang dibangun di samping Masjid Kurang Aso Anam Puluah, karena ukuran masjid baru ini lebih besar dan dapat menampung lebih banyak orang.

Gambar Pembagian Tempat Upacara Adat Dalam Masjid Kurang Aso Anampuluah

Di bagian luar masjid juga terdapat sebuah tabuah atau beduk. Tabuah ini merupakan bentuk perpaduan unsur kebudayaan Minangkabau dalam fungsi sebuah masjid. Pada masa dahulu, tabuah menjadi penanda masuknya masuk shalat, maklum waktu itu belum tersedia alat pengeras suara, sehingga tabuah menjadi sarana yang efektif untuk memberitahukan jadwal shalat, karena suaranya ketika ditabuh dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh. Pada pelaksanaan Shalat Jumat, sebelum azan dikumandangkan, beduk ditabuh sehingga kaum laki-laki di nagari segera datang ke masjid sebelum khatib naik ke mimbar untuk berkhutbah.

Seiring perjalanan waktu dan dibangunnya masjid permanen di sebelahnya, saat ini Masjid Kurang Aso Anam Puluah hanya menjadi benda cagar budaya yang dilindungi karena nilai historis yang dimilikinya. Pada tahun 1985 telah dibangun masjid permanen yang diberinama Masjid Raya Alam Surambi Sungai Pagu yang berlokasi di sebelah utara Masjid Kurang Aso Anam Puluah, sehingga kegiatan ibadah terutama shalat lima waktu termasuk pelaksanaan makan bersama pada alek Mambantai Kabau Nan Gadang dilaksanakan di masjid baru ini.