Padang Panjang kini makin terkenal dengan pasar kulinernya. Orang yang melintas Padang Panjang, malam hari sering mencari makan malam di pasar kuliner.

Di pasar kuliner ini pedagang menyuguhkan berbagai macam makanan. Baik makanan berat atau makanan ringan. Ada makanan tradisional ada pula yang modern.

Salah satu dari makanan tradisional itu, adalah bubur kampiun. Bubur ini merupakan jenis makanan khas Minangkabau yang biasanya dinikmati sebagai sarapan dan menu berbuka puasa di bulan Ramadan.

Di pasar kuliner ini kita dapat menemukan bubur kampiun pada malam hari. Salah satunya “Sedap Malam Kampiun” yang buka pada pukul 16.00 – 02.00 dini hari.

Usaha ini kepunyaan keluarga yang sudah turun temurun, dan sekarang yang menjalankannya generasi kedua dari almarhum Nusra.

Tidak seperti bubur manis lain, yang hanya terdiri atas 1 jenis. Bubur kampiun memadukan 5-6 bubur manis sekaligus dalam penyajiannya. Itulah yang menghasilkan cita rasa manis dan lembut.

Komposisinya dari roti, ketan, kolak pisang/ubi, bubur putih/bubur sumsum, kacang padi/kacang hijau, bubur ketan hitam dan bubur delima. Semua bahan dimasak secara bersamaan di panci yang berbeda-beda.

Baca juga :  Pasar Ternak Payakumbuh Dibuka Kembali Hari ini

Untuk membuat bubur kampiun yang komplit, setidaknya ada enam jenis bahan yang dimasak di atas enam tungku secara bersamaan.

Memasak bubur kampiun ini pun harus memiliki keahlian. Saat memasukkan bahan secara bersamaan, kita harus pandai mengatur waktu. Proses pamasukan air, peremasan santan, pemotongan bahan – bahan, hingga pengadukan ketan hitam dan bubur sumsum.

Mengenai asal-usulnya, konon terciptanya bubur kampiun berawal dari ketidaksengajaan. Konon pada awal tahun 1960-an. Masa bergolak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), diadakan Lomba Kreasi Membuat Bubur di desa Jambu Air, Banuhampu, Agam.

Lomba itu diikuti semua lapisan masyarakat. Muncul banyak variasi bubur masa itu. Seperti bubur cokelat, keju, dan lainnya. Namun seorang nenek bernama Amai Zona datang terlambat ke perlombaan tanpa persiapan.

Amai Zona itu memasukkan beberapa jenis bubur, yang tidak habis dijualnya, saat pagi hari ke dalam beberapa mangkuk.

Tak disangka, kreasi bubur buatan Amai Zona itulah yang jadi pemenang.

Saat ditanya mengenai nama kreasinya, Amai Zona menjawab spontan dengan bahasa Inggris sesukanya, “Bubur Kampiun”. Maksudnya adalah “champion” yang berarti juara. Ha ha…

Baca juga :  Rusia Peringati Kemenangan di Perang Dunia II

Mari kita coba bubur juara ini di Padang Panjang.(Zikra)