Padang, inioke.com—Pembatasan selektif di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) diperpanjang hingga 29 Mei mendatang. Perpanjangan masa pembatasan selektif itu mengingat terjadi lonjakan kedatangan ke Sumbar. Sekaligus, mengantisipasi dampak penyebaran virus corona saat Idul Fitri nanti.

“Perpanjangan masa pembatasan selektif juga untuk memutus rantai penyeberan COVID-19. Hari ini, shif kedua. Shif yang pertama sudah berakhir Minggu kemarin. Pembatasan selektif ini kita perpanjang sampai akhir bulan Mei mendatang,” kata Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, Selasa (14/4).

Berdasarkan hasil evaluasi bersama, lanjut Nasrul Abit, pembatasan selektif sangat efektif dengan menempatkan petugas gabungan yang terdiri dari aparat keamanan, tenaga kesehatan yang ditugaskan di sembilan titik daerah perbatasan.

“Sejak kita berlakukan pembatasan selektif, seluruh masyarakat yang masuk ke Sumbar didata. Kondisi kesehatannya juga di cek. Ini memudahkan kita men-tracking siapa saja yang masuk ke Sumbar, apalagi mereka yang datang dari zona merah pandemi corona. Saya minta petugas yang ada di perbatasan agar dapat lebih ekstra lagi bekerja,” ujarnya.

Baca juga :  Perda Pariwisata Halal Disahkan Mengacu kepada Filosofi ABS-SBK

Nasrul Abit menegaskan, petugas yang berada di area perbatasan merupakan garda terdepan untuk mencegah penyebaran COVID-19. Pemprov Sumbar. Ia mengapresiasi petugas yang sudah maksimal bekerja mengawal area perbatasan siang dan malam.

“Petugas kita yang di perbatasan ini adalah garda terdepan untuk mendeteksi COVID-19, mencegah virus ini masuk. Kalau rumah sakit masuk kategori mitra medis. Jadi, sekali lagi saya minta petugas yang bekerja di perbatasan harus lebih ekstra lagi. Kita tentu ingin, Sumatera Barat ini sehat. Mari kita bekerja sama,” sebutnya.

Mengingat angka kasus positif di Sumbar kian hari kian meningkat, ia meminta masyarakat harus mengikuti seluruh instruksi yang dikeluarkan pemerintah. Jika tidak, maka mata rantai penyebaran COVID-19 susah untuk diputus.

“Jangan ada yang ditutupi atau dilindungi. COVID-19, bukanlah aib. Harus transparan. Jangan ada yang melindungi meski itu adalah keluarga kita sendiri. Semua, tak lain agar penanganan dapat sesegera mungkin dilakukan,” pintanya. (GYN)