Kita simpulkan, COVID-19 itu bahaya. Jangan remehkan.

Sekarang, orang tanpa gejala, adalah ancaman kita paling mencemaskan dari coronavirus. Mereka dinamakan, OTG, orang tanpa gejala. OTG tidak merasa sakit, karena merasa tidak ada gangguan atau gejala dalam tubuhnya.

Kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, yang tertular COVID-19, 70 persen tidak merasa gejala gangguan kesehatan. Di sinilah, kita harus menyadari, OTG berpotensi sebagai sumber penyebaran. Dan, dia mana tahu, celakanya orang bukan keluarga bertemu di luar bersama kita, baik sengaja atau tidak, lalu menularkan.

Masyarakat, di angka wabah corona secara nasional naik, masih banyak tak mengindahkan imbauan pemerintah untuk di rumah saja, jaga jarak, rajin cuci tangan dan juga ketika terpaksa keluar rumah harus pakai masker. Di Sumatera Barat, di daerah kabupaten atau kota, masih kita temukan mereka duduk di lapau, kafe, tempat nongkrong atau kongkow tak jelas. Di kota Padang khususnya, masih kita temukan sekelompok orang bagai tak peduli ajakan di rumah saja.

“Beberapa hari belakangan kelihatan orang mulai berkumpul, santai, berdekatan, tanpa masker. Inikah antara lain perilaku yang bakal meledakkan jumlah pasien COVID-19 hari-hari ke depan,” tulis dr Rezki Khainizar, di akun Facebooknya.

“Kota Padang sepertinya masih biasa-biasa saja. Masih banyak bapak-bapak tua yang duduk di lapau sambil merokok dan main domino. Tidak ada tanda-tanda sepi karena #stayathome,  malah ada yang ngumpul-ngumpul sama tetangga,” timpal Desraniarty, mengomentari status ditulis Rezki.

Seorang warga Padang, Maarif, mengatakan, “urang awak” ini kemari susah kita dibuatnya. Dia tahu, corona bahaya. Dia tahu pentingnya memutus rantai penyebaran corona antara lain dengan stay at home—di rumah saja. Tapi, ketika dia duduk berkumpul, nongkrong di kafe, diingatkan dia tak peduli. Tidak pula bermasker. Bahkan, mereka duduk main domino, merokok dan ngopi ramai-ramai di lapau, sambil menggunjing kerja pemerintah tak becus. Pemerintah lambat. Pemerintah gagap. Mereka tak sadar, pemerintah susah mengurus orang seperti dia, seperti mereka, banyak bacot, suka-suka sendiri. Kalau kena wabah, paniknya minta ampun. Sombongnya hilang.

Baca juga :  Wagub Sumbar Harapkan Kolaborasi BKKBN dalam Kependudukan

Ada di antara mereka bilang. Di rumah saja, pemerintah apa kasih makan. Padahal, mereka ASN, ada yang sebelum corona, mereka pengangguran, gak kerja apa-apa, cuma duduk di lapau. Yang ironisnya, ajakan di rumah saja, dijawab dengan pertentangan yang tak etis. Selalu soal perut. Soal kehilangan pendapatan. Tak pernah berpikir. Jika kena virus, dia sebagai ayah, sebagai ibu, lalu dirawat, atau mati, apakah setimpal dengan kehilangan pendapatan 14 hari ketika imbauan di rumah saja.

Sesekali mari kita melihat positif. Jika semua menyadari virus corona cepat menular dan berbahaya, ancaman bagi ekonomi keluarga jika berjangkit panjang, maka kita akan patuh pada imbauan pemerintah. Rumah sakit tak kuat menampung, tenaga medis terbatas. Ini demi kebaiakan kita semua. Tapi, kita memang banyak yang abai. Suka meremehkan sebelum kena ke diri sendiri. Kalau kena, tak punya uang beli obat, menangis kian kemari. Belum tentu juga ruang rumah sakit tersedia. Tetangga dan sanak saudara tak peduli karena takut corona. Orang menjadikan kita contoh buruk, sok mantap dulunya.

Baca juga :  Mengingat Cucu dan Suami Lumpuh di Rumah, Motivasi Sun Sembuh dari COVID-19 di Wuhan

Kita bisa maklumi mereka yang terpaksa harus bekerja, keluar rumah. Kita tak menafikan mereka keluar betul-betul karena sesuatu yang penting. Nafkah. Atau sesuatu hal tak bisa dihindari. Kita pahamlah dia belum di rumah saja. Tapi, mereka yang keluyuran tak menentu, kumpul di kafe, lapau-lapua dan sejenisnya, inilah yang kita benci, karena inilah orang yang kurang ajar pada keselamatan diri dan keluarganya.

Banyak poster atau iklan sosial masyarakat, yang menampilkan foto balita anak dari petugas medis atau dokter, dengan tulisan: Di rumah saja, biar papa dan mamaku yang kerja di rumah sakit. Ada juga kalimat: Kalau kalian masih keliaran, bisa-bisa ayah dan bundaku tak pulang-pulang, karena mengobati kalian yang kena corona karena semula tak mau di rumah saja.

Manusia kalau akal dan hati baiknya tak berfungsi, imbauan untuk keselamatan bersama, yang sesungguhnya untuk keselamatan dirinya dan keluarganya, dianggap angin lalu. Dianggap menyulitkan. Orang seperti inilah wabah sesungguhnya di antara kita. Otaknya sudah dimakan virus yang lebih berbahaya dari sekadar corona. Masih kongkow, kumpul-kumpul, tanpa masker, keluyuran dan selalu punya jawaban ngeles kalau diingatkan.

Kalau emak-emak, bapak-bapak, mereka yang harus keluar rumah demi sesuap nasi, demi kehidupan keluarga tersambung, kita pahami, dan bahkan doakan. Biarkan mereka berjihad, dan kita yang di rumah saja, mendoakan, mengggas kegiatan untuk menyumbangkan sedikit rezeki membantu mereka yang tak bisa di rumah saja. Jangan sedikit-sedikit pemerintah, sedikit-sedikit bilang pemerintah tak peduli. Bukan kita tak boleh kritis. Saat ini, bangsa kita, butuh tindakan bersama. Saling mengingatkan. Saling memberi. Saling menguatkan. Virus corona ini, tak main-main. Bayangkan, karena kita nyantai, tahu-tahu, istri atau suami, atau ayah atau ibu atau siapalah orang tercinta kita yang kena lantara kita OTG karena ngumpul dengan OTG lainnya, bagaimana perasaan kita. Lalu pada saat bersamaan, kita diminta isolasi mandiri. Lalu ketika orang tercinta kita sekarat, kita langsung terkonfirmasi positif COVID-19. Dan dalam keadaan seperti itu, apakah kita masih akan bilang ini gara-gara pemerintah tak tegas.

Baca juga :  Dari 1154 Sampel Swab Ditemukan 5 Orang Positif Covid-19 di Sumbar Hari ini

Tidak toh. Ketika anda positif Covid-19 karena meremehkan imbauan dan ajakan-ajakan sehat dan selamat dari corona, ketika itu orang akan menyesali kesombongan dan kekurangajaran anda pada diri dan keluarga.

Karena itu, sebaiknya segala anjuran dan imbauan pemerintah, ulama, tokoh dan media, ikuti dan laksanakan. Jika kita ingin bebas corona, bersatu melawannya, antara lain dengan di rumah saja. Janganlah kita merasa sombong, seakan, kita akan aman-aman saja. Oke, kita punya daya tahan tubuh kuat. Tapi, ketika ia menular pada orang tercinta kita, yang daya tahan tubuhnya lemah, apakah tak berdosa rasa hati, karena keenganan kita mendengar imbauan, keluarga yang kena. Betapa jahatnya kita, jika begitu!

Yuk #dirumahaja, jangan keluar ngumpul jika tak penting. Buat sikap peduli pada mereka yang harus keluar, dan berbagilah jika murah rezeki. Jaga jarak, jaga kebersihan diri selalu. (KS)