Jepang, inioke.com—Mengenakan masker berbentuk mangkuk atau cup bra bukan lagi bahan olok-olok atau untuk lucu-lucuan. Di Jepang, masker mangkuk bra atau kutang ini sedang tren dan digandrungi sebagai penutup hidung dan mulut saat pandemi virus corona. Bahkan, masker ini diproduksi oleh perusahaan pakaian dalam terkenal di Jepang. Jika sebelumnya, terkenal kutang barendo, maka sekarang ada masker barendo.

Sejumlah merek fesyen telah mengalihkan produksi mereka untuk memenuhi permintaan masker kain, yang dapat membantu mencegah penyebaran COVID-19. Sebuah merek fesyen di Jepang mengadaptasi pakaian yang jarang melihat dalam keadaan normal—dan mungkin tanpa sadar membawa kembali tren tahun 80-an, pakaian dalam sebagai pakaian luar.

Atsumi Fashion, sebuah perusahaan pakaian dalam di Toyama, Jepang, membuat masker dari bahan yang biasanya digunakan untuk melapisi bra. Sekitar sebulan yang lalu, perusahaan menyadari bahwa kain sintetis lapisan itu mirip dengan masker sekali pakai di pasar, seperti dikutip Japanese Times. Sejak itu, Atsumi memproduksi masker bra ini berbagai warna, bahkan pakai renda pula.

Baca juga :  1772 Pedagang Telah Tes Swab, Pemko Padang Targetkan 2000 Pedagang

Desain masker pada mulanya juga terinspirasi dari bra. Masker bedah yang diproduksi oleh 3M pada tahun 1961, yang menyebabkan pengembangan topeng N95, juga terinspirasi oleh bra. Tetapi pengembangan masker berenda oleh Atsumi terbaru dalam tren fesyen untuk pelindung wajah.

“Kami berharap kami dapat berkontribusi pada masyarakat karena kekurangan masker terus berlanjut. Bahkan masker ini dapat mencegah virus menyebar ke orang lain melalui batuk atau bersin,” kata Hiroshi Hinata, manajer penjualan perusahaan.

Karyawan membuat masker setelah jam kerja di pabrik perusahaan di Himi. Mereka mencoba merancang metode baru setelah kota meminta bisnis lokal untuk membantu menyediakan masker bagi pekerja di Balai Kota, yang hanya memiliki 600 masker tersisa.

Atsumi Fashion berencana untuk membuat 1.000 masker untuk kota dan mendistribusikannya ke lembaga medis dan pendidikan, memprioritaskan mereka yang sangat membutuhkan. (gyn/diolah dari Japanese Times dan Mashable)