Oleh: Abdullah Khusairi

Membaca butuh energi, menulis apa lagi. Keduanya, seperti sepasang pedal sepeda yang dikayuh mengasyikkan bagi orang-orang yang menekuninya. Sayang ada yang suka membaca saja tapi tidak suka menulis. Tetapi yang hobi menulis hampir semua suka membaca.

“Jadi mahasiswa tapi tak suka baca, seperti petani tak suka mencangkul,” begitu saya tuliskan di bilik percakapan kelas kuliah. “Saya tak suka membaca pak, saya suka praktek,” celetuk seorang mahasiswa. Ruang percakapan langsung heboh pro-kontra. Saya coba menengahi dengan seksama. Serta menjelaskan fungsi kegiatan membaca yang berguna dalam menulis, lebih-lebih akan menuliskan karya ilmiah dalam bentuk skripsi. Di ruang kuliah, sering ditanya, buku apa saja yang sudah dibaca, umumnya diam!

Begitulah fenomena yang tak pernah habis. Indonesia memang dalam banyak survei termasuk bangsa yang malas membaca. Berdasarkan survei Most Literate Nation In The World 2016, Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Di bawah Thailand (59) di atas Botswana 61. Menurut survei Perpusnas 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata tiga-empat kali perminggu dengan durasi 30-59 menit. Jumlah buku bacaan rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun. Ini menguatkan pendapat Seno Gumira Ajidarma (1999) dalam sebuah pidatonya, di negeri kami membaca hanya untuk mendapatkan kabar tentang diskon-diskon harga saja.

Membaca-menulis memang seperti pekerjaan remeh-temeh bagi sebagian orang. Sedangkan pada sedikit orang, ini pekerjaan yang mewah. Bagi yang remeh-temeh, biasanya menguatkan argumen, membaca-menulis, tidak mendapatkan uang banyak. Ini perspektif yang diukur dengan materi, alirannya bernama materialisme. Tak salah juga, asalkan dapat meyakinkan diri bahwa ada pekerjaan yang tak perlu dengan baca-tulis. Kerjalah di sana. Tak apa.

Baca juga :  Anggota DPRD Sumbar dan Pegawai Sekretariat Lakukan Rapid Test

Arus Balik

Kehadiran smartphone pada dasarnya bisa membuat arus balik tingkat baca-tulis meninggi. Walau mungkin bacaannya bukan buku-buku berat, tetapi percakapan, debat, membutuhkan daya baca. Walau kadang-kadang dengan bahasa lisan langsung menjadi tulisan sehingga sulit sekali dipahami. Bahkan bisa menimbulkan konflik karena ditulis bukan dengan bahasa tulisan.

“Jangankan peserta didik, tenaga pendidikan saja mungkin tidak terbudaya dengan membaca. Menambah khazanah keilmuan. Apalagi menulis, itu sangat minim. Malahan ada yang hanya bertahan dengan buku bacaan tahun lama, sehingga ilmu itu ke itu saja disampaikan. Sementara perubahan sudah cepat sekali,” ungkap salah seorang profesor pendidikan.

Saya punya harapan penuh, dengan kehadiran gadget di tangan generasi muda bisa membangun minat baca yang tinggi di kalangan milenial. Baik membaca informasi secara online, tulisan-tulisan dan mungkin juga buku-buku tebal dalam versi PDF. Semoga ada hasil survei yang bernada optimis tentang generasi milenial dengan tingkat baca yang memadai.

Memang ada penyimpangan penggunaan gadget di berbagai kalangan. Sekadar memiliki, tidak belajar, tidak membaca, tidak produktif. Atau justru produktif membuat vlog, tik-tok, main game, dst. Sekadar hiburan, mungkin tak apa.

Produktif Menulis

Batambah banyak tulisan ma, Pak Dotor. Ado taruih tulisan baru tiok bara hari nampak dek wak,” tulis Holy Adib, seorang penulis produktif, redaktur bahasa dan sering menulis tentang kebahasaan. Komentar itu seiring artikel-artikel populer yang saya tulis banyak dimuat di berbagai media online. Saya memang sedang produktif untuk menulis, di tengah ketibaan wabah, kerja di rumah dan bulan puasa ramadan pula.

Baca juga :  Nekat Mudik Akan Disuruh Putar Balik ke Asal Perjalanan

Bagi saya menulis di tengah suasana ibadah puasa yang tak boleh kemana-mana karena PSBB ini, sebagai kegiatan dakwah bil qalam. Dakwah melalui pena. Sembari berharap ada orang membacanya, walau ada pendapat banyak yang tak suka membaca tulisan mendalam, panjang. Biarlah. Biar saja ada orang merayakan kedangkalan. Membaca sekadar saja tanpa mau sedikit bekerja keras membuka mesin pencari (search engine). Memang ada, kemudahan yang dirayakan menjadi kedangkalan-kedangkalan pemahaman terhadap suatu hal. Itulah fenomena sahih yang terjadi seiring dengan smartphone di tangan.

Namun demikian, masih ada harapan bagi pencinta dan penulis buku. Masih ada yang suka membaca buku, tidak habis. Selalu ada generasi terpilih untuk menjadi penulis, memilih jalan paling sunyi, dunia orang yang sedikit, dengan membaca buku-buku dengan harapan bisa menulis banyak. Mereka sudah menyadari, tak ada teori orang bisa menulis banyak tanpa membaca banyak.

Ada pendapat, orang akan membaca sesuai minat. Itu benar. Begitu juga dalam menulis, ada yang menulis hanya pada satu minat saja. Saya meneliti tentang ini untuk karya akhir Program Doktor Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (2016-2019). Tentang artikel populer, khusus wacana radikalisme. Disertasi itu hampir mencapai 300 halaman, bercerita tentang artikel-artikel yang ditulis cendekiawan di media cetak. Mungkin karena hampir 500 artikel populer yang dibaca, dilacak, dipilih dan dipilah sesuai teori yang dipakai, telah membuat pengaruh yang begitu mendalam agar saya terus menulis artikel populer. “When you start writing, you neverknow how stop it. All words is come to you.” Maybe its me!

Baca juga :  Kunker ke Talu, Wakil Gubernur Sosialisasi Perda AKB

Adakah harapan bahwa bangsa Indonesia akan naik peringkat dengan kehadiran gadget di tangan? Harapannya begitu, jika tidak salah kaprah dengan kehadiran smartphone. Kehadiran smartphone di tangan, harusnya menjadikan pemiliknya lebih cerdas sebagai dampak penambahan wawasan karena membaca dan membaca melalui gadget. Hal ini diharapkan bisa menangkal dan tak mudah terhasut hoax dan fakenews. Atau paling tidak, naiknya peringkat baca terhadap buku-buku how to, bukan buku-buku berat. Atau juga keranjingan menulis, setelah membaca artikel-artikel yang ada di media online. Semoga itu terjadi dan segera ada data, seperti data pembaca di media online.

Terakhir, membaca dan menulis belum menjadi pilihan utama dalam berkomunikasi. Komunikasi lisan masih digalakkan. Lebih-lebih di masa pandemi ini, beragam seminar online digelar untuk memuaskan nafsu berbicara, berkelakar, sembari menambah wawasan. Diskusi memang mengasyikkan tetapi akan menemukan masalah juga jika tidak punya banyak bacaan. Di negeri ini, memang perlu dorongan yang lebih kuat agar ada keterpaksaan memahami kehidupan dengan baik melalui bacaan-bacaan tepat. Hanya dengan begitu membuat orang bisa bijak di era informasi ini. Salam. []

Dr. Abdullah Khusairi, MA | Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang