Oleh: Bimbi Irawan

 

Surau Menara menjadi saksi perjalanan syiar pendidikan Islam di Alam Surambi Sungai Pagu

 

 Kawasan Saribu Rumah Gadang yang berlokasi Nagari Koto Baru Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan pasca diberi julukan “Kawasan Seribu Rumah Gadang” oleh putri Proklamator Republik Indonesia Ibu Meutia Hatta menjadi kawasan perkampungan adat yang paling populer di Provinsi Sumatera Barat. Berbagai promosi yang dilakukan segenap pihak khususnya Pemerintah Kabupaten Solok Selatan telah mengundang banyak orang untuk bertandang ke Kawasan Saribu Rumah Gadang. Ia menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Solok Selatan.

Sesuai namanya, Kawasan Saribu Rumah Gadang memang menawarkan keindahan arsitektur rumah gadang yang berderet rapat di Nagari Koto Baru. Berbagai ukuran dan tipikal rumah gadang hadir dalam kawasan ini. Namun tidak hanya pesona rumah gadang, sejumlah bangunan masjid dan surau juga melengkapi keindahan kawasan saribu rumah gadang  ini. Masjid yang paling mudah diakses adalah Masjid Raya Koto Baru, karena posisinya di gerbang kawasan saribu rumah gadang, dekat dengan jalan besar. Kalau diperhatikan sekilas, arsitektur Masjid Raya Koto Baru ini mirip dengan Masjid Raya Rao-Rao di Kabupaten Tanah Datar. Barangkali arsiteknya orang yang sama.

Masuk ke dalam kawasan saribu rumah gadang, tepatnya di Jorong Lubuk Jaya, terdapat sebuah surau yang diyakini sebagai surau tertua di Alam Surambi Sungai Pagu. Sedangkan masjid yang diyakini tertua di kawasan Sungai Pagu adalah Masjid Kurang Aso Anam Puluah. Lokasi Surau Menara ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari Masjid Raya Koto Baru. Bisa disusuri dengan santai berjalan kaki dari Masjid Raya Koto Baru.

Baca juga :  Fadly Amran Minta Lanjutan Pembenahan Pasar dan Trotoar Harus Sesuai Standarisasi

Surau Menara, dinamakan demikian, karena bagian atapnya dibuat berbentuk menara. Pembuatan menara pada surau itu tentu saja bukan karena kebetulan tetapi tuntutan kebutuhan pada masa itu. Menara difungsikan sebagai tempat mengumandangkan azan, sehingga bisa terdengar di seluruh penjuru kampung. Maklum waktu itu belum ada toa atau pengeras suara. Surau Menara dibangun oleh pada akhir abad ke-19 atau sekitar tahun 1894 Masehi oleh Maulana Syekh Mustafa. Selain Surau Menara, surau ini juga dikenal dengan nama Surau Lubuak yang mengacu kepada nama daerah lokasi surau tersebut.

Keberadaan Surau Menara yang jaraknya  tidak terlalu jauh dari Masjid Raya Koto Baru, bukan untuk menyaingi fungsi masjid. Masjid Raya Koto Baru dibangun sebagai masjid nagari tempat pelaksanaan shalat lima waktu dan ibadah Shalat Jumat sekaligus perlambang keberadaan nagari yang memiliki balai adat dan masjid. Sedangkan Surau Menara adalah salah satu bangunan yang tersisa dari kompleks pendidikan Islam yang pernah eksis pada masa dulu.

Surau Menara adalah salah satu bangunan dari komplek pendidikan Islam yang didirikan oleh Maulana Syekh Mustafa. Pada masa itu, bisa jadi ia menjadi satu-satunya kompleks pendidikan Islam di wilayah Alam Surambi Sungai Pagu dan juga di wilayah Kabupaten Solok Selatan saat ini. Murid-muridnya berasal tidak hanya dari kawasan Sungai Pagu saja, tetapi juga ada yang datang dari Pesisir Selatan, Surian, Alahan Panjang, Solok, Sulit Air, dan Padang.

Baca juga :  Refleksi Satu Tahun Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto, Padang Panjang Bangun Monumen Kereta Api

Sebenarnya Surau Menara adalah bangunan terakhir yang dibangun dalam kompleks pendidikan tersebut. Surau pertama yang dibangun oleh Maulana Syekh Mustafa bersama murid-murid beliau adalah Surau Usang. Mungkin karena yang pertama dibangun, sehingga akhirnya dinamakan Surau Usang. Ketika murid-murid terus bertambah, bangunan Surau Usang tidak dapat menampung muridnya, sehingga dibangunlah dua buah surau lagi yakni Surau Gadang dan Surau Ketek.

Setelah Maulana Syekh Mustafa menunaikan ibadah haji, murid-murid beliau semakin bertambah, malah ada yang datang dari Riau dan Kerinci, sehingga tiga surau yang ada tidak mampu menampung murid. Maka dibangunlah bangunan yang keempat, sebuah surau yang dilengkapi  dengan menara sehingga dinamakan Surau Menara. Dengan dibangunnya Surau Menara, terdapat empat bangunan surau dalam kompleks pendidikan ini. Tiga buah surau (Surau Gadang, Surau Ketek, dan Surau Menara) dijadikan tempat belajar ilmu Agama Islam. Surau Gadang tempat belajar bagi pemula, Surau Menara untuk belajar suluk, dan Surau Ketek juga digunakan untuk kelas atau tingkat tertinggi yaitu belajar Tasauf (Tarikat Naqsabandi). Disamping untuk belajar agama Islam, di kompleks surau juga terdapat tempat belajar ilmu silat. Silat yang diajarkan dikenal dengan ”Silek Angku Lubuak”.

Disamping empat buah bangunan surau, di kompleks Surau Menara juga terdapat bangunan rangkiang dan kulah. Rangkiang digunakan sebagai tempat penyimpan padi yang didapat dari zakat dan infak. Setiap setahun sekali,  diadakan acara syukuran berupa acara makan bersama yang melibatkan penduduk setempat dan murid-murid surau  dengan membantai seekor jawi atau sapi.  Sedangkan kulah dibangun untuk menampung air yang berukuran 8 m x 8 m, dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Kulah ini berfungsi untuk menampung air hujan dan digunakan untuk berwuduk. Pembangunan kulah ini tentunya dapat menghemat waktu dan tenaga dibandingkan pergi berwuduk ke sumber air terdekat di Batang Bangko.

Baca juga :  Aljazair Menunggu Permintaan Maaf Perancis Atas Penjajahannya di Masa Lalu

Pada tahun 1943 M, gempa besar melanda daerah Sungai Pagu. Gempa ini banyak memberikan kerusakan terhadap gedung dan rumah penduduk di Lembah Sungai Pagu, termasuk bagi kompleks pendidikan Islam di  Surau Menara. Gempa besar ini merobohkan Surau Gadang, Surau Usang, dan Surau Ketek. Sedangkan Surau Menara tetap kokoh berdiri. Semenjak gempa besar tersebut, tidak terdengat lagi aktivitas pendidikan Islam di kompleks Surau Menara ini.

Surau Menara menjadi saksi perjalanan syiar pendidikan Islam di Alam Surambi Sungai Pagu. Saat ini surau masih digunakan sebagai tempat shalat. Sedangkan bagian menaranya tidak lagi digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan. Menaranya kadang menjadi tempat untuk memandang hamparan gonjong rumah gadang dalam kawasan saribu rumah gadang. (*)

Penulis adalah peneliti pada RANCAK PUBLIK,  Rumah Kajian Perencanaan dan Kebijakan Publik