Sebagian besar pasien yang menderita corona virus sembuh, karena memiliki kekuatan motivasi diri.

Ketika Sun Jihong, 69, digerogoti COVID-19, dunianya terasa terbalik. Dia yakin, dia akan mati.

Tetapi, setelah 16 hari menghabiskan hari dalam perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Wuhan, ia selamat. Dia masih benar-benar tidak bisa percaya, kenyataan bahwa, dia sembuh, dan berjalan keluar dari bangsal rumah sakit.

Virus tersebut menyerang dengan cepat: batuk, diare sedang, urin berkurang dan kekuningan. Dia merasa lemah. Dia memanggil putrinya yang seorang dokter.

“Dia bergegas pulang, dan membawa saya ke rumah sakit untuk rontgen dada,” kata Sun, menceritakan kesigapan putrinya. Pencitraan paru-paru menyatakan bahwa ia memiliki corona virus.

Pada saat itu, hampir setiap rumah sakit terdekat penuh sesak. Ratusan terinfeksi virus. Untungnya, bagi Sun, sang putri membantunya mendapatkan tempat tidur untuknya.

“Saya langsung dimasukkan ke perawatan intensif, dalam kondisi tidak sadar.”

Dia bangun keesokan harinya ,sedikit lebih baik dari hari sebelumnya. Infus sangat banyak dimasukan ke tubuhnya. “Saya berbaring di tempat tidur, sendirian. Napas terasa berat dan saya terlalu lemah untuk bergerak. Saya tergantung pada beberapa mesin penunjang kehidupan yang terasa dingin, dengan selusin botol tetes (infus) tergantung di atas saya. Saya menatap langit-langit putih dan merasakan air mata mengalir di pipi ini.”

Baca juga :  Dispora Kota Padang Seleksi 220 Siswa Calon Anggota Paskibraka

Sun mengaku meneteskan air mata yang tidak berkesudahan di ranjangnya. Berita tersebar bahwa banyak orang sekarat karena penyakit itu. Dia jatuh dalam keputusasaan.

“Saya tidak pernah berpikir bisa melakukannya. Itu membuat saya semakin lemah dan terasa mengintimidasi,” isaknya.

Dia menggulung lengan bajunya, memperlihatkan memar yang tidak sembuh akibat suntikan. “Saya membuat permintaan terakhir dalam hidup saya. Saya bahkan memberi tahu putri saya di mana perhiasan saya disimpan, dan memberinya kode kunci  kotak brankas saya. ”

Setiap saat kali Sun berbicara tentang kematian, putrinya menyuruhnya berhenti memikirkan soal kematian.

“Saya tidak bisa menghitung berapa kali menangis. Pikiran saya terus saja mengusik. Saya memikirkan cucu saya yang paling saya sayangi. Dia tumbuh bersama saya. Dia suka ‘makanan nenek’. Hidangan favoritnya adalah tumis daging sapi atau domba dengan sayuran, yang saya masak untuknya. Suatu ketika, dia mengundang teman-temannya, saya melayani mereka ala barbekyu. Mereka sangat menyukainya. Sekarang dia tidak akan bisa makan makanan saya lagi, “kata Sun, menahan air mata.

Baca juga :  1 orang Terkonfirmasi Positif COVID-19 di Sumbar Hari ini

“Saya juga memikirkan suami saya  yang sakit. Dia mengalami kelumpuhan di bagian kanannya selama lebih dari 21 tahun. Dia mengalami pendarahan otak. Dia bergantung pada saya. Dan saya meninggalkannya. Saya kadang-kadang tidak sabar dengannya, membentaknya dan sering mengeluh…. ”

Dan ingatan pada cucu serta suami, sepertinya membuat Sun ingin segera sembuh, cepat pulang.

Perjuangan yang penuh emosianal

Terlepas dari kemurungan dan kepasrahan Sun, namun ia kuat menjalani perawatan untuk sembuh, motivasinya karena ia mengingat bagaimana nikmatnya sehat, bersama cucu dan mengurus suami yang lumpuh.

Pada tanggal 21 Februari, tes asam nukleatnya ternyata negatif. Infeksinya hilang dan dia keluar dari rumah sakit. Namun dia harus tetap diisolasi selama 14 hari sebelum pulang dan karenanya pihak berwenang membawanya ke hotel untuk menjalani pengasingan lagi.

Tanggal 5 Maret adalah hari besar bagi dia. Dia pulang. Momen sebelumnya bagaikan rasa naik roller-coaster. Tes terakhir asam nukleat memastikan virus itu benar-benar hilang.

“Saya menunggu hasilnya, ini menjadi moment besar hari itu. Saya gelisah di dalam kamar saya. Saya mulai bertaruh bahwa hasilnya pasti positif.  Ya ampun, jika saya dikirim kembali ke rumah sakit, itu akan menjadi hukuman mati bagi saya. Saya menangis,” Sun pun menangis seolah-olah dia dikembalikan lagi ke hari yang penuh stresss itu.

Baca juga :  Jepang Kirim Tim ke Mauritius Bersihkan Tumpahan Minyak Kecelakaan Kapal Tanker

“Sekitar pukul 03:30 sore, hasilnya keluar. Jantung saya berdegup kencang, menghela nafas panjang. akhirnya Saya merasa sangat baik … ”

Dia menganggap dirinya pemenang dalam pertarungan tersulit dalam hidupnya.

“Saya berterima kasih kepada putri saya karena telah menarik saya kembali dari cengkeraman maut. Saya memberikan dia kehidupan 43 tahun yang lalu, dan hari ini dia menyelamatkan hidup saya, ” kata Sun, sembari bersyukur atas kontrak baru untuk kehidupan selanjutnya.

Setelah selamat dari kematian, dia sekarang lebih menghargai hidup. “Saya akan merawat suami saya, belahan hidup saya. Dia belum mandi sejak saya dirawat di rumah sakit.”

Betapa harapan hidup, motivasi mengingat cucu dan suami, membayangkan kenikmatan sehat, membuat ia harus menjadi pemenang melawan corona virus. Penangan psikologis (mental) sama pentingnya dengan perawatan penyakit, yang membuatnya menemukan jalan keluar dari ketakutannya. (Disarikan Muhammad Taufik dari chinadaili.com)