Selama 72 tahun perjalanannya, WHO telah berhasil menangani beberapa kemenangan kesehatan publik dan AS telah menjadi pemain kunci, pelatih dan sposor bagi lembaga itu. Selain itu juga telah menjadi norma bagi negara-negara lain menempatkan AS sebagai pusat aparatus kesehatan publik paling penting di dunia.

Namun ketika pandemi coronavirus masih menjangkiti dunia dan belum akan berhenti dalam waktu yang dekat, Trump memutuskan menarik AS dari lembaga kesehatan dunia itu.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengkritik WHO, menuduh organisasi itu berada dalam “kontrol sepenuhnya” Cina dan membuatnya salah urus selama hari-hari awal pandemi coronavirus.

AS telah mengirim surat resmi yang menyebutkan penarikan diri AS dari WHO pada Selasa (7/7). Hal ini dikonfirmasi oleh juru bicara PBB, Stephane  Dujarric. Dikutip dari NPR, ia menulis, “Pada 6 Juli 2020, Amerika Serikat memberitahu Sekjen mengenai penarikan dirinya dari World Health Organization, secara efektif pada 6 Juli 2021.”

Trump menyebut AS berkontribusi sebesar 450 juta dolar kepada WHO sedangkan Cina hanya menyumbangkan sekitar 40 juta dolar. Ia menambahkan akan mengalihkan dana itu kepada bidang lain dan layak untuk mendapat kebutuhan kesehatan global.

Baca juga :  ODP di Kabupaten Tanah Datar Tertinggi di Sumbar.

Trump mulai menghentikan pendanaan terhadap WHO pada April. Beberapa minggu kemudian ia menuntut WHO untuk melakukan reformasi tetapi tidak menjelaskan reformasi seperti apa yang akan dilakukan. Sebagai sponsor terbesar bagi lembaga itu, ketiadaan AS menurut para ahli merusak organisasi itu tulis the Hill.com.

Berbagai kritik diontarkan atas keputusan ini.

Dalam kicauannya di Twitter pada Selasa (7/7), Senator Bob Menendez dari New Jersey, menyebut “Hal ini tidak akan melindungi orang-orang Amerika ataupun kepentingannya –justru akan membuat amerika sakit dan sendirian.”

Selain itu, banyak akademisi hukum yang mempertanyakan apakah presiden memiliki kewenangan untuk menarik diri dari WHO tanpa persetujuan kongres.

Dilansir dari NPR, dalam sebuah surat kepada konggres 30 Juni lalu, 750 ahli kesehatan dan hukum internasional menyebut, “penarikan diri akan memakan korban, orang Amerika dan lainnya” akibat COVID-19 karena akan memangkas dana krusial program darurat kesehatan untuk testing, contact tracing dan pengembangan vaksin oleh WHO dan akan memperpanjang pandemi.

Meninggalkan WHO “sebenarnya adalah hadiah politis bagi Cina,” kata Larry Gostin, ditektur O’Neill institute for National and Global Health Law di Universitas Georgetown, menekankan hasil yang ironis sebagai hasil dari penarikan diri ini. Dengan meninggalkan WHO, AS menciptakan kekosongan kepemimpinan yang akan membuat Cina dengan senang hati mengisinya tulis NPR.

Baca juga :  Mahyeldi : Pasar Raya Tutup itu Hoaks

Para pengamat menyebutkan karena proses penarikan diri ini membutuhkan waktu satu tahun, pengganti Trump bisa saja menarik keputusan ini apabila ia tidak terpilih dalam pemilu AS pada November ini tulis Al Jazeera. (Patra)