Oleh: Reisha Humaira

 

Sudah empat minggu warga Selandia Baru menjalani lockdown. Pemerintah Selandia Baru menggunakan sistem alert 4 level untuk mengatur batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pandemi Covid-19. Lockdown berarti satu negara berada di alert level tertinggi, yakni level 4.

Sistem alert 4 level ini diperkenalkan oleh PM Jacinda Ardern pada 21 Maret. Saat itu Selandia Baru berada pada level 2. Tanggal 23 Maret pemerintah mengumumkan naik ke level 3, dan akan naik lagi ke level 4 pada tanggal 25 Maret pukul 23.59.

Pemberlakuan lockdown oleh pemerintah Selandia baru ini tergolong sangat cepat. Keputusan lockdown diambil saat jumlah kasus positif COVID-19 masih berada di angka 102 dan belum ada yang meninggal.

Sore sebelum lockdown, pemerintah mengirimkan notifikasi ke seluruh ponsel di Selandia Baru, bahwa mulai malam ini akan diberlakukan lockdown selama 28 hari ke depan. Di mana kita tinggal saat ini, di sanalah kita harus tinggal selama lockdown.

Di hari pertama lockdown, Selandia Baru langsung berubah sepi. Kota-kota besar di Selandia Baru seperti Auckland, Wellington, dan Christchurch menjadi sangat lengang, jauh berbeda dari biasanya. Pada alert level 4 ini memang semua orang diharuskan berada di rumah, dan penduduk Selandia Baru tergolong sangat patuh pada pemerintahnya.

Masyarakat diperbolehkan keluar rumah hanya untuk hal-hal esensial, seperti belanja ke supermarket, membeli obat ke apotek, dan berobat ke dokter. Keluar rumah untuk jalan cari udara segar, jalan dengan anjing peliharaan, atau olahraga masih diperbolehkan, tapi harus tetap berada di area sekitar tempat tinggal dan menjaga jarak 2 meter dengan orang lain.

Baca juga :  Rumah Sakit Rujukan COVID-19 di Sumbar Mampu Tampung 600 Pasien Positif

Semua fasilitas umum ditutup, bahkan sebagian sudah mulai ditutup saat masih level 3. Acara berkumpul yang melibatkan banyak orang juga dilarang. Physical distancing harus dilaksanakan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Semua fasilitas pendidikan seperti sekolah, kampus, dan perpustakaan ditutup. Para siswa dan mahasiswa menjalankan kegiatan belajar dari rumah. Semua toko, restoran, dan layanan yang tidak esensial juga tutup.

Supermarket, minimarket, dan toko-toko yang menjual kebutuhan pokok dan bahan makanan masih tetap buka. Dan pemerintah sudah menjamin bahwa pasokan pangan dan kebutuhan lainnya tetap aman selama masa lockdown, sehingga tidak perlu panic buying.

Saat berbelanja, physical distancing juga harus tetap dijaga. Minimarket biasanya melakukan pembatasan jumlah orang yang masuk, bahkan hanya memperbolehkan satu orang saja yang masuk, bergantian. Supermarket juga membatasi jumlah orang yang berbelanja dalam satu waktu, sesuai kapasitas supermarket. Tak jarang terlihat antrean untuk berbelanja. Antrean pun dibuat berjarak, minimal 1 meter. Antrean berjalan dengan tertib.

Bus sebagai alat transportasi umum utama di Auckland masih beroperasi, hanya saja jadwal bus dikurangi dari biasanya. Jumlah penumpang yang naik bus juga dibatasi agar di dalam bus tetap bias jaga jarak. Lorong di bagian depan bus diberi pembatas agar driver bus terjaga jaraknya dari penumpang. Ongkos bus pun digratiskan, namun demikian bus lebih sering terlihat kosong, pertanda memang tidak banyak orang yang keluar rumah.

Baca juga :  GMKF Flamboyan dan Komite Peduli Bencana Semprotkan Disinfektan di Anyelir

Selama lockdown, tentu banyak warga yang jadi tidak bisa bekerja, atau bahkan kehilangan pekerjaan. Bisnis tidak mendapat pemasukan karena harus tutup. Namun demikian, pemerintah Selandia Baru sudah menyediakan subsidi untuk para pemilik bisnis sehingga mereka tetap bisa menggaji pegawainya walau mereka tidak bekerja sama sekali. Bahkan walaupun kita bukan pekerja tetap, ataupun bukan warga negara Selandia Baru, masih bisa mendapatkan gaji. Dari $12,1 miliar COVID-19 Economic Package yang digelontorkan oleh pemerintah, porsi terbesar memang ada untuk subsidi ini. Diharapkan warga tetap tenang diam di rumah tanpa perlu khawatir akan makan apa.

Anak-anak pun tak luput dari perhatian pemerintah. Anak-anak terdampak karena mereka tidak bisa sekolah dan main seperti biasanya. Playground yang ada di taman-taman publik tidak boleh digunakan selama lockdown karena berpotensi jadi media tinggalnya virus COVID-19. Menjelang libur Paskah lalu, Perdana Menteri mengirimkan pesan hangat untuk anak-anak di Selandia Baru disertai gambar telur Paskah untuk diwarnai anak-anak. Pemerintah juga mengirimkan laptop, router internet, serta buku pelajaran untuk anak-anak yang tidak memiliki peralatan untuk belajar online dari rumah.

Dua minggu setelah lockdown, usaha untuk melawan COVID-19 di Selandia Baru ini tampak mulai membuahkan hasil. Angka jumlah kasus baru mulai menurun, bahkan beberapa hari terakhir ini jumlahnya sudah di bawah 10.

Baca juga :  Pakar Teknologi Informasi: Belum Bisa Dipastikan Data yang Diretas itu dari Sistem KPU

Total kasus COVID-19 di Selandia Baru per 22 April ini ada 1.451. Kasus meninggal ada 14, sementara yang sudah sembuh ada 1.036. Dengan demikian jumlah kasus aktif saat ini tersisa 401 kasus.

Sejauh ini, Selandia Baru termasuk negara yang bisa mengatasi COVID-19 dengan baik. Pemberlakuan lockdown lebih awal terbukti sudah mampu menghambat penyebaran COVID-19 sehingga tidak perlu ada banyak korban yang berjatuhan. Jumlah kasus tidak meledak, fasilitas kesehatan pun tidak kewalahan menghadapi pandemi ini.

Penetapan lockdown tentu juga bukan keputusan yang mudah buat pemerintah Selandia Baru. Namun PM Jacinda Ardern segera mengambil keputusan itu karena mengutamakan keselamatan nyawa warganya di atas kepentingan ekonomi. Beliau juga komunikator yang bagus. Penyampaian informasi yang terbuka, jelas, sederhana, dan mudah dimengerti membuat mayoritas warga percaya dan mengikuti apa yang sudah diputuskannya.

Beliau juga selalu menekankan agar warga selalu berbuat baik pada orang-orang di sekitarnya dan bersatu dalam melawan COVID-19 ini. Tak jarang PM Jacinda Ardern menggunakan frasa “tim 5 juta orang” yang menggambarkan bahwa usaha melawan ini adalah usaha bersama dari total penduduk Selandia Baru yang berjumlah sekitar 5 juta jiwa. (*)

Reisha Humaira adalah alumni ITB dan  Waseda University, Jepang. Bekerja secara remote di Bukalapak sebagai software engineer. Sekarang bersama suami yang mengambil studi di The University of Auckland.