Oleh: Pramono

 

Banjir bandang di Banyuwangi (22/6), gempa bumi di Lombok (29/7), gempa bumi disertai gelombang tsunami di Palu (28/9), banjir di berbagai wilayah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat (12/10), dan tsunami Selat Sunda (22/12) merupakan bencana alam cukup besar yang terjadi pada 2018 ini. Sama halnya dengan pepatah Perancis, l’histoire se répète ‘sejarah akan berulang’, bencana alam juga demikian. Serangkaian bencana alam yang terjadi di negeri ini merupakan pengulangan dari bencana alam yang terjadi sebelumnya.

Sumatera Barat dengan kondisi seismik aktif karena adanya zona patahan Sumatera (Semangko Fault) merupakan satu wilayah yang kerap terjadi gempa bumi. Tercatat sejak 1822 telah beberapa kali gempa bumi kuat, baik tanpa atau dengan diikuti gelombang tsunami. Selain gempa bumi, dalam beberapa edisi Midden – Sumatra, diketahui bahwa wilayah Sumatera Barat juga sering dilanda bencana banjir.

Pasar Padangpandjang, setelah gempa bumi 28 Juni 1926_Koleksi KITLV(1)

Sayangnya, sangat minim sekali catatan—terutama dari penduduk lokal—yang merekam peristiwa bencana alam yang berulang tersebut. Informasi kebencanaan yang selalu dirujuk adalah laporan-laporan kolonial yang jumlahnya juga tak banyak. Buku Semasa Ketjil Dikampung (1913-1928) oleh Muhamad Radjab (1950) merupakan salah satu yang mengisahkan gempa bumi Padangpanjang yang terjadi pada 28 Juni 1926.

Keesokan paginja, tg 28 Juni 1926, kami bermain tali di halaman surau. Zainal memakai badju kausnja jang merah kesumab. Geli kami melihanja; kami tertawa semua, dan terus menerus memperoloknja. Djam 10 tepat, terdengar bahana gemuruh dan deruman mendahsjatkan, dan pada detik itu djuga tanah seluruhnya gojang, gonjang hebat sekali. Surau, rumah-rumah kampung, pohon-pohon dan batang-batang kelapa bergegar-gegar berajun-ajun menakutkan. Gempa! Gempa!”, tulis Muhamad Radjab memulakan cerita tentang dasyatnya gempa bumi Padangpanjang. Gempa dengan kekuatan 7,8 skala Richter ini juga mengakibatkan banjir di beberapa pemukiman karena luapan air Danau Singkarak.

Selain catatan Muhamad Radjab tersebut, ditemukan juga catatan yang lebih lama dalam bentuk manuskrip (naskah) yang merekam peristiwa bencana alam di Sumatera Barat. Dua naskah yang ditulis oleh Mohamad Tahir gelar Tuanku Nan Cerdik merupakan catatan yang penting tentang peristiwa bencana banjir dan gempa bumi yang terjadi di Talu, Pasaman. Naskah pertama berjudul “Syair Nagri Taloe Tarendam, 1890”. Naskah ini ditulis di atas kertas Eropa dengan cap kertas Elephant  dan GUTHRIE & CO setebal 40 halaman. Dalam setiap halaman terdapat 22 baris tulisan dengan jumlah keseluruhan sebanyak 190 bait syair yang ditulis dengan aksara Latin. Naskah kedua berjudul “Gampa Besar di Negri Taloe” yang juga ditulis dalam bentuk syair setebal delapan halaman. Naskah ini berisi informasi berkenaan dengan peristiwa gempa Talu yang terjadi pada 17/18 Mei 1892.

Baca juga :  "JANGAN DI BUKAK" Kantor Wali Nagari Kambang Utara Dipalang Warga

Kedua naskah tersebut tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dan terdaftar dalam Catalogue of Malay, Minangkabau, and South Sumatran Manuscripts in the Netherlands (Volume One) yang disusun oleh Teuku Iskandar (1999: 583-584). Pada bait terakhir “Syair Nagri Taloe Tarendam, 1890” disebutkan: Hamba yang bodoh yang empunya karangan / Muhammad Tahir nama yang asal(kan) / Tuanku nan Cerdik orang gelarkan / di Kampung Koto Dalam tempat kejadian. Syair ini selesai ditulis pada 22 Juli 1899 (sembilan tahun setelah banjir terjadi).

Peristiwa banjir Talu 1890 yang dikisahkan dalam 190 bait syair itu secara umum dapat dibagi dalam dua bagian peristiwa. Bait pertama sampai bait 93 mengisahkan kepanikan masyarakat Talu menghadapi banjir besar. Berikut ini suntingan teks lima bait syair pada bagaian pertama syair tersebut.

 Pada malam salasa, namanya hari

 hujan yang lebat tiada terperi  

badan tertidur tak sadar diri

tidak mengenal kanan dan kiri

 

Jadilah bangun haripun siang

 tabuh berbunyi sangatlah garang

lalulah duduk badan tercengang

 apalah gerangan bencana datang

 

Di hilir di mudik, tabuh berbunyi

dalam sesaat tiadalah sunyi

apa nan sudah dalam negeri?

Belumlah pernah demikian peri

 

Ada sebentar, tampaklah orang

berlari ke hilir saja menantang

hamba melihat heran tercengang

apalah gerangan bala nan datang

 

Bertutur saudara berkawan-kawan

mengatakan: “bukit sudahlah taban

bertepuk bukit kiri dan kanan

menutup muara ditakdirkan Tuhan.

 Bagian kedua adalah gambaran tenggelamnya beberapa kampung di Talu dan kerugian yang diderita dikisahkan pada bait 94 sampai 190. Gambaran tentang ini dapat dilihat dalam kutipan dua bait syair berikut.

 Dilihat anak tidaklah ada

lalu menangis, manampar dada

pulang ke kampung berhati duka

fi’il seperti orangkan gila

 

Sudahlah kabar orang yang mati

sekarang berbalik kabar negri

sekalian anak buah, marilah lari

ke negri lari, mencari rezeki.

 

Susah sedikit dalam pikiran

barang berserak, kiri dan kanan

pada siapa hendak dicurahkan

sekalian anak buah kena cobaan

 

Air nan gadang bertambah dalam

berapa buah kampong terendam

negeri tak ubah bagai lautan

berpanjang-panjang taulan di dalam

 

Dua tahun setelah banjir tersebut, pada 1892 terjadi gempa besar yang peristiwanya dikisahkan dalam syair “Gampa Besar di Negri Taloe”. Berikut gambaran gempa besar tersebut.

 

Astaghfirullah heranlah hati

kebesaran Tuhan alam jauhari

tanah yang rendah menjadi tinggi

itupun cobaan di dalam negeri

 

Adalah pula di kampung Jambak

kampung besar, rumahnya banyak

semuanya itu habislah rusak

ada yang rebah ada yang tercampak

 

Tidaklah lagi dipanjangkan kisah

orang negeri menaruh susah

pada malam itu berpindah-pindah

mencari tempat mana yang endah

 

Ada pula surau sesuatu

berhimpunlah orang pula di situ

melarikan anak srta cucu

bunyinya ucap bertalu-talu

Naskah lain yang penting yang juga mencatat peristiwa gempa bumi adalah naskah “Catatan Harian Haji Abdullatif” yang ditemukan oleh Apria Putra pada 2017. Di antara kandungan isi naskah ini adalah teks berkenaan dengan gempa Padangpanjang tahun 1926: 18 Hijjah, Isnain, 28-6-[19]26. Sedang murid sekolah puas di Bukittinggi Sekolah Diniyyah kira-kira pukul 10 berderak rumah sekolah, bermulai gompo. Setengah murid sedang di halaman dan setengah sedang di rumah, yaitu anak-anak perempuan. Maka anak-anak laki-laki yang masih di rumah disuruh turun dan anak perempuan juga dipanggil disuruh turun tidak mereka berbunyi lama. Terus hamba turun. Tiba di bawah dilihat batang kerambil (karambia) menggerak-gerak. Dan dilihat arloji pukul 10.08 hamba berhenti. Dilihat anak perempuan baharu mereka pandai mengatakan kami pening. Lalu di suruh juga turun, baru mereka pandai berjalan lambat-lambat sebab pening. Mereka semua disuruh pulang sebab darah sudah berdebuk. Biarlah berhenti dahulu (Apria Putra [peny.], 2018).

Baca juga :  Naskah-naskah Peninggalan Syekh Muhammad Sa’id Bonjol
Naskah catatan gempa 1926 Karya Abdullatif Syakur

Selain ketiga naskah yang berisi catatan peristiwa bencana alam yang pernah terjadi di beberapa wilayah Sumatera Barat di atas, juga ditemukan naskah-naskah Minangkabau yang isinya berupa tafsiran kejadian setelah gempa terjadi. Naskah-naskah jenis ini kemudian dikenal dengan “Takwil Gempa”. Naskah takwil gempa merupakan sebuah naskah yang memberikan keterangan atau tafsiran atau takwil terhadap gempa. Teks ini memberikan keterangan dampak dari gempa yang terjadi. Teks takwil gempa ini membuktikan kepada kita yang hidup pada masa ini bahwa gempa menjadi bagian ingatan kolektif masyarakat, ingatan kolektif tentang kebencanaan.

Hingga saat ini sudah 22 naskah Minangkabau yang ditemukan yang di dalamnya terkandung teks “Takwil Gempa”. Yusri Akhimuddin (2012) menemukan 17 naskah Minangkabau yang berisi teks takwil gempa. Ketujuh belas naskah tersebut digunakan sebagai sumber primer untuk penelitian tesisnya yang berjudul “Naskah-Naskah Gempa: Perspektif Orang Melayu Minangkabau tentang Gempa Bumi”. Tesis ini sudah diterbitkan oleh penerbit LeKAS Publishing dengan judul yang sama pada 2013.

Berikutnya, empat naskah takwil gempa, yakni “Bab Menyatakan Gempa” dari Balaigurah, “Alamat Gempa” dari Taeh, “Takwil Gempa” dari Kototuo, dan “Takbir Gempa”. Keempat naskah ini merupakan sumber primer penelitian Pramono, Apria Putra, dan Ridwan Bustamam (2018). Peneitian dengan judul “Kajian Tematik Manuskrip “Syair Nagari Taloe Tarendam” dan “Gempa Bumi” di Sumatera Barat: Perspektif Filologis dan Teologis tentang Bencana Alam” merupakan salah satu program penelitian Kajian Tematik Manuskrip Keagamaan Nusantara yang ditaja oleh Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementeraian Agama Republik Indonesia.

Baca juga :  Kerajaan Arab Saudi Juga Tiadakan Shalat Tarawih Berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Naskah terakhir adalah naskah “Takwil Gempa dan Gerhana” dari Padang Pariaman. Saat ini, naskah tersebut disimpan oleh Chairullah (peneliti naskah dan Dosen Luar Biasa UIN Imam Bonjol). Naskah ini terdapat di dalam satu bundel naskah yang di dalamnya juga terdapat teks-teks lain. Salah satu kutipan di dalam naskah ini, “Akan perang sama raja-raja dan orang besar-besar akan berperang. Bermula jika pada bulan Zulqa‘idah akan gempa dan gerhana matahari atau bulan alamat isi bumi itu akan binasa, jika gempa yang dalam bulan itu alamat akan orang pertapa, jika gempa malam pada bulan itu alamat banyak orang akan (tidak terbaca) daripada bumi itu pada bumi yang lain. Bermula gerhana pada bulan Zulhijah gerhana matahari alamat akan beras padi akan menjadi, jika gerhana bulan alamat orang akan sakit isi bulan alamat akan kurang rupanya, jika gempa siang atau malam alamat banyak orang akan mati.”

Naskah Takwil Gempa dan Gerhana koleksi Chairullah

Semua catatan tentang kebencanaan di atas merupakan memori penting untuk terus dilekatkan dalam ingatan kita yang hidup pada masa sekarang. Memori yang harus menjadi ingatan kolektif, ingatan tentang kebencanaan. Memori tersebut tidak hanya merekam ingatan peristiwa, tetapi juga kearifan bahwa bencana alam adalah sebuah keniscayaan dan terjadi berulang. Berdamai dengan bencana adalah sikap yang harus dibangun untuk menghadapi bencana alam. Berdamai dengan bencana bukan berarti bersikap pasrah, tetapi mampu melakukan upaya yang seharusnya dilakukan sehingga bisa lebih siap ketika bencana datang.

Memori kebencanaan itu adalah salah satu media untuk memperkuat literasi mitigasi bencana. Melaluinya kita dapat belajar bagaimana mempersiapkan diri sedini mungkin dan meningkatkan kesadaran yang tinggi untuk menghadapi bencana alam. Seringkali yang terjadi adalah kepanikan yang teramat sangat saat bencana terjadi; seakan-akan bencana itu belum pernah terjadi sebelumnya. Jika l’histoire se répète ‘sejarah akan berulang’, bencana alam pun juga demikian. (*)

Pramono, Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas