Oleh: Bimbi Irawan

 

Kawasan Nagari Saribu Rumah Gadang merupakan kawasan wisata paling populer di Kabupaten Solok Selatan. Pada tahun 2017, kawasan Saribu Rumah Gadang ini memperoleh juara pertama Anugerah Pesona Indonesia (API) pada sesi kampung adat populer yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Semenjak itu, kunjungan wisatawan ke kawasan ini terutama pada hari libur semakin meningkat, tidak hanya pengunjung dari dalam negeri saja tetapi juga ada yang berasal dari mancanegara.

Kawasan Saribu Rumah Gadang berlokasi di Nagari Koto Baru Kecamatan Sungai Pagu. Lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Muaralabuh, sekitar 2 km dari Taman kota Muaralabuh. Dalam kawasan ini, rumah gadang berdiri dalam jarak yang cukup rapat yang tersebar di tiga jorong utama Bariang Rao-Rao, Lubuk Jaya, dan Kampung Nan Limo. Lokasinya berada tidak jauh dari jalan lintas Muara Labuh – Padang Aro.

Rumah-rumah gadang dalam kawasan ini adalah rumah gadang yang dibangun oleh kaum dan suku di Nagari Koto Baru. Limpahan hasil sawah telah memberikan kemakmuran bagi penduduk Koto Baru sehingga mereka mampu membangun puluhan rumah gadang.

Untuk mengakses Kawasan Saribu Rumah Gadang dari Kota Padang memakan waktu sekitar 3-5 jam, karena mesti menempuh jarak sekitar 135 km. Namun jangan kuatir, jarak sejauh itu dihiasi dengan pemandangan yang indah. Sebelum sampai di kawasan Saribu Rumah Gadang ini, pengunjung terlebih dahulu dapat menikmati pesona hamparan Kebun Teh Danau Kembar dan Danau Diateh, karena kedua objek wisata ini berada persis di jalan lintas Padang – Muaralabuh.

Selepas Danau Diateh, pengunjung menikmati lembah sempit Nagari Air Dingin hingga sampai di Kecamatan Pantai Cermin. Menikmati rute Air Dingin – Surian ini seakan-akan menyusuri Pegunungan Alpen-nya Negara Swiss, cuma bedanya lembah disini didominasi oleh hijaunya pepohonan. Dari Surian ke Muaralabuh jalanan lebih datar dan semakin ke Muaralabuh lembah yang terhampar semakin menjadi lebar. Dalam lembah lebar inilah beradanya Kawasan Saribu Rumah Gadang.

Baca juga :  Di Tengah Lockdown Ketat India, Sekitar 100.000 Flamingo Muncul di Mumbai

Kawasan Saribu Rumah Gadang, walaupun menyandang nama seribu, jumlah rumah gadang yang sebenarnya tidaklah sampai seribu, namun karena populasi rumah gadang dalam satu kawasan yang terbanyak di Sumatera Barat, maka dijulukilah kawasan ini dengan saribu rumah gadang. Julukan tersebut diberikan oleh Ibu Meutia Hatta, putri Proklamator Bung Hatta yang mengagumi keelokan rumah gadang di Kabupaten Solok Selatan. Keunikan sebuah pemukiman nagari di Minangkabau pada dahulunya dekat dengan sumber air, salah satunya dekat dengan sungai, begitu juga dengan kawasan seribu rumah gadang yang berada dalam kawasan seluas sekitar 24 Ha ini berada dalam balutan sungai Batang Bangko.

Untuk menikmati kawasan Saribu Rumah Gadang sebaiknya dilakukan dengan berjalan kaki, terutama bagi mereka yang memiliki hobby photography. Rumah Gadang dalam kawasan Nagari Koto Baru ini tipenya beragam, ada yang Lareh Koto Piliang dan ada pula yang Lareh Bodi Caniago. Sehingga selama perjalanan mengelilingi kawasan, kita bisa menyaksikan puluhan rumah gadang dengan berbagai tipe atau jenis seperti rumah gadang tipe gajah maharam atau rumah gadang surambi aceh. Dilihat berdasarkan gonjong, terdapat rumah gadang yang memiliki 4, 5, 6, atau 7 gonjong. Berdasarkan tipe lantai, juga terdapat rumah gadang yang berlantai rata dan rumah gadang yang memiliki anjung di sisi kanan kirinya.

Disamping rumah gadang, di kawasan ini juga terdapat banyak lumbung padi yang pada masanya dulu merupakan tempat penyimpaman padi. Selain rumah gadang, pengunjung juga bisa menikmati susasan kehidupan sehari-hari di kawasan rumah gadang. Kalau datang pada masa panen padi, aktivitas menjemur padi di halaman rumah menjadi pemandangan yang unik.

Baca juga :  Pak Jokowi, Ibu Sujiatmi dan Ibu Kita

Rumah gadang di Nagari Koto Baru ini merupakan rumah gadang kaum dan suku. Dilihat dari struktur adat di Nagari Koto Baru, suku-suku utama di Nagari Koto Baru meliputi suku Malayu IV Niniak, Panai Tigo Ibu, Tigo Lareh Nan Batigo, dan Kampai. Suku-suku utama tersebut ada juga yang terbagi ke dalam suku-suku yang lebih kecil. Misalnya suku Panai terbagai atas suku Panai Tangah, Panai Tanjung, dan Panai Lundang. Suku Malayu IV Niniak terbagi pula atas suku Malayu, Bariang, Durian, dan Koto Kaciak. Sedangkan suku Tigo Lareh terbagi atas suku Kutianye, Sikumbang, dan Caniago.

Menginaplah di Seribu Rumah Gadang

Selain deretan rumah gadang, kawasan ini juga memiliki sejumlah surau dan masjid untuk sarana beribadah. Dua di antaranya adalah Masjid Raya Koto Baru dan Surau Menara. Masjid Raya Koto Baru merupakan masjid nagari yang berlokasi di gerbang kawasan rumah gadang. Masjid ini berasitek punden atau teras berundak dan di bagian puncaknya dihiasi dengan empat buah gonjong. Jika dilihat sepintas, Masjid Raya Koto Baru ini seakan menjadi kembaran dari Masjid Raya Rao-Rao di Nagari Rao-Rao Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar. Dilihat dari puncaknya, Masjid Raya Koto Baru merupakan masjid yang bergaya langgam Koto Piliang.

Lanjut ke Surau Menara yang berlokasi di Jorong Lubuk Jaya. Dinamakan Surau Menara karena bagian atap suraunya dibuat berbentuk menara. Fungsi menara ini dulunya sebagai tempat mengumandangkan azan bagi muazin, karena dulu belum ada pengeras suara. Dan dari menara ini kita bisa memandang hamparan gonjong rumah gadang di kawasan Saribu Rumah Gadang.

Baca juga :  Menjalani Masa Lockdown di Rantau Selandia Baru

Baik Masjid Raya Koto Baru maupun Surau Menara telah berdiri sejak zaman Kolonial Belanda. Surau Menara dapat kita lihat koleksi photonya di negeri Belanda. Dengan menjejaki kaki di Surau Menara ini, seakan kita menjelajah tempat ini satu abad yang lalu pada masa Kolonial Belanda, dimana

Salah satu cara menikmati kawasan Saribu Rumah Gadang adalah dengan menginap di kawasan ini. Beberapa rumah gadang sudah dijadikan sebagai homestay sehingga pengunjung dapat memperpanjang masa kunjungan di kawasan ini. Para pelaku bisnis di bidang pariwisata dapat melengkapi kunjungan ini dengan menawarkan paket wisata yang mana pengunjung bisa menikmati kehidupan khas perkampungan Minangkabau. Misalnya dengan melakukan aktivitas membajak sawah atau menanam padi di sawah.

Atau pengunjung juga bisa menikmati jernihnya sungai Batang Bangko yang mengalir di dekat kawasan Saribu Rumah Gadang ini dengan aktivitasnya seperti pacu codang, rakit yang terbuat dari pohon pisang. Kawasan rumah gadang dan Batang Bangko ini pernah menjadi lokasi shooting film Di Bawah Lindungan Ka’bah. Keindahan alam di lembah Muaralabuh dengan keanggunan rumah gadang dan masjid-masjid tuanya yang dipagari pegunungan Bukit Barisan, belum terasa lengkap jika tidak menikmati makanan khas Muaralabuh seperti pangek pisang, limpiang, atau limpiang pinyaram, baik sebagai suguhan bagi pengunjung atau untuk menjadi oleh-oleh setelah meninggalkan kawasan.

Peneliti pada RANCAK PUBLIK Rumah Kajian Perencanaan dan Kebijakan Publik