Imbauan pemerintah agar tak mudik–  tak usah pulang kampung dulu di masa wabah COVID-19, karena dicemaskan akan membawa penyebaran virus corona, sudah diketahui masyarakat. Hal itu, demi kebaikan perantau dan orang kampung, karena beberapa kasus terkonfirmasi positif COVID-19, tertular melalui mereka yang baru datang dari luar Sumatera Barat, termasuk Jakarta dan Malaysia.

Pandemi corona membuat para perantau berada pada situasi dilematis. Pulang takut menjadi pembawa virus, tapi bertahan di rantau juga bukan perkara mudah.

Setidaknya hal itulah yang dirasakan oleh Amril, 35, perantau asal Sijunjung yang sudah mengadu nasib di Jakarta sejak 2006. Setiap lebaran, ia selalu mengusahakan untuk bisa mudik ke kampung halaman.

“Ya, uang harus dikumpulkan sedikit demi sedikit buat beli tiket. Kalau tidak bisa naik pesawat, ya naik bus. Yang penting pulang,” ujarnya.

Namun, tahun ini, menyusul imbauan pemerintah untuk tidak mudik pada saat lebaran, ia dan istrinya sudah memutuskan untuk menunda kepulangan sampai situasi mereda.

“Semoga corona cepat berakhir, biar bisa pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga besar.”

Jauh hari, seperti perantau pada umumnya, Amril sudah membeli tiket pesawat dari Padang ke Jakarta. “Karena harganya murah. Tapi kalau dari sini ke Padang masih mahal, jadi belum dibeli.”

Baca juga :  Transparansi, Data Penerima Bansos Padang Panjang Bisa Dicek Online

Rencananya, ia akan membeli tiket pulang begitu uang terkumpul. Namun, rencana itu tak kunjung bisa ia realisasikan. Dua minggu yang lalu, perusahaan ekspedisi tempat ia bekerja memutuskan untuk ‘mengistirahatkan’ sementara waktu beberapa karyawan, termasuk dirinya. Penghasilannya dari kerja nyambi sebagai pengemudi ojek daring pun menurun drastis selama sebulan belakangan.

“Walaupun nanti bisa membeli tiket bus, saya khawatir menjadi pembawa penyakit (akibat virus korona) ini ke kampung,” akunya.

Hal serupa juga dirasakan oleh perantau asal Pandai Sikek,Yetti Novia, 32. Ibu tiga anak yang awalnya berjualan pakaian muslim di sekitar kediamannya di Banten ini seminggu terakhir memutuskan untuk membuka warung makanan di pinggir pantai Bayah. “Pakaian dan aksesoris kurang laku sekarang. Makanya coba usaha lain, ya buka warung begini,” tuturnya.

Meski ia mengakui tak mudah, membuka warung setidaknya bisa menjadi alternatif sumber pendapatan keluarga. “Pengunjung pantai jelas tak ada, karena wabah ini. Tapi alhamdulillah ada pengemudi truk batubara yang sering mampir makan dan minum,” ujar Yetti.

Yetti dan suaminya sempat ingin pulang kampung ketika omzet penjualan baju menurun. Apalagi ketika mengetahui beberapa kenalan perantau asal Pandai Sikek di Banten sudah pulang kampung sejak bulan lalu. “Tapi di kampuang mau apa? Mereka yang sudah pulang katanya malah tambah pusing di sana.”

Baca juga :  Bidan Desa di Lubuk Basung Positif COVID-19, Terpapar dari Petugas Labor

Selain itu, ia dan suami juga memikirkan kemungkinan menjadi pembawa virus (carrier) ketika mudik ke kampung halaman. “Khawatir, tentu saja. Makanya kami sudah memberitahu keluarga (mengenai hal ini) dan mereka maklum jika misalnya kami tidak pulang lebaran tahun ini,” ujarnya.

Peran Organisasi Perantau

Amril mengatakan bahwa sejauh ini belum ada kegiatan atau program dari organisasi perantau tempat ia berasal terkait situasi tanggap darurat corona. “Mungkin sedang direncanakan, tapi saya tidak tahu pasti. Yang jelas sampai saat ini saya belum mendengar kabar apapun,” ujarnya.

Ia kemudian memberikan nomor telepon seluler salah seorang pengurus dan meminta kami untuk bertanya langsung. Ketika dihubungi, pengurus yang bersangkutan (yang namanya tidak ingin disebutkan) mengakui bahwa mereka memang tak punya program untuk merespon situasi saat ini. “Organisasi sedang vakum. Jadi ya tidak ada kegiatan sama sekali,” tulisnya melalui aplikasi Whatsapp.

Sementara itu, Yetti justru mengatakan bahwa tidak ada organisasi perantau asal Pandai Sikek di Banten. “Jadi saat-saat seperti sekarang ya harus bisa mengandalkan diri sendiri. Dulu di Jakarta ada (organisasi perantau) dan lumayan aktif.”

Baca juga :  15 Orang Penerima Beasiswa Jurnalistik Diundang ke inioke.com

Hal berbeda disampaikan oleh perantau asal Talawi, Betrin Yoana Siska, 33 yang tergabung dalam Ikatan Warga Talawi (IWT), organisasi perantau asal Talawi, Sawahlunto. Mereka menggagas  program bantuan Alat Pelindung Diri (APD) yang nantinya akan diberikan kepada dokter dan perawat di Rumah Sakit Sawahlunto dan Puskesmas Talawi. “APD masih dalam tahap pengerjaan di Bandung. Antreannya lumayan panjang, mengingat permintaan APD saat ini sangat tinggi,” ujar Betrin.

Ia berharap bantuan tersebut bisa membantu upaya penanganan COVID-19 di Sumatra Barat, khususnya Kota Sawahlunto. “Tenaga medis jelas harus menjadi prioritas utama. Banyak dokter yang memerlukan APD ini, apalagi di daerah. Dan semoga saja pandemi ini segera berakhir.”

Ibu satu anak yang tinggal di Depok, Jawa Barat, ini juga memilih untuk tidak mudik karena takut akan menjadi pembawa virus ke kampung halaman. “Kita harus memutus rantai penyebaran corona, salah satunya ya dengan tidak pulang dulu. Meski di sini juga situasinya juga sangat mengkhawatirkan, kembali ke kampung jelas bukan pilihan yang bijak,” pungkasnya.  (Afri Meldam, Kontributor inioke.com)