Padang, inioke.com–Helat Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVIII yang digelar di tengah pandemi Covid-19 di Kota Padang, Sumatera Barat menaruh harapan besar bagi masyarakat Indonesia dalam merajut semangat persatuan di tengah kemajemukan.

Sebagai tuan rumah perhelatan dua tahunan yang dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo dan Menag Fachrul Razi pada 12 November 2020 ini, masyarakat Ranah Minang diharapkan dapat menjadi cermin yang mampu melecut persatuan umat dalam bingkai NKRI.

Hal ini disampaikan Kepala Kanwil Kemenag Sumbar Hendri di sela-sela memimpin rapat persiapan kunjungan kerja Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi ke Provinsi Sumbar sekaligus menutup rangkaian MTQ Nasional ke 28.

“Tentunya harapan besar masyarakat Indonesia itu tertuang dalam tema besar Musabaqah Tilawatil Quran Nasional XXVIII yaitu Mewujudkan SDM Unggul, Profesional, dan Qur’ani untuk Indonesia Maju,” kata Hendri, Rabu (18/11).

“Dari tema itu semakin jelas bahwa Indonesia Maju yang diharapkan itu adalah Indonesia yang mampu melaksanakan nilai-nilai Quran,” sambungnya.

Ia menambahkan, ada moderasi beragama di antara nilai-nilai Quran itu, seperti yang sering disampaikan Menteri Agama Fachrul Razi bawa Moderasi Beragama bukanlah memoderatkan agama.

Baca juga :  Pesisir Selatan laksanakan sejumlah kegiatan cegah corona

“Melainkan moderasi dalam menjalankan ajaran agama yang dalam ajaran Islam disebut dengan wasathiyah,” ujarnya.

Menurut Hendri ada empat indikator Moderasi Beragama, yaitu: komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, dan menghargai kearifan lokal. Indikator Moderasi Beragama, lanjut Hendri, nampak jelas dari perhelatan MTQN ke 28 di Sumbar. Soal komitmen kebangsaan dijelaskannya juga sudah ditujukkan oleh para tokoh kemerdekaan, para kyai asal Sumatera Barat. Komitmen kebangsaan itu pun menyepakati Pancasila sebagai Ideologi, Bhineka Tunggal Ika , UUD 1945 serta komitmen menjaga NKRI.

Terkait indikator anti kekerasan dalam Moderasi Beragama, dijelaskan Hendri, bahwa semua agama di Indonesia senantiasa mengajarkan kedamaian, kerukunan, dan toleransi antar umat beragama. Dalam Al-Qur’an, ada petikan ayat yang menegaskan bahwa tidak kami utus engkau Muhammad melainkan menjadi rahmat bagi sekalian alam.

“Artinya bahwa Islam itu rahmat, bukan hanya bagi umat muslim melainkan bagi sekalian alam dan isinya,” ujarnya.

“Alhamdulillah dalam MTQN ke 28 di Sumbar semangat toleransi ini kita aplikasikan, di mana kami juga melibatkan umat beragama lainnya seperti Kristen, Katolik, Buddha dan Hindu dalam mensukseskan gelaran MTQ,” sambungnya.

Baca juga :  Waspada Corona, Bupati Instruksikan Dua Pasar di Pesisir Selatan Ditutup

Senada dengan Kakanwil Kemenag Sumbar, Muryadi Eko Priyanto, Pembimbing Masyarakat Buddha di Kota Padang ini mengaku senang dilibatkan dalam gelaran MTQN ke 28. Pria 49 tahun asal Semarang ini menjadi koordinator Humas dan Protokoler di ajang MTQ.

Ia bersama panitia non muslim lainnya bertugas meninjau venue-venue lomba, termasuk di Masjid Raya Padang.

“Ini pertama kali dalam hidup saya dilibatkan dalam helat bergengsi bagi umat muslim. Saya senang sekali dilibatkan dalam panitia dan ikut menyukseskan gelaran MTQN ke 28,” ujar Eko sumringah.

Ia mengakui bahwa masyarakat Minangkabau sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam kehidupan beragama dan menghargai perbedaan. (ioc/rls)