Oleh: Pramono

 

 

Selama ini, hasil kajian filologi—ilmu yang menggunakan naskah sebagai objek penelitiannya—tidak profitabel. Padahal, seharusnya menggali naskah, tidak sama dengan menggali kuburan, lalu menemukan tulang belulang, merangkainya, memajang di museum, dan selesai. Menggali naskah adalah usaha revitalisasi kodeks (bahan naskah/tangible) dan teks (isi kandungan naskah/intangible) untuk direlevansikan dengan kehidupan sekarang.

Sebagai peninggalan budaya tertulis, naskah-naskah di Indonesia umumnya dan Sumatera Barat khususnya merupakan ‘harta karun’ yang belum banyak tergali. Hingga kini, di Sumatera Barat misalnya, hampir seribu naskah yang ditemukan. Sebagian besar dari naskah yang ditemukan merupakan koleksi surau-surau tarekat sebagai hasil dari tradisi intelektual di kalangan ulama-ulama Minangkabau pada masa lampau. Sayangnya, naskah-naskah dengan kekayaan kandungan (sastra, sejarah, hagiografi, agama, pengobatan tradisional dan lain-lain) yang tersimpan di surau-surau tarekat itu belum terkelola dan dikembangkan.

Padahal, jika mutiara yang terpendam di dalam naskah itu dikelola dan dikembangkan, maka hasilnya dapat menyejahterakan khalayak luas. Bukankah dewasa ini peradaban umat manusia telah memasuki peradaban yang lazim disebut dengan Era Ekonomi Kreatif? Sebuah peradaban di mana kebudayaan dapat menjadi deposit mata tambang baru jika dikelola secara cerdas.

Baca juga :  Penyaluran BLT Pemprov Sumbar Terakhir Bulan ini, Lanjutannya Belum Dibahas

Mengembangkan teks klasik yang terkandung di dalam naskah menjadi teks yang dapat terbaca untuk generasi hari ini merupakan salah satu yang dapat dilakukan. Naskah-naskah saat ini tertulis dalam aksara Jawi yang tidak semua orang mampu membacanya. Jika ingin lebih istimewa, maka menjadikan hasil suntingan teks tersebut menjadi komik, skenario drama/film, film kartun dan sederet kemasan terkini yang dibuat berdasarkan kajian teks-teks klasik merupakan salah satu contoh menggali “tambang kebudayaan” baru.

Selain itu, kekayaan ragam hias yang terdapat di dalam naskah (iluminasi) juga dapat dikembangkan menjadi beragam motif kain. Iluminasi merupakan ragam hias dengan kekayaan estetika yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai bagi kehidupan sekarang.

Penting dikemukakan bahwa, iluminasi bukanlah sekadar bentuk-bentuk motif yang hanya hadir sebagai gambar tanpa alasan. Iluminasi merupakan tanda berupa simbol-simbol yang sengaja dipilih untuk menyampaikan makna tertentu dan sekaligus merepresentasikan sesuatu. Simbol-simbol tersebut sangat erat kaitannya dengan latar sosial budaya masyarakat tempatan yang telah menghasilkannya.

Baca juga :  Pembangunan Pasar Pusat Padang Panjang Dilanjutkan

Sebagai artefak dari hasil tradisi intelektual Minangkabau pada masa dahulu, sangat disayangkan jika penggalian dan pengembangannya tidak dilakukan. Melalui kajian bentuk, motif, penggunaan warna dan falsafah, keragaman iluminasi tersebut berpotensi untuk dikembangkan untuk keperluan industri kreatif, misalnya rekayasa iluminasi menjadi motif batik, kaus, dan lain sebagainya.

Rekayasa iluminasi naskah Minangkabau menjadi ragam motif kain akan memberi peluang untuk pengembangan ekonomi kreatif masyarakat pemilik artefak tersebut. Hasil rekayasa tersebut dapat menjadi oleh-oleh untuk para pengunjung surau. Hal ini karena kebanyakan surau-surau tarekat di Sumatra Barat merupakan tempat ziarah ribuan orang pada masa-masa tertentu. Selain itu, motif kain yang dihasilkan dari iluminasi dapat juga dimanfaatkan menjadi motif batik khas Sumatera Barat.

Selain itu, menarik untuk dikemukakan bahwa, keberadaan naskah-naskah di surau-surau tarekat di Sumatera Barat—terutama yang berisi sejarah ulama dan ajarannya—sangat dinanti oleh jemaah tarekat untuk disunting. Hal ini erat kaitannya dengan ideologi penganut tarekat, bahwa mengetahui riwayat syekh yang menjadi gurunya atau guru dari gurunya adalah sebuah keharusan.  Penghormatan kepada guru, adab kepada guru, untuk kemudian menjadi suri tauladan bagi kehidupannya. Oleh karena itu, orang berusaha untuk memiliki, membaca ataupun mendengar orang membacakan riwayat gurunya, memuliakan guru agar mendapat syafaatnya (limpahan rahmat), agar ilmu yang didapat beroleh berkah.

Baca juga :  Pemko dan DPRD Padang Panjang Bahas Evaluasi Gubernur Sumbar

Oleh karena merasa “wajib” untuk mengetahui riwayat dan ajaran para syekh tersebut, maka banyak kalangan penganut tarekat Syattariyah. Perihal banyaknya peminat naskah-naskah karyanya itu, menarik untuk dipaparkan tentang teks yang menceritakan sejarah Syekh Abdurrauf, Syekh Burhanuddin, Syekh Surau Baru dan teks hagiografi yang lainya. Buku atau “kitab” itu dimiliki untuk dijadikan pedoman: pedoman bagiamana para syekh tarekat Syattariyah itu beramal ibadah. Jika naskah-naskah yang mengandung teks sejarah dan ajaran ulama disunting dan diterbitkan edisi teksnya, maka terbitan tersebut pastilah akan menjadi “buah tangan” yang istimewa bagi penziarah. (*)

Pramono, Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas