Oleh: Pramono

         

         

Dalam transmisi keilmuan Islam di Pasaman,” kata Ahmad Taufik Hidayat, dkk. (2011), “Syekh Sa’id merupakan mata rantai penting.

Sebagai tokoh Tarekat Naqsabandiyah dan “aktivis” PERTI di awal abad XX, ulama ini telah menjadi daya tarik banyak orang dari berbagai pelosok Minangkabau untuk belajar kepadanya. Bahkan, kemasyhuran Syekh Said atau yang bernama lengkap Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1888-1978) tersebut, ia diberi gelar oleh ulama-ulama seangkatannya sebagai “Imam Bonjol Kedua”.

Naskah Izajah Tarekat Naqsabandiayah peninggalan Syekh Muhammad Sa’id Bonjol

Kesan dari dinamika intelektual tersebut dapat dilihat dari puluhan naskah (yang tersisa) peninggalannya. Naskah-naskah tersebut saat ini tersimpan di sebuah lemari yang terletak di salah satu ruangan di sebelah gobah di dalam bangunan Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Mesjid ini terletak di pinggir jalan raya Pasaman, tepatnya di Jorong Padang Baru, Nagari Gangga Hilir, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman.

Adalah Buya Rasyidin yang pada 2009 menjadi orang yang mendapat amanah untuk merawat surau dan menjaga beberapa peninggalan Syekh Sa’id Bonjol, termasuk puluhan naskah. Pada waktu itu, sungguh memprihatinkan kondisi naskah-naskahnya: puluhan naskah dibungkus dengan plasik dan kain. Setelah dibuka, banyak naskah yang rusak dan tidak dapat dibaca lagi.

Baca juga :  172 Orang Positif COVID-19 di Sumbar, Mulai Menyasar ODP dan OTG

Bersyukur, pada akhir 2009, kelompok mahasiswa IAIN Imam Bonjol yang tergabung di dalam Tim Filologia Mahasiswa Sastra Arab, melakukan pembersihan naskah dan mendeskripsikannya. Sayang, hanya 16 naskah saja yang berhasil diselamatkan. Setahun kemudian, pada 2010, melalui program “Konservasi/ Preservasi Naskah Klasik Keagamaan Nusantara” yang dilakukan oleh Puslitbang Lektur Kementrian Agama RI, naskah-naskah tersebut berhasil diditalkan. Dan, setahun kemudian pula, Ahmad Taufik Hidayat, dkk. (2011) berhasil menerbitkan Katalog Naskah Pasaman: Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol yang di dalamnya juga berisi deskripsi 16 naskah koleksi Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol.

Salah satu koleksi naskah Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol yang menarik dan penting adalah naskah “Nazam Usiat”. Nazam atau syair ini ditulis dengan Jawi pada 25 Jumadil Akhir tahun 1340 H (1918M). Keterangan waktu penulisan ini terdapat pada bait syair terakhir berikut: Dikembang kuat sehelai menyurat / masuk 25 Jumadil Akhir mulai tamat / jikalau salah mamintak hormat / kepada saudara kaum kerabat. Pada tahun 1340 sehari menulis / kalau salah perkataan hendaklah kikis.

Naskah ini telah dibuat edisi teksnya oleh Welmi Dia Wati (2012) untuk keperluan penyusunan skripsi. Edisi teks tersebut berpotensi untuk diterbitkan—tentu saja dengan proses pengeditan terlebih dahulu—karena isinya merupakan rekaman terhadap dinamika Islam lokal Minangkabau.

Baca juga :  2000 APD dan 5000 Masker Medis untuk Rumah Sakit dari PDI Perjuangan Sumbar
Naskah Nazam Usiat Peninggalan Syekh Muhammad Sa’id Bonjol

Selain itu, naskah ini juga pernah dibicarakan oleh Apria Putra (2013) dalam sebuah tulisan yang berjudul “Naskah Nazam Usiat: Penguatan Eksistensi Tasawuf di Minangkabau di Tengah Modernisasi Awal abad XX” yang diterbitkan sebuah kumpulan tulisan dalam buku Kajian Teks Kontemporer dan Klasik. Menurutnya, dari segi isi, naskah Nazam Usiat berbeda dengan corak perkembangan tasawuf pada abad sebelumnya yang kental dengan nuansa falsasi. Isi nazam ini lebih menampilkan model tasawuf yang mengutamakan pendidikan moral. Sehingga, nazam atau syair ini merupakan model tasawuf alternatif di tengah penolakan ulama modernis terhadap corak tasawuf yang berkembang sebelumnya.

Sampai hari ini, baru naskah nazam tersebut yang sudah dikaji. Sementara, masih terdapat lima belas naskah koleksi Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol yang menunggu para peneliti untuk mengkajinya. (*)

Pramono, Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Unand