Oleh: Pramono

 

Lama dulu, seratusan tahun yang lalu, surau-surau tarekat di Sumatera Barat bukan sekedar tempat belajar Alquran dan kitab kuning. Lebih dari itu, pada masanya, surau juga menjadi benteng pertahanan Minangkabau terhadap berkembangnya dominasi kekuatan Belanda (Azra, 2003). Malahan, tidak jarang bahwa beberapa kegiatan “intelektual” di suatu surau merupakan sesuatu yang amat berbahaya dan ancaman bagi penjajah.

            Salah satu rekaman tentang perjuangan ulama surau (ulama tarekat) melawan penjajahan Belanda adalah naskah “Riwayat Hidup Syekh Surau Baru (Syekh Muhammad Nashir)”. Seperti disebutkan di dalam tulisan  “Naskah-naskah Hagiografi Karya Imam Maulana Abdul Manaf” yang diturunkan minggu lalu (1/11), bahwa naskah ini merupakan salah satu naskah hagiografi (riwayat orang-orang suci) yang populer di kalangan penganut tarekat Syattariyah di wilayah Padang.

Naskah ini tebalnya 99 halaman dan tidak seluruhnya berisi riwayat hidup Syekh Surau Baru. Riwayat Syekh Surau Baru terdapat pada halaman 1-57. Adapun bagian halaman berikutnya, yakni halaman 58-82 tentang tarekat, halaman 82-91 berisi uraian sejarah Bersafar di Tampat Batu Singka (makam Syekh Surau Baru di Air Dingin, Lubuk Minturun), dan halaman 91-98 tentang amalan khusus (bertanam, ilmu laduni, hendak bertemu jin, amalan untuk memudahkan menghafal pelajaran) dan takwil gempa.

Baca juga :  Mengenal Khazanah Naskah di Surau Latiah

Dalam uraian riwayat hidup Syekh Surau baru itulah dikisahkan tentang pemberontakan rakyat Koto Tangah dan Pauh kepada Belanda. Pemberontakan ini dipimpin oleh Pakih Mudo, salah seorang murid Syekh Surau Baru. disebutkan di dalam naskah, “Askar Pauh dikepalai oleh Pakih Mudo, murid Tuanku Syekh Surau Baru yang mengembangkan Islam ke nagari Pauh. Beliau dibantu oleh tiga orang panglima perang Pauh. Pertama, Datuk Rajo Basar suku Caniago Kampung Korong Gadang. Kedua, Datuk Raja Putih suku Melayu orang Pauh Lima. Tiga, Datuk Rajo Bagaga suku Jambak kampung Kuranji.”

Peperangan tersebut berakhir kekalahan pada pihak Pakih Mudo. Akan tetapi, kekalahan itu tidak menyurutkan perlawanan Pakih Mudo dan rakyat Pauh untuk kembali menyerang Belanda. Nyala api perjuangan terus dikobarkan oleh Syekh Surau Baru yang berpesan kepada muridnya, “…Kemudian saya sampaikan kepada kalian bahwa menghadapi kaum kafir ini, kalau mereka kuat daripada kita, kaum muslimin, kita harus mengikutnya pada lahir. Tetapi pada batin, hati kita tetap mengutuknya dan mengbencinya, dan memeranginya. Tidak boleh kita menunduk dan berbaik-baik dengan dia …Sekarang pergilah tetapi jangan lupa ayat ini. Tetap kita selamanya mengutuk akan orang kafir itu. Kemudian kita hendaklah berusaha supaya kaum kafir itu terusir dari nagari kita ini. Mereka kaum kafir itu janganlah kita jadikan pemimpin kita.”

Baca juga :  Naskah "Syair Nagari Taloe Terendam 1890", Catatan Pribumi Tentang Bencana Banjir

Semangat perjuangan yang luar biasa itu merupakan ancaman serius bagi Belanda. Oleh sebab itu, Belanda pun mencari tahu siapa actor intelektual di perlawanan itu. Pada akhirnya, Syekh Surau Baru ditawan Belanda. Penawanan itu dilakukan Belanda dengan alasan bahwa Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru. Perang terjadi atas komando dan dorongan Syekh Surau Baru.

Drama penangkapan Syekh Surau Baru itu dikisahkan seperti ini, “Maka pada suatu hari dalam tahun 1112 Hijrat, sedang Syekh Surau Baru asyik mengajar di pagi hari akan murid-muridnya, datanglah sepasukan tentara Belanda dengan diam-diam mengepung surau beliau di Koto Panjang. Satu rombongan dari tentara itu naik ke atas surau lalu menangkap Tuan Syekh Surau Baru yang sedang mengajar murid-muridnya. Lalu Syekh Surau Baru dibawa oleh tentara Belanda dengan pengawalan yang ketat ke Muara Penjalinan.”

Tidak sampai setahun ditawan, Syekh Surau Baru meninggal dunia. Beliau disiksa dan dipaku ubun-ubunnya dengan besi paku panjang satu jengkal. Sebagai bentuk penghormatan kepada Syekh Surau Baru, penganut tarekat Syattariyah di Padang umumnya dan Koto Tangah khususnya mengadakan ziarah bersama tiap-tiap tahun ke Tampat Batusingka. Syekh Surau Baru tidak hanya ulama yang berhasil mengembangkan Agama Islam, tetapi juga mengusir Belanda dari Padang. Begitulah ulama pada masa itu, di satu sisi harus berjuang membawa umat kepada jalan yang diridhai Allah, tetapi di sisi lain juga harus berperang dengan Belanda yang kuat persenjataannya.

Baca juga :  Almanak Sanawiyah, Satu Almanak di Minangkabau Awal Abad XX