Oleh Pramono

 

Sakali aia gadang, sakali tapian barubah, ‘sekali air besar, sekali tepian berubah’. Selain bermakna bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan, ungkapan ini sekaligus juga merupakan gambaran kesadaran masyarakat Minangkabau terhadap adanya fenomena alam berupa ‘air besar’ atau banjir.

Sepanjang sejarah—sama halnya dengan gempa bumi—bencana banjir memang sering terjadi di wilayah Minangkabau (baca: Sumatera Barat).

Beberapa kejadian bencana banjir yang pernah terjadi di berbagai wilayah Sumatera Barat bahkan diabadikan menjadi nama tempat (daerah). Nama Ampang Gadang di Kabupaten Agam, misalnya, tercipta karena daerah ini dahulunya sering dilanda banjir bandang; untuk melindungi masyarakat yang tinggal di daerah itu, dibuatlah ampang (bendungan) yang gadang (besar). Akhirnya, daerah ini dinamakan dengan ‘Ampang Gadang’. Hal serupa juga pada penamaan Kampuang Tarandam (Pauh) dan Tarandam di Padang dan beberapa nama tempat lainnya.

Foto-foto dan catatan bencana banjir besar di Sumatera Barat pada masa kolonial sebagian dapat ditemukan dalam beberapa sumber. Setidaknya, ada puluhan foto koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) yang menggambarkan bencana banjir di Lembah Anai dan Sumani (Solok) pada 1982. Selain itu, pada Harian Dagblad Radio, 29 Juni 1926 dan Harian Soeara Kota Gedang, tahun ke-XI, No. 7, Juli 1926 diberitakan bencana banjir di sekitar daerah Danau Singkarak. Jika lazimnya banjir disebabkan oleh tingginya curah hujan, maka banjir di wilayah ini disebabkan karena luapan air Danau Singkarak sebagai akibat dari gempa bumi berkekuatan 7,8 skala Richter yang berpusat di Padangpanjang pada 28 Juni 1926.

Menarik juga disebutkan di sini bahwa, dalam Kaba Cindua Mato diceritakan kejadian banjir besar yang pernah terjadi di Minangkabau. Dalam suntingan naskah Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung (Kaba Cindua Mato) yang diusahakan oleh M. Yusuf (1994), diceritakan hujan yang sangat lebat—saking lebatnya, pacahlah kutu di kapalo ‘pecahlah kutu di kepala’—menyebabkan banjir besar. Di dalam kaba dikisahkan seperti berikut ini.

Baca juga :  Mantan Marinis AS Paul Whelan Dipenjara di Rusia atas Tuduhan Mata-Mata

Ado sabanta itu juo datanglah topan jangan badai sarato angin punco baliuang. Ado sabanta itu juo, datanglah pulo patuih tungga. Sampai birai niua jan pinang, tabua bebar ka sana sini ditumbak patuih tungga nantun, sarato guruah besar nantun. Candonyo kilek tagak-tagak. Ado sabanta itu juo, datang pulo hujan labek. Pacahlah kutu di kapalo. Dalam sabanta itu juo, gadanglah aia ampuah padang. Manjilek-jilek lidah aia, batikam-tikam di halaman. Hanyuiklah alu jangan lasuang. Badoro-doro tanggua rabah. Hirulah urang samuonyo. Buninyo sorak bagaikan luluih. Padamlah dama samuonyo. Alah marantak si Gumarang. Marantak pulo si Binuang. Lapehlah inyo kaduanyo. Urang bahimbau anyo lai. Hambo sadang bausuah hati. Kiamaik dalam paratian.

‘Seketika itu juga, datanglah topan dan badai, serta angin puting beliung. Datang pula lah petus tunggal. Cerai berai nyiur dan pinang, bertabur ke sana-sini ditembak petus tunggal. Adapun kilat, tegak- tegak.
Datang pula lah hujan lebat. Pecahlah kutu di kepala. Sebentar itu juga, gadanglah air ampuh padang. Menjilat-jilatlah lidah air. Bertikam-tikam di halaman. Hanyutlah alu serta lesung. Bertubi-tubi tanggul rebah. Hiru birulah orang di sana. Bersorak- sorak, menjerit-jerit. Padamlah damar semuanya. Merentak-rentaklah Si Gumarang. Lepas pula lah Si Binuang. Kiamatlah di dalam perhatian’.\

Salah satu atau satu-satunya yang baru ditemukan tentang catatan pribumi berkenaan dengan banjir di Sumatera Barat adalah naskah “Syair Nagari Talu Taloe Tarendam 1890”. Naskah ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Dalam Catalogue of Malay, Minangkabau, and South Sumatran Manuscripts in the Netherlands (Volume One) yang disusun oleh Teuku Iskandar (1999: 583), dapat diketahui deskripsi singkat naskahnya. Naskah ini terdiri dari40 halaman yang ditulis di atas kertas Eropa dengan cap kertas Elephant  dan GUTHRIE & CO. Dalam setiap halaman terdapat 22 baris tulisan dengan jumlah keseluruhan mencapai 190 bait syair yang ditulis dengan aksara Latin.

Baca juga :  BRI Cabang Padang Bantu Bangun Dua Halte Trans Padang

Pada bait terakhir, disebutkan penulis syair ini, yaitu Mohamad Tahir gelar Tuanku Nan Cerdik. Hamba yang bodoh yang empunya karangan / Muhammad Tahir nama yang asal(kan) / Tuanku nan Cerdik orang gelarkan / di Kampung Koto Dalam tempat kejadian. Syair ini selesai ditulis di Talu pada 22 Juli 1899. Artinya, syair ini baru selesai ditulis setelah sembilan tahun bencana banjir yang dikisahkan di dalamnya: 1890.

Disebutkan bahwa hujan lebat terjadi pada malam Selasa dan keesokan harinya penduduk panik. Pada malam Selasa namanya hari / hujan nan lebat tiada terperi / badan tertidur tak sadar diri / tidak mengenal kanan dan kiri. Jadilah bangun hari pun siang / tabuh berbunyi sangatlah garang / lalulah duduk badan tercengang / apalah gerangan bencana datang.

Cukup panjang dikisahkan tentang kepanikan masyarakat menghadapi bencana banjir di dalam syair ini; setidaknya sampai bait 93. Penting disebutkan di sini bahwa, suasana panik dan cenderung kebingungan dalam menghadapi bencana alam ini lazim ditemukan di dalam naskah-naskah Nusantara yang mengandung teks bencana alam. Secara antropologis, informasi ini tentu penting dan dapat dijadikan landasan utama dalam penyusunan skenario mitigasi bencana.

Baca juga :  Diskusi Surau Sydney Austalia, Pola Hidup 'New Normal' dalam Agama dan Budaya

Pada bait-bait selanjutnya, bait 94 dan seterusnya dikisahkan tenggelamnya beberapa kampung di Talu dan kerugian yang diderita. Di Negeri Talu hamba khabarkan / enam buah kampung sudah terendam / mula pertama Kampung Parang Pisang / rumah yang tinggi hampirlah hilang. Kampung Mais (?) lagi yang kedua / di sebelah barat itu tempatnya / airlah lampau kepala tangga / tetapi bukit dekat di sana. Kampung Jambak lagi yang ketiga / di kepala pasar itu tempatnya / airlah dalam pada di sana / di dekat dapur ikan berlega. Kampung Mandahiling pada yang keempat / di kanan pasar itu bertempat / airlah dalam pada dilihat / di salek dapur rutiang melompat. Kampung Lubuk Paning (?) lagi yang kelima / di tengah negeri itu tempatnya / airlah dalam kiri dan kanannya / seperti pulau kampung tampaknya. Kampung Japang (?) lagi yang keenam / air di sana sudahlah dalam / rumah den sajo sudah terendam / tetapi padi sudah dipindahkan.

Dengan seratus sembilan puluh bait syair, tentu tidak dapat mengisahkan selengkap-lengkapnya tentang bencana banjir yang sangat besar itu. Namun demikian, naskah “Syair Nagari Talu Taloe Tarendam 1890” merupakan catatan penting; sebuah catatan pribumi satu-satunya tentang bencana banjir di Talu yang pernah terjadi pada akhir abad ke-19. Catatan ini dapat dijadikan sumber untuk memetakan wilayah rawan banjir, terutama untuk di kawasan Talu. Selain itu, melalui catatan ini kita dapat belajar tentang bagaimana menyikapi dan menghadapi bencana banjir. (*)

Dosen Jurusan Sastra Minangkabau Fakulas Ilmu Budaya Universitas Andalas