Pada kamis malam (11/6) waktu setempat, para demonstran berkumpul di pusat kota Lebanon untuk menumpahkan kemarahan mereka. Demonstran yang marah memblokade jalan, membakar ban dan kendaraan. Kemarahan ini ditujukan kepada depresiasi mata uang Pound Lebanon sebesar 25 persen hanya dalam dua hari tulis Al Jazeera.

Al Jazeera melaporkan para pengunjuk rasa membakar cabang-cabang kantor Bank Sentral Lebanon, melakukan tindakan vandalisme terhadap beberapa bank swasta dan terlibat bentrok dengan pihak keamanan di beberapa wilayah. Menurut Palang Merah Lebanon, setidaknya 41 orang terluka di Tripoli sendiri.

Di Tripoli, tentara diturunkan untuk mengamankan situasi dilempari batu oleh pengunjuk rasa. Bom molotov dilemparkan ke bank, yang disalahkan atas masalah finansial di Lebanon.

Di Beirut, pengunjuk rasa terlibat konflik dengan pihak keamanan, ketika mereka mulai memblokade jalan dan membakar bank. Pengunjuk rasa melemparkan bom molotov dan batu ke pihak keamanan dan dibalas dengan gas air mata tulis BBC.

Tingkat pengangguran di Lebanon sangat tinggi –hampir seperti tiga dari total populasi menurut BBC dan kebanyakan warga dibayar dengan mata uang lokal yang kehilangan nilainya, membuat makanan dan kebutuhan pokok lainnya menjadi tidak terjangkau bagi kebanyakan keluarga.

Baca juga :  Andre Rosiade dan Guspardi Gaus Dukung Usulan Irwan Prayitno Soal PSBB di Sumbar

Sebelumnya, berbagai demonstrasi di kota-kota seperti Akkar, Tripoli hingga Tyre dan Nabatieh pada kamis adalah rangkaian protes yang dilakukan karena krisis ekonomi yang menghantam negara itu dalam beberapa bulan terakhir.

Kemarahan mulai muncul ketika nilai Pound Lebanon turun sebesar 70 persen sejak Oktober tahun lalu. Protes sempat terhenti selama lockdown coronavirus, namun akhir-akhir ini protes dilanjutkan kembali.

CNN melaporkan pada Oktober lalu, ratusan ribu orang mengambil bagian dalam demonstrasi anti-korupsi terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh mantan PM Saad Hariri. Semenjak itu, terjadi banyak demonstrasi karena kehidupan yang sulit dan korupsi yang dipercaya sebab dari krisis ekonomi di negara itu.

Sekitar sepuluh ribu orang telah kehilangan pekerjaannya dalam enam bulan terakhir dan ratusan bisnis ditutup karena kekurangan pasokan dollar dan membuat membuat Pound Lebanon melesat ke angka 5.000 per dollar sebut BBC. Depresiasi Pound Lebanon ini telah membuat negara itu menghadapi krisis ekonomi terparah dalam dekade ini.

Perdana Menteri Hassan Diab telah memanggil kabinet untuk melaksanakan rapat pada jumat ini (12/6) untuk membahas krisis ini.

Baca juga :  Berbagai Media Dunia "Mengecam" Tindakan Amerika Setelah Kematian George Floyd 

PM Hassan Diab, yang baru 100 bekerja, dianggap oleh pengunjuk rasa hanya melakukan sedikit hal untuk meringankan krisis.

Dilansir dari CNN, PM Diab, adalah seorang teknokrat mantan profesor di Universitas Amerika di Beirut. Ia ditunjuk sebagai PM oleh koalisi yang didukung oleh Hizbullah pada Desember. Kabinetnya menjanjikan reformasi pada Januari, tetapi para kritikus menyatakan ia telah gagal. (Haldi Patra)