Ketika kompetisi dilanjutkan secara tertutup, berbagai klub menyesuaikan rutinitas dan pembatasan baru di tengah masalah kesehatan ini.

Olah raga profesional dengan hati-hati kembali beraksi di tengah pandemi coronavirus ketika negara mulai meredakan pembatasan dan lockdown.

Kompetisi sepak bola Jerman, Bundesliga, Korea Baseball Organization (KBO) dan Ultimate Fighting Championship (UFC) adalah di antara yang memulai kembali kompetisi dengan menerapkan langkah-langkah atau prosedut kesehatan yang ketat.

Tur Golf PGA dan New Zealand’s Super Rugby akan dimulai bulan depan. Tetapi beberapa cabang olah raga seperti Liga Premier Inggris dan NBA masih merumuskan bagaimana dan kapan mereka akan kembali.

golf, sepakbola dan baseball dimainkan tanpa penonton (lee Jin Man/AP)

Ancaman dari penularan COVID-19, yang disebabkan oleh virus corona, masih tampak besar. Lebih dari 4,7 juta orang telah terinfeksi di seluruh dunia dan setidaknya 315.000 kematian dikonfirmasi akibat virus ini, menurut data dari John Hopkins University.

Tiga event UFC dalam delapan hari terakhir yang dihelat tanpa penonton di Jacksonville, Florida. Taiwan mengizinkan maksimal 2.000 orang penonton untuk pertandingan baseball.

“Kerumunan dan stadion adalah produk olahraga jika tidak ada orang dalam stadion, olahraga akan berubah secara fundamental. Ini jelas berbeda dan belum tentu akan kembali normal,” kata Simon Chadwick, direktur Pusat Industri Olahraga Eurasian kepada Al Jazeera.

Baca juga :  Gubernur Pastikan Semua ASN Pemprov Sumbar Bayar Zakat

Untuk para pemain dan officials, dimulainya kembali juga berarti perubahan dalam rutinitas dan kebiasaan.

Para pemain akan dites secara reguler, suhu tubuh mereka dicek sebelum pertandingan dan mereka diminta untuk menggunakan masker di luar lapangan dan melakukan pembatasan fisik di dalam bus dan ruang ganti.

Di lapangan, sesi foto bersama dilarang. Hal serupa berlaku dengan meludah dan berjabat tangan. Pelukan juga tidak dianjurkan. Untuk perayaan disarankan atau sapaan tos kaki atau “elbow bumps” (bersalam dengan menyentuhkan siku atau lengan).

Di Inggris, BBC melaporkan para pesepakbola hanya diizinkan untuk berlatih dalam kelompok berisi lima orang jika latihan dilanjutkan.

“Dengan aturan-aturan baru ini, akan ada waktu untuk penyesuaian bagi para atlet,” kata seorang psikolog olahraga, Adam Naylor kepada Al Jazeera.

“Para atlet akan terbiasa dengan lingkungan baru ini jika mereka sibuk dengan diri sendiri dan yang lainnya,” kata Naylor, menambahkan bahwa ketidakhadiran penonton bisa mempengaruhi penampilan para atlet itu.

“Sebuah stadion yang penuh dengan penggemar meningkatkan fokus dan memberikan energi positif pada atlet profesional.”

Baca juga :  Pemprov Sumbar Persiapkan RSJ HB Saanin untuk Rujukan COVID-19

Dampak Ekonomi

Pandemi coronavirus telah menghadirkan bencana pada kalender olahraga, memaksa penundaan event besar seperti Olimpiade 2020 Tokyo dan Euro yang dijadwalkan akan dihelat tahun ini.

Perkiraan kerugian yang dialami berbagai cabang olahraga [Alia Chughtai/Al Jazeera]
Setiap sektor dalam industri olah raga telah dihantam keras dan berdampak terhadap kehidupan para atlet, officials dan ribuan orang lainnya yang bekerja dalam event olahraga.

Dengan dibatalkannya pertandingan, pendapatan dari hak siar, kontrak sponsor dan tiket pertandingan menerima pukulan keras.

Menurut sebuah analisis dari Sport Innovation Lab Found, liga-liga di Amerika Serikat, NFL, NBA, NHL, MLS dan MLB, diperkirakan kehilangan pendapat sekitar 3,3 miliar dolar dari pertengahan Maret sampai akhir Juni.

Sebuah angka yang dijabarkan oleh seorang anggota Parlemen Inggris menyebutkan Sepakbola, cricket dan rugby di Inggris akan kehilangan sekitar 850 juta Pound.

Di negara yang paling parah, liga sepakbola Spanyol, La Liga, mengalami kerugian maksimal 1 miliar Dollar dan Serie A Italia sekitar 703 juta Dollar jika mereka terpaksa membatalkan musim ini, menurut studi oleh firma akuntan internasional KPMG.

“Dampaknya tidak hanya pada aktivitas klub sepak bola, tetapi akan juga pada para pemain mereka, yang merupakan aset paling berharga bagi mereka,” kata KPMG dalam laporannya pada Maret.

Baca juga :  13 Nakes Dikarantina di Gedung Baru RSUD Sungai Dareh Dharmasraya

Pemain dan klub telah berusaha untuk tetap bersama para fans melalui media sosial, mengunggah update karantina dan bekerja di rumah, serta melakukan sesi Q&A.

Pelarian yang Menyenangkan

Pandemi ini telah menciptakan ketakutan dan ketidakpastian diantara para fans olahraga dan dimulainya pertandingan kembali telah menimbulkan tanggapan beragam.

Dalam satu survei nasional yang dilakukan oleh Universitas Seton Hall di Amerika, lebih dari 70% responden mengatakan tidak akan menonton pertandingan secara langsung sampai penawar COVID-19 ditemukan.

Dalam sebuah surat terbuka kepada UEFA dan asosiasi sepak bola, para suporter dengan tegas meminta pertandingan untuk tetap dilarang “sampai keramaian di stadion aman untuk kesehatan publik.”

Namun jutaan jutaan penggemar menyaksikan pertandingan lewat televisi atau secara daring, dengan penyiar menggunakan cara-cara kreatif seperti menggunakan suara keributan rekaman dalam tayangannya untuk mengatasi keheningan.

Naylor berharap “dengan kembalinya bermain, hal ini menjadi pelarian yang menyenangkan bagi para atlet seperti juga menyaksikan pertandingan itu menjadi pelarian yang positif bagi para fans yang menyaksikannya.” (Haldi Patra/ Aljazeera)