Oleh Andrinof A Chaniago

 

“Kita kuat, Karena ada ibu yang kuat”

Kemarin, foto Pak Jokowi duduk sendiri mengusap air mata menjelang pemberangkatan ibundanya, Ibu Sujiatmi Notomihardjo, ke pemakaman, dengan sekejap menyebar luas di medsos. Bagi saya, peristiwa dalam foto itu adalah menit-menit yang harus terjadi pada orang bermental sekuat Jokowi. Menahan lelehan kecil air mata adalah sesuatu yang mustahil untuk bisa dilakukan oleh orang yang menjadi kuat karena seorang ibu yang kuat.

Kuatnya seorang Jokowi adalah kuat karena semangat dan keinginan untuk mendedikasikan diri untuk memberi pelayanan terbaik. Nilai prinsip selalu ingin memberikan pelayanan terbaik ini sebetulnya bisa ditemukan pada sosok seorang Jokowi sejak menjadi pengusaha mebel. Karena prinsip ingin memberikan produk terbaik dengan layanan terbaik itulah usaha mebelnya mendapat pelanggan berkelas hingga dari mancanegara.

Dalam mendedikasikan diri untuk pelayanan kepada konsumen dan kemudian kepada rakyat ketika menjadi Walikota, Gubernur dan Presiden, kekuatan energi Jokowi sulit ditandingi. Waktu tidurnya hanya beberapa jam. Seringkali saat di lapangan satu per satu pengawal kelelahan karena pukul 15.00 belum juga makan siang. Sementara Jokowi seperti tidak mau berhenti bekerja, walaupun juga belum makan siang. Menjelang pujul 24.00 biasanya masih ada pertemuan dengan sekretaris pribadi dan orang-orang tertentu untuk melihat apa yang sudah dikerjakan dan akan dikerjakan besok harinya.

Baca juga :  Portugis Menemukan Kembali Sejarah Muslim di Negara Mereka

Secara mental, kuatnya Jokowi juga sudah teruji. Walau satu-dua kali tidak bisa juga menahan emosi, dalam pengendalian emosi Jokowi termasuk golongan orang yang jumlahnya segelintir. Ketika ada yang berpesan di hadapan publik, “Jangan bodoh”, dia menjawab dengan rileks, “Ya…. Saya memang harus banyak belajar”. Belum lagi begitu banyak fitnah keji yang disebarkan tentang dirinya, tentang asal-usul orangtuanya, dan sebagainya, yang hampir tidak pernah dialami oleh tokoh-tokoh lain dalam sejarah bangsa Indonesia. Tetapi, sekali lagi, walau sesekali Jokowi juga tidak bisa memendam terus perasaan sakit hatinya, ia tetap orang yang sangat kuat dalam mengendalikan emosi.

Masa sakitnya Ibu Sujiatmi selama hampir empat tahun juga telah memperlihatkan betapa kuatnya Jokowi menyimpan perasaan untuk masalah hubungan batinnya dengan seorang ibu, dan tetap mendahulukan pelayanan kepada rakyat. Hampir semua orang baru tahu kalau Ibu Sujiatmi, ibu orang nomor satu di Republik Indonesia, selama empat tahun ini menderita sakit, ketika kemarin Ibu Sujiatmi telah tiada.

Saya tidak hanya membaca tamat buku yang ditulis dua orang penulis kredibel, Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti, tetapi saya membaca bagian tertentu berulang-ulang. Bagian yang saya baca berulang-ulang itu adalah tentang bagaimana kuat dan bijaknya seorang Ibu Sujiatmi secara batin mengasuh anak-anaknya. Kalau seorang anak paling tegar di dunia bisa menahan lelehan air mata ketika kehilangan seorang ibu seperti Ibu Sujiatmi, itu adalah sebuah keanehan. Melepas lelehan kecil air mata itu adalah suatu keharusan karena cinta yang tidak bertepi dan terima kasih yang jauh dari cukup untuk seorang ibu.

Baca juga :  Empati Fadly Amran Membuat Haru Pasien COVID-19 RSUD Padang Panjang

Sebagai pengabdi publik, seorang Jokowi tetap seorang yang sangat kuat. Usai mengantar Sang Ibunda hingga ke liang lahat, Jokowi langsung ganti baju untuk berangkat ke Bogor. Sorenya sudah muncul di event besar, video conference KTT G-20 yang membahas Masalah Pandemik Covid-19.

Untuk urusan pengabdian kepada rakyat seorang pemimpin memang harus kuat. Kuat menjalani pekerjaan berat, kuat menengahi berbagai kepentingan, dan kuat menghadapi orang-orang yang bukan sekedar mengkritik untuk memberi masukan tetapi melampiaskan ketidaksukaan.

Tak terbantahkan, Jokowi adalah sosok yang kuat. Biarkanlah lelehan kecil air mata Pak Jokowi lepas untuk seorang ibu yang kuat dan telah membuatnya menjadi kuat. Kita kuat, karena pernah punya ibu yang kuat. Terima kasih, Ibu Sujiatmi yang telah melahirkan dan mendidik seorang Jokowi. Siapa tahu, suatu saat Pak Jokowi ingat ketika Agustus 2011 beliau dengan sigap mengirim karangan bunga turut berduka cita atas wafatnya ibu saya ke halaman rumah saya di Padang.

Karangan bunga ini lebih dahulu tiba dari kedatangan saya yang terbang dari Solo dan transit di Jakarta. Malam saat ditelepon keluarga mengabari ibu saya wafat, saya sedang berdiskusi serius berdua dengan Pak Jokowi di Loji Gandrung. Karena telepon berulang-ulang, terpaksa saya angkat di tengah pembicaraan. Tetapi malam itu saya tidak memberi tahu Pak Jokowi bahwa itu adalah kabar tentang ibu saya yang baru saja wafat, sekitar pk 20.30. Kami lanjut berdiskusi serius satu jam lagi tentang bagaimana mengatasi sistem yang korup, dll.

Baca juga :  Kisah Isolasi Mandiri Ny RA, Kejujuran dan Keterbukaan Menambah Rezeki

Besoknya, saat menuju Bandara Adi Sumarmo, baru saya kirim pesan ke Mas Anggit bahwa tadi malam ibu saya wafat dan izin saya terbang ke Padang. Sore itu, usai mengazankan ibu di samping liang lahat, lelehan air mata kecil saya pun tak terbendung. (*)

Andrinof A Chaniago, Wakil Komisaris Utama Bank Mandiri