Oleh : Annisa Citra Triyandra (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas)

 

Empat bulan semenjak bulan Maret 2020 ketika pertama kali terkonfirmasi kasus positif COVID-19 di Indonesia, masa pandemi sepertinya masih belum akan berakhir. Berbagai kebijakan telah diambil, berbagai istilah telah digulirkan. Di masa awal semua mata tertuju pada pengumuman yang dilakukan Pemerintah melalui saluran televisi nasional. Pengumuman yang disampaikan oleh Juru Bicara Satuan Tugas COVID-19 lama-kelamaan tak ubahnya seperti pengumuman perolehan medali Olimpiade minus kabar baik. Angka positif terus bertambah seiring dengan angka kematian, sementara angka kesembuhan merayap pelan.

Dalam waktu yang cukup cepat kita segera menyerap istilah seperti “work from home”, bekerja dari rumah sebagai upaya menekan penyebaran virus COVID-19. Tentu tidak semua orang memiliki nasib semujur itu, beberapa yang lain justru harus “dirumahkan” akibat pandemi. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi pada 2021 angka pengangguran bisa menyentuh 12,7 juta orang. Jika prediksi ini benar, maka hal ini akan menjadi angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Hal ini bukan tidak beralasan, kita dianjurkan untuk melakukan “social distancing” sebelum akhirnya menjadi “physical distancing” karna istilah sebelumnya dianggap tidak tepat. Keduanya bermaksud untuk menjaga jarak antar manusia, meminimalisir penularan virus yang berimbas pada tutupnya sektor-sektor pekerjaan yang tidak mungkin menjaga jarak antar manusia. Pelik dan rumit.

Jika istilah dari luar saja sudah membuat rumit, kepala kita ditambah sakit dengan akronim – akronim yang muncul berkaitan dengan COVID-19 di Indonesia. ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), OTG (Orang Tanpa Gejala), hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) menjadi asupan informasi dalam keseharian kita. Dan pada hari ini (13/7/2020) dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) akronim – akronim tersebut berganti istilah lagi. Pusing.

Baca juga :  Cak Imin Kirim 8 Kontainer Sembako untuk Masyarakat Sumbar

Di Provinsi Sumatera Barat sendiri perkembangan kasus positif COVID-19 hingga hari ini (13/7/2020) telah mencapai angka 800 orang. Semester telah berganti, sekolah masih diliburkan, kuliah masih dilakukan secara daring. Internet tiba-tiba menjadi tulang punggung banyak kegiatan. Belajar mengajar, perkuliahan, ujian, rapat, konferensi pers, seminar, persidangan, semuanya dilakukan secara daring. Seketika kita mafhum menggunakan aplikasi seperti Zoom dan Google Meet, seketika group Whatsapp bertumpuk semakin banyak. Semua usaha berbondong – bondong migrasi ke ranah digital. Layanan marketplace seperti Tokopedia dan Shopee menjadi tujuan para pedagang yang harus menutup kedai akibat pandemi. Kita yang dirumah saja pun akhirnya sibuk dengan menyusuri linimasa media sosial hingga mentok, lalu berpindah ke aplikasi marketplace yang tak berhenti memanggil-manggil dengan rayuan diskon dan gratis ongkos kirim.

Kombinasi telepon pintar dan jaringan 4G mendukung perubahan yang serba cepat akibat pandemi COVID-19. Bisnis makanan dan minuman misalnya, bergantung pada layanan pengiriman ojek daring selama masa PSBB jika tetap ingin bertahan. Siapa yang pernah bisa menyangka bisnis berbasis teknologi dan telekomunikasi menjadi solusi selama masa pandemi. Namun hal ini pun menyisakan permasalahan tersendiri. Masih ada daerah – daerah yang belum terjangkau jaringan 4G bahkan 3G sekalipun, dan dari data WeAreSocial yang dirilis Februari 2020 pengguna internet Indonesia telah menyentuh angka 175 juta pengguna, yang berarti 64% dari total populasi 272 juta jiwa. Terdapat peningkatan yang signifikan dari laporan tahun sebelumnya, namun kita harus mengamini bahwa kita belumlah seutuhnya terkoneksi.

Baca juga :  Suami Pasien Asal X Koto Tanah Datar juga Positif COVID-19

Meski demikian secara perlahan teknologi pun menjadi medium utama untuk menggantikan komunikasi tatap muka. Pandemi memaksa peradaban untuk bergerak lebih cepat. Namun internet sebagai jagat maya yang luas juga dipenuhi banyak noise atau gangguan. Lihat saja data penggunaan internet yang meningkat didominasi oleh layanan media sosial. Instagram misalnya menjadi sumber informasi utama ketika merujuk pada informasi terbaru terkait COVID-19 di Sumatera Barat, unggahan terbaru dari akun info kota, akun resmi satgas COVID-19, dan media lokal menjadi yang ditunggu-tunggu. Namun Instagram juga berisikan konten viral konspirasi, hingga selebritis yang tak bisa memasak indomie. Terlalu banyak distraksi yang menggerus substansi.

Lihat saja bagaimana kita semakin sulit untuk fokus pada satu aplikasi. Kita dibawa tenggalam pada kemajuan “dunia dalam genggaman”. Memiliki akses terhadap banyak informasi, menembus jarak secara geografi, namun sesungguhnya kita memang sibuk dalam bilik sendiri. Kita seperti jiwa-jiwa yang sepi menunggu dan berharap pada notifikasi. Sebagian kecil menjadikannya jalan untuk meraih popularitas dan meraih pundi, namun sebagian besar dari kita memang hanya menjadi penonton dan pengikut. Kita hanyalah digit angka pada jutaan subscriber akun youtuber, kita hanyalah digit angka pada jutaan pengikut selebriti Instagram kenamaan. Tidak lebih.

Lalu akhirnya kita semua lelah dengan yang serba daring. Mulai muncul komentar netizen untuk tak lagi memperbarui informasi COVID-19 melalui media sosial, cukup akses melalui laman resmi dari pemerintah saja. Informasi yang ditunggu-tunggu mulai menjemukan. Roda perekonomian mesti kembali digerakkan, hingga kita berkenalan lagi dengan istilah baru “new normal”. Adaptasi protokol kesehatan diseluruh kegiatan masyarakat yang diatur oleh pemerintah. Kampanye stay home atau di rumah saja yang digaungkan menjadi tak lagi relevan, tempat wisata mulai dibuka, tempat nongkrong diperbolehkan kembali didatangi. Dan group Whatsapp mulai dibisukan.

Baca juga :  Pemerintah Myanmar Menolak Tuntutan Pengunduran Pemilu

Seketika euforia bermunculan dengan mulai dilonggarkannya segala pembatasan. Meski pemerintah tak henti-henti menyampaikan untuk tetap jaga kesehatan, gunakan masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Semua tempat yang kembali dibuka pun ramai berjejalan. Istilah “new normal” dianggap tidak tepat dan diganti menjadi “adaptasi kebiasaan baru”, dengan harapan masyarakat tak bertindak “back to normal” alih-alih “new normal”. Namun apa yang kita lihat hari ini justru memang membuat harap-harap cemas. Pandemi belum berakhir, angka konfirmasi positif masih terus bertambah, vaksin belum ditemukan meski “kalung ajaib” sudah diumumkan pemerintah. Dan masyarakat (mungkin kita semua) telah beraktivitas kembali seperti biasa. Kita seperti hanya menambahkan masker guna mengikis perasaan khawatir.

Mungkin memang komunikasi tatap muka tak pernah bisa digantikan oleh apapun, termasuk daring. Mungkin kita semua jenuh melihat layar telepon pintar. Mungkin kita semua memang sudah muak di rumah saja. Mungkin kita jengah dengan pemerintah yang sibuk mengganti istilah. Kita mungkin muak menjadi deretan angka statistik semata dalam belantara sosial media. Mungkin internet bukanlah jawaban segalanya. Hakikat Manusia sebagai makhluk sosial, mulai meminta jawabnya, bertatap muka sebagai salah satu bentuknya. Dan sepertinya hari ini hal tersebut tak dapat digantikan.

Pandemi ini akan menjadi sebuah catatan sejarah, tidak sekedar catatan kaki dengan internet menjadi saksi. Bahwa komunikasi tak dapat diganti hanya dengan mukjizat teknologi. (*)