Brentot Tarrant (29), Pelaku penembakan massal yang menewaskan 51 orang jamaah di masjid di Christchurch pada 15 Maret 2019 lalu dijatuhi hukuman seumur hidup. Ini adalah hukuman terberat yang bisa dijatuhkan hakim karena Selandia Baru tidak memiliki hukuman mati dalam sistem peradilan mereka.

Dikutip dari CNN, putusan itu dijatuhkan pada Kamis (27/8). Warga negara Australia itu juga dinyatakan bersalah atas 51 dakwaan pembunuhan, 40 dakwaan percobaan dan satu dakwaan terorisme. Penganut paham supremasi kulit putih itu adalah orang pertama dalam sejarah negara itu yang menerima hukuman seperti itu —Selandia Baru Baru menghapus hukuman mati di negaranya pada 1961.

Hukuman seumur hidup berarti tersangka tidak akan mendapat kesempatan untuk meninggalkan penjara sebelum menyelesaikan masa tahanannya. Hakim Cameroon Mander di pengadilan Christchurch menyebutkan hukuman seperti itu hanya pantas diberikan kepada “pembunuh yang paling kejam”.

Hukuman itu dijatuhkan setelah empat hari hearing yang mengerikan di pengadilan tinggi Christchurch dengan 91 orang penyintas dan keluarga mereka yang menceritakan  kesedihan yang muncul di komunitas Muslim akibat tragedi tersebut.

Baca juga :  Bofet Saiyo Padang Panjang, Tempat Sarapan Legendaris

Seperti dilansir CNN, setelah putusan dijatuhkan, Perdana Menteri Jacinda Ardern menyatakan kelegaannya dengan vonis seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat yang diberikan hakim kepada Tarrant.

Pada 15 Maret 2019, Brenton Tarrant menyerang sebuah masjid di Christchurch dan menembaki para jamaah yang berada dalam masjid itu. Serangan itu disiarkannya secara langsung melalui platform Facebook telah mengejutkan dunia dan menekankan motif anti-imigran yang diunggah dalam sebuah manifesto secara daring.

Insiden penembakan itu membuat Selandia Baru mengesahkan undang-undang pengetatan kepemilikan senjata dan membuat pemerintah membeli kembali beberapa jenis senjata dari para pemiliknya.