Padang, inioke.com–Penyaluran bantuan sosial tunai (BST) menimbulkan kerumunan baru di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar. Sebagaimana lazimnya setiap pengambilan bantuan yang dipusatkan pada satu titik, masyarakat selalu berbondong-bondong. Begitu pula di saat pandemi corona ini, seperti tidak hirau dengan kesehatan dan keselamatan, mereka tetap berkerumun menunggu namanya dipanggil, tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

Pemandangan seperti itu jamak terlihat di beberapa kantor pos dan kantor camat. Di Kantor Pos Padang, penerima bantuan sosial tunai dari Kemensos RI berkerumun tanpa memperhatikan jarak sosial dan pisik. Meski telah dibuat tanda silang putih sebagai petunjuk menjaga jarak, namun itu percuma saja. Para penerima BST terlihat berkerumun di bawah tenda. Saat dipanggil petugas pos, mereka pun tidak sabar dan berdesakan, serta saling mendahului satu sama lain.

Lusi, salah seorang penerima BST, mengaku tidak menjaga jarak karena cuaca panas terik, sementara tenda yang disediakan untuk mengantre hanya satu. Sementara warga yang mengantrea sangat ramai. sehingga mereka harus berhimpun di tenda itu.

Baca juga :  Ledakan Besar Guncang Lebanon

Pemandangan yang sama juga terlihat di Kantor Pos Payakumbuh. Penerima bansos juga mengantre tanpa memperhatikan jarak sosial dan fisik. Mereka terlihat saling berdesakan di luar pagar kantor Pos Cabang Payakumbuh. Warga menunggu giliran untuk bisa mengambil dana bansos dari Kemensos yang besarannya Rp600 ribu setiap bulannya.

Kepala Kantor Pos Payakumbuh Laksmina Murni mengatakan, bahwa dalam pembagian bansos tersebut, pihaknya telah mengatur jadwal pengambilan dalam tiga sesi setiap harinya.

“Jadi di jadwal itu dibagi setiap kelurahan, kita ada tiga sesi, yakni pagi pukul 08.00 Wib sampai 11.00 Wib. Dilanjutkan sesi kedua sampai pukul 14.00 Wib dan sesi ketiga sampai pukul 17.00 Wib,” katanya.

Dikatakan Laksmina, pihaknya sudah berupaya semaksimal untuk mencoba agar tidak ada pelanggaran terhadap PSBB, namun banyaknya penerima membuat kerumunan tak terhindarkan. Karena itu, ia mewajibkan seluruh warga untuk menggunakan masker.

“Jika tidak menggunakan masker, kami memang tidak memberikan izin atau tidak melayani warga tersebut,” ujarnya.

Tidak hanya di kantor pos, kerumunan penerima BST ini juga terlihat di kantor camat. Pembagian BST di Pesisir Selatan mengundang kerumanan orang banyak di kantor camat. Sebab, Pemkab mengantur pembagian di kantor-kantor camat setempat. BST yang bersumber dari APBD Pessel tersebut diambil ratusan warga di kantor-kantor camat, seperti, IV Jurai, Koto XI Tarusan dan Kecamatan Sutera. Bahkan, mereka berduyun-duyun hingga sore, tanpa menghiraukan imbauan jaga jarak dan pemakaian masker.

Baca juga :  Mari Bayar Pajak, Pemko Padang Panjang Putihkan Denda PBB

“Saya datang hanya untuk mendapatkan bantuan. Karena, orang juga banyak mendapat bantuan. Mau bagaimana lagi untuk menerapkan aturan,” ujar Medi (40) salah seorang warga di kantor Camat Sutera.

Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokoler Pesisir Selatan, Rinaldi mengaku, hal itu terjadi di luar perkiraan. Sebab, pihaknya sudah membagi jadwal warga masing-masing nagari untuk mendatangi kantor camat.

“Kalau seandainya, masyarakat sudah mengikuti jadwal yang telah kita bagikan, Insha Allah, tidak terjadi seperti pembagian BLT di kecamatan,” ungkap pria yang juga Jubir Gugus Tugas COVID ini.

Ia menjelaskan, selain penerima, kerumunan itu juga diperbanyak oelah pendamping mereka yang datang.

“Seolah-olah jadi banyak, padahal mereka hanya pengantar. Karena memang kadang kala, orangtua pergi diantar oleh anaknya,” terang Rinaldi.

Kendati demikian, pihaknya berjanji akan mengevaluasinya.

“Nanti bersama tim, akan kita evaluasi bagaimana baiknya,” tutupnya. (gyn)