Tim penyelamat di Beirut, Lebanon, melanjutkan pencarian korban setelah 30 hari ledakan dahsyat yang mengguncang Beirut setelah menemukan tanda-tanda kehidupan pada. CNN melaporkan mereka melacak, apa yang mereka percaya sebagai sinyal detak jantung di bawah puing-puing, tetapi tidak menemukan korban.
Sebelumnya, regu penyelamat menemukan sinyal detak jantung di lokasi lain di bawah reruntuhan. Asmat juga mengatakan mereka 100% yakin masih ada korban yang terperangkap di bawah puing-puing namun tidak yakin apakah mereka masih hidup atau tidak. 

Para penyelamat berjalan-jalan di sekitar area reruntuhan pada Rabu malam (2/9), ketika anjing pelacak —yang dilatih untuk mencari jasad, menggonggong untuk memberikan tanda bahwa terdapat orang-orang di dalam reruntuhan itu. Ketika mereka kembali keesokan harinya, anjing tersebut pergi ke lokasi yang sama dan memberikan tanda yang sama. Peralatan sensor spesial kemudian mendeteksi getaran di area tersebut.

Kemudian, kepala tim penyelamat Cili, Francesco lermanda, memberitahu kepada reporter pada Jumat bahwa detak jantung  yang lemah telah dideteksi di bawah reruntuhan pada kedalaman 3 meter.

Baca juga :  10 ton ikan keramba di Danau Maninjau mati akibat angin kencang

Namun, seorang relawan Mansour Al Asmat, mengungkapkan kepada CNN, untuk mencari korban yang masih tertimbun, tim menggunakan penciuman anjing dan mesin pendeteksi detak jantung. Hanya ada sedikit kesempatan mesin itu mendeteksi sesuatu yang lain, seperti jam.

Pada Jumat (4/9), citra panas dari tubuh manusia di bawah puing-puing. Sementara itu tim penyelamat juga mendeteksi delapan tarikan nafas per menit di tengah-tengah puing-puing, sebut Eddy Bitar, co-founder Live Love Beirut, sebuah NGO yang membantu usaha penyelamatan, kepada CNN. Selain itu, masih terdapat beberapa laporan yang belum terkonfirmasi mengenai detak jantung lainnya di lokasi itu.

Sampai sabtu pagi, regu penyelamat masih melakukan penggalian. Namun, setelah tidak menemukan apa-apa, akhirnya regu penyelamat akhirnya menghentikan pencarian.

Ledakan yang disebabkan dari 2.750 amonium nitrate itu mengakibatkan itu membunuh lebih dari 200 orang akibat dan melukai ribuan lainnya. Ledakan itu semakin menghancurkan Lebanon yang sebelumnya telah menderita krisis ekonomi dan diperburuk oleh Pandemi coronavirus.