Oleh
Reno Fernandes
(Dosen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Padang)

 

Saat ini tahun ajaran baru 2020/2021 telah berlangsung selama 2 minggu setelah hari pertama pada tanggal 13 Juli 2020. Tahun ajaran 2020/2021 ini sangat berbeda dengan tahun ajaran sebelumnya dimana sistem pendidikan di Indonesia tidak lagi dijalankan secara tatap muka, namun diselenggarankan dengan sistem pembelajaran jarak-jauh (PJJ).

Ada dua pilihan sistem PJJ yang bisa diterapkan. Pertama, sistem daring (dalam jaringan) atau biasa kita sebut dengan pembelajaran memanfaatkan teknologi internet sebagai media penyampai pembelajaran. kedua, sistem luring (luar jaringan). Sistem pembelajaran luring dapat dilakukan dengan cara memberikan modul atau sistem penugasan yang diberikan oleh Guru kepada siswa. biasanya sistem luring dipakai dengan kondisi daerah yang tidak memiliki akses internet.

Pembelajaran jarak jauh merupakah keniscayaan yang harus dilakoni pada masa pandemi Covid-19 ini. PJJ akan bertumpu kepada desain pembelajaran yang dirancang oleh Guru disekolah. Desain pembelajaran adalah praktik penyusunan tujuan, isi, metode dan sistem evaluasi dalam pembelajaran. Desain pembelajaran dirancang berdasarkan teori belajar yang mumpuni. Pada masa pandemi covid-19 ini guru harus membuat desain pembelajaran yang tidak memberatkan siswa namun juga harus dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Harus kita akui sistem pendidikan di Indonesia belum mempersiapkan dengan baik pembelajaran pada tahun ajaran dimasa pandemi covid-19 ini. Pada sisi peserta didik tahun ajaran baru ini menyisakan berbagai macam permasalahan seperti akses internet, kepemilikan smartphone, dan kemampuan orang tua membimbing anak dalam belajar dirumah.

Baca juga :  RS Ahmad Mochtar Bukittinggi Lakukan Rapid Test Tenaga Medis

Pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi Covid-19 ini akan sukses jika terjadi kerjasama antara pendidik, peserta didik dan wali murid. Sinergisitas tersebut tidak semudah mengucapkannya. Wali murid sejatinya tentu berkeinginan bisa membimbing anak dalam belajan. Namun realistasnya wali murid tentunya tidak bisa selalu mendampingi anak dalam belajar karena mereka juga harus bekerja dan memiliki keterbatasan dalam mengajarkan anaknya berkaitan dengan mata pelajaran disekolah.

Saatnya Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka Diterapkan

Dalam memecahkan persoalaan ini sebenarnya sistem pendidikan di Indonesia telah memiliki solusinya yaitu Merdeka Belajar dan Kampus Mardeka. Pada bulan januari tahun 2020 kemendibud mengeluarkan Permendiknas No 3 tahun 2020 tentang standar nasional pendidikan tinggi atau biasa disebut dengan kebijakan Kampus Merdeka. Salah satu isi kebijakan itu adalah memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar program studi. Perguruan tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela, jadi mahasiswa boleh mengambil ataupun tidak sks di luar kampusnya sebanyak dua semester atau setara dengan 40 sks. Dalam kebijakannya Mendikbud menjelaskan terdapat perubahan pengertian mengenai sks. Setiap sks diartikan sebagai ‘jam kegiatan’, bukan lagi ‘jam belajar’. Kegiatan di sini berarti belajar di kelas, magang atau praktik kerja di industri atau organisasi, pertukaran pelajar, pengabdian masyarakat, wirausaha, riset, studi independen, maupun kegiatan mengajar di daerah terpencil.

Baca juga :  Kasus Pertama, 3 Orang Dinyatakan Positif COVID-19 di Solok Selatan

Meskipun kebijakan menteri Nadiem Makarim tersebut masih membingungkan bagi sebahagian besar perguruan tinggi karena tidak memiliki panduan detail dan persiapan yang matag. Tapi setidaknya ada beberapa contoh skema yang dikeluarkannya salah satunya program mardeka belajar dilaksanakan untuk mahasiswa semester 5, 6, dan 7. Artinya mahasiswa semester tersebut adalah angkatan 2018 dan 2017. Bagi kampus yang memiliki program studi kependidikan. seperti Universitas Negeri Padang, STKIP PGRI, dan Bung Hatta di Sumatera Barat. Mahasiswa angkatan 2017 akan melaksanakan praktek mengajar disekolah dan mahasiswa 2018 telah memiliki cukup bekal untuk menjadi guru karena telah mendapatkan matakuliah yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.

Sebagai contoh, mahasiswa UNP angkatan 2017 yang akan melaksanakan praktek lapangan disekolah berjumlah 7.380 orang dan mahasiswa angkatan 2018 berjumlah 7.163 dengan demikian ada sekitar 14.543 sumber daya mahasiswa yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi tenaga cadangan untuk membantu guru dalam proses pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 ini. Jumlah sumber daya tersebut tentunya akan semakin banyak ketika semua kampus yang berada di Sumatera Barat menjalankan skema yang sama. Lalu bagaimana caranya?

Keterlibatan Mahasiswa Mengajar ditengah masyarakat

Keberadaan mahasiswa dalam sejarah panjang bangsa ini selalu memegang peranan yang penting. Pada masa sulit seperti saat sekarang ini kesempatan mahasiswa menggunakan kemampuannya untuk berkontribusi menjadi agen perubahan. Skema tersebut merupakan sesuatu yang sangat mungkin dilakukan jika kurikulum merdeka belajar sudah diterapkan oleh perguruan tinggi. Seperti yang sudah kita perbincangkan diatas tentang kampus mardeka. Dimana mahasiswa mendapat kesempatan menggunakan 40 sks dari beban belajar mahasiswa untuk belajar diluar kampus dalam bentuk pengabdian masyarakat.

Baca juga :  Hujan Deras Guyur Agam, Batang Sitalang Mengamuk

Penerapannya dapat dilakukan dengan model Pertama, Mahasiswa angkatan 2018 yang seharusnya belajar dengan beban 20 sks dalam bentuk matakuliah semester ini dialihkan dalam bentuk pengabdian masyarakat. Jadi mahasiswa yang tadinya memiliki beban belajar dikampus dalam kondisi saat ini diberi kesempatan membantu pendidikan dengan menjadi Guru bantu berbasis lingkungan tempat tinggal. Model kedua, mahasiswa praktek lapangan angkatan 2017 turunkan langsung ketengah masyarakat dengan berkoordianasi dengan Guru disekolah mengajar langsung kerumah-rumah masyarakat atau bisa berbasis RT/RW.

Skema pelibatan mahasiswa dalam membantu sistem pendidikan seperti yang disebutkan diatas akan bisa diterapkan apabila memiliki legitimasi dari kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk penerapan kurikulum kampus mardeka dan mardeka belajar dikeluarkan secepatnya. Langkah selanjutnya yang dapat dilakukan oleh kementerian mengintruksikan perguruan tinggi dan dinas pendidikan berkoordinasi dan berkolaborasi untuk melakukan pemetaaan sumberdaya dan membuat program mahasiswa mengajar dari rumah ke rumah. Inilah saatnya kementerian pendidikan dan kebudayaan membuat terobosan untuk memecahkan permasalahan darurat pendidikan di Indonesia.