Pengadilan menyatakan Yury Dmitriyev bersalah atas kekerasan seksual terhadap anak angkatnya dalam sebuah kasus yang disebut dibuat-dibuat oleh pendukungnya.

Pengadilan Rusia pada Rabu (22/7) menjatuhkan hukuman kepada sejarawan Gulag (kamp penjara Soviet pada 1917-1991) yang dihormati selama tiga tahun penjara atas tuduhan kekerasan seksual kontroversial yang menurut para pendukungnya dibuat-buat untuk menghukumnya atas apa ia kerjakan.

Dmitriyev, ketua kelompok HAM terkemuka Memorial di Karelia (di Rusia barat laut), menghabiskan beberapa dekade untuk menemukan dan mengangkat kuburan massal korban pembunuhan Soviet di bawah pemerintahan diktator Joseph Stalin.

Setelah pecahnya Uni Soviet, Dmitriyev menemukan kuburan yang berisi ribuan mayat orang-orang yang ditahan di jaringan kamp penjara Gulag.

Memorial menyebutkan tuntutan atas peneliti itu, yang diadili secara rahasia, adalah bagian dari penumpasan terhadap perbedaan pendapat.

Pengacara Viktor Anufriyev mengatakan kepada reporter di luar pengadilan di kota Petrozavodsk bahwa Dmitriyev dihukum tiga tahun enam bulan.

Pengacara itu menyebut bahwa ia belum menerima putusan tertulis dan bisa saja dengan waktu yang telah dihabiskan dalam penahanan pra-sidang, Dmitriyev (64) bisa bebas pada September.

Peneliti itu pertama kali ditahan pada akhir 2016 atas tuduhan ponografi anak, kemudian dibebaskan pada 2018 dan kemudian ditahan lagi dengan kasus kekerasan seksual.

Anufriyev menyebutkan sejarawan itu telah bebas dari dakwaan pornografi dari kasus kriminal pertamanya.

“Tidak ada keraguan bahwa Yury Dimitriyev tidak bersalah,” kata Memorial sebelum putusan itu keluar. “Tuduhan ini telah merampas kebebasan Yury Dmitriyev selama tiga tahun dan merusak nasib Putri angkatnya.”

Penuntut menganggap sejarawan itu melakukan pelecehan seksual terhadap putri angkatnya, dakwaan itu disangkal oleh Dmitriyev.

Para pendukung Dmitriy, termasuk advokat dalam dan luar negeri menyebutkan kasus yang menimpa Dmitriyev adalah sebuah usaha untuk menghukum sejarawan itu karena telah menarik perhatian atas salah satu bagian terkelam dalam sejarah Rusia.

Dmitriyev dikenal karena membantu membuka situs Sandarmokh Memorial di Karela untuk mengingat ribuan korban –termasuk banyak orang asing diantaranya, yang terbunuh antara 1937 dan 1938.

Fokusnya dalam kejahatan Stalin secara politik tidak dapat dipertahankan di Rusia modern dimana narasi negara yang dominan adalah tentang sebuah bangsa besar yang bangkit dari keterpurukan.

Pendukung Dmitriyev menyebutkan bahwa kejahatannya yang sebenarnya adalah dedikasinya untuk mendokumentasikan teror Stalin pada 1937-38, dimana sekitar 700.000 orang dieksekusi, menurut perhitungan konservatif resmi.

Kremlin menyebutkan bahwa hal ini tidak ada sangkut pautnya dalam kasus ini. Ditanya apakah ada motivasi politik dibaliknya, para jaksa penuntut menyebutkan bahwa kasus ini murni berdasarkan barang bukti nyata.  (patra/News Agencies/Al Jazeera)

Baca juga :  Polda Sumbar Mulai Laksanakan Operasi Ketupat COVID-19