Dalam laman International The News, Rafique Mangat Menulis sebuah artikel menarik tentang optimesme sekaligus kekuatirannya perihal situasi kehidupan setelah pandami yang dikenal dengan konsep New Normal (normal baru).

Dia menguraikan bahwa dalam sejarah umat manusia, hampir tidak pernah pergerakkan manusia terhenti secara kolektif di bumi. Namun virus corona tidak hanya membuat dunia terhenti, tetapi juga mengubah gaya hidup manusia.

Virus ini telah menghancurkan ekonomi dan membuka celah baru dalam sistem kesehatan. Tempat-tempat umum, kantor, jalan, dan jalan-jalan terlihat sepi, sementara kuburan adalah rumah bagi ratusan ribu mayat yang terinfeksi mikroorganisme.

Manusia telah dipaksa untuk menemukan cara cara baru (new ways) untuk melanjutkan kehidupan sosial, kegiatan budaya dan praktik keagamaan mereka, sementara bagian yang lain mereka terpaksa untuk mengikuti perubahan yang terjadi meski mereka tidak bisa dan suka. Realitas baru ini disebut ‘normal baru’ (new normal)

Ada beberapa hal yang mengalami perubahan ekstrim dalam kehidupan pandemi ini dintaranya adalah pertama, teknologi & isolasi.  Bagi kaum muda lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial pada masa karantina namun para lansia merasa lebih terisolasi. Di tengah-tengah virus menyebar, melarang orang-orang tua  untuk bertemu dengan orang-orang terdekat mereka sama saja dengan membunuh mereka dari dalam.

Kehampaan  yang diciptakan oleh jarak sosial (social distancing) telah menempatkan mereka di bawah tekanan dan ketegangan. Oleh sebab itu menjauhi orang tua atau orang lanjut usia ini dikuatirkan akan menghancurkan struktur keluarga.

Kedua, Tidak ada lagi sentuhan. Teknologi layar sentuh diperkenalkan beberapa dekade yang lalu. Para konsumen pada awalnya tidak pernah berpikir bahwa teknologi layar sentuh akan kehilangan nilainya. Alih-alih menyentuh layar ponsel dan ATM, orang sekarang ingin melakukan pekerjaan melalui teknologi pengenalan suara. Karena mesin sidik jari berpotensi menyebarkan virus karenanya penggunaannya di kantor sebagai tanda kehadiran menjadi usang.

Baca juga :  Genius Umar Paparkan Ketahanan Pangan Masa Pandemi dalam Webinar Pemimpin Kota di Dunia

Beberapa bandara dan perusahaan yang memiliki teknologi canggih telah memasang sistem pengenalan wajah untuk membuka dan menutup pintu. Meskipun akan menambah pembiayaan namun  perusahaan tidak memiliki pilihan selain membeli teknologi tersebut. Selanjutnya, di negera maju hanya sedikit penggunaan uang kertas .

Sekarang, pertanyaannya adalah: akankah negara-negara seperti Pakistan, India dan Bangladesh dan tentu saja Indonesia melakukan hal yang sama? (pengurangan penggunaan uang kertas). Kita tahu bahwa virus bisa menempel di atas kertas selama berjam-jam dan dengan demikian mata uang dapat menjadi sumber penyebara virus.

Ketiga, Untuk mendeteksi pasien yang terinfeksi virus corona, berbagai negara, termasuk Rusia, menggunakan teknologi pengenalan wajah. Beberapa perusahaan Jerman dan Cina menggunakan teknologi penginderaan suhu untuk mendeteksi orang yang demam. Apa yang diharapkan sekarang adalah penggunaan teknologi untuk membatasi pergerakan orang yang menderita penyakit menular.

Keempat, pertemuan online. Pandemi telah memaksa orang untuk bekerja di rumah dan dalam isolasi. Satu-satunya cara aman untuk melanjutkan konferensi bisnis, rapat dewan, kegiatan pendidikan dan segala jenis komunikasi adalah melalui media digital. Baik itu acara kesedihan atau kebahagiaan, pertemuan keagamaan atau konferensi politik, konser atau program hiburan, satu-satunya cara untuk melakukannya adalah melalui ponsel, laptop dan internet.

Virus corona telah membawa revolusi digital, dan orang-orang yang berinvestasi di sektor ini sebelumnya akan dapat keuntungan besar. Akhirnya rapat virtual dan pertemuan online akan bersifat neonormal.

Baca juga :  Ingat! Masuk Kota Padang Wajib Pakai Masker Mulai Hari ini

Kelima, Aplikasi seluler telah menjadi bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan sosial masyarakat. Beberapa aplikasi telah dirancang untuk menemukan orang yang menderita virus corona. Para ahli berusaha memperkenalkan teknologi ini di seluruh dunia.

Pengguna aplikasi akan tahu siapa di antara mereka yang terinfeksi virus, dan kapan mereka bertemu atau dijadwalkan bertemu dengan yang terinfeksi virus. Jika aplikasi tersebut dirancang untuk mengidentifikasi orang yang menderita semua penyakit menular, akibatnya orang-orang tersebut tidak akan lagi memiliki kehidupan sosial.

Keenam, Investasi di sektor medis. Setelah penyebaran HIV, perilaku hati-hati dianjurkan ketika melakukan hubungan seksual (sex aman). Perilaku kehati-hatian dan kebiasaan merawat kebersihan pribadi akan menjadi kebiasaan untuk masa akan datang.

Setelah wabah virus ini menyebar, ada peningkatan investasi di sektor medis di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat. Selama penyakit virus seperti Anthrax, SARS, Ebola, MERS, AIDS, Zika menjadi berita utama, pemerintah akan mengeluarkan uang (anggaran) untuk mengendalikannya, tetapi kemudian anggaran tersebut lambat laun akan dikurangi.  Saat ini upaya memproduksi vaksin melawan virus corona sedang dilakukan namun persoalanya adalah jika vaksin diproduksi, apakah akan tersedia dengan harga yang terjangkau untuk orang-orang dari semua kelas ekonomi?

Ketujuh, eraanya  tele-health. Pandemi tidak hanya membuka celah dalam sistem kesehatan, tetapi juga mencegah orang mengunjungi rumah sakit. Orang-orang menghindari mengunjungi rumah sakit dan klinik karena takut tertular virus. Dengan demikian, tele-health dan telemedicine akan menjadi neonormal. Pasien diberikan layanan rumah untuk tes medis. Mungkkin saja nanti rumah sakit atau klinik memiliki layanan rumah untuk sinar-X dan MRI .

Kedelapan, Belanja online. Dalam dua dekade terakhir, tren belanja online menjadi populer, tetapi orang-orang masih suka mengunjungi super store atau mall yang dibuka di kota-kota. Namun sekarang super store ini tidak memiliki pilihan selain online. Mulai sekotak korek api hingga Mercedes semuanya tersedia melalui layanan belanja online.

Baca juga :  Begini Kata MUI Solok Selatan tentang Dibolehkan Shalat Jumat Saat PSBB

Sembilan, Robot. Robot kebal terhadap virus dan, oleh karena itu, untuk masa yang akan datang robot pasti akan memainkan peran integral. Dalm waktu dekat mulai dari layanan pasokan makanan hingga industri perawatan kesehatan, teknologi robotika akan memainkan peran yang tak terhindarkan .

Sepuluh,  Pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena pandemi virus corona sekitar 25 juta orang kehilangan pekerjaan di Amerika Serikat.  Sementara berjuta juta orang telah dirumahkan di Eropa, Timur Tengah dan Asia Selatan.

Hampir semua negara berusaha untuk menghidupkan kembali perekonomian melalui paket bailout dan melakukan upaya penghentian PHK. Pertanyaanya adalah apakah kita akan menerima PHK sebagai kenyataan baru kita? Apakah pengangguran ini pada akhirnya akan menyebabkan kriminalitas di tengah masyarakat?

Sebagai penutup, COVID-19 telah menjadi ujian bagi semua orang. COVID-19 juga memberikan kesempatan untuk menemukan cara baru dan solusi inovatif untuk problem manusia. Ini membantu banyak orang untuk menyingkirkan pekerjaan lama dan tidak produktif. Konsep desa global (global village) kemungkinan akan menjadi kenyataan.

Namun, dunia pascacorona akan sangat bergantung pada teknologi mutakhir yang akan memiliki beberapa keuntungan sekaligus banyak kelemahan. Ketika masyarakat bergerak ke arah normalisasi realitas baru, mereka harus berhati-hati tentang apa yang disebut neonormal, karena mungkin saja itu akan menormalkan kelainan. (Ditulis kembali oleh Muhammad Taufik dari thenew.com)