Padang, inioke.com–Kisruh penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA/SMK tahun pelajaran 2020/2021 di Sumbar sangat disesalkan Anggota Dewan Pendidikan Sumbar, Khairul Jasmi.

“Apapun caranya, calon peserta didik jangan dirugikan. Ini pekerjaan tahunan, masa tak bisa. Tiap tahun sekolah menerima siswa baru. Seharusnya malah berjalan makin baik, tapi ini malah tambah kacau,” kata Khairul Jasmi, yang akrab dipanggil KJ, Jumat (10/7).

Selama ini, kata KJ, orangtua hanya pasrah ketika anaknya tak bisa masuk sekolah negeri. Namun yang membuat orangtua marah, proses pendaftaran yang kacau, pantas mereka marah.

“Para kepala Dinas Pendidikan jangan hanya pandai menghindar-hindar saja. Hadapi aspirasi masyarakat itu. Itulah risiko jabatan. Kalau tidak bisa mengatur pendidikan, mundur saja. Saya kira masih banyak yang berkompeten,” tuturnya.

Menurutnya, Dinas Pendidikan harus mencarikan jalan keluar, sehingga anak-anak itu bisa sekolah. Ia mengingatkan dari sekarang, hentikanlah promosi sekolah favorit.

Disampaikannya, PPDB itu bagus, yang tak bagus pelaksanaannya. Untuk itu, tahun depan pelaksanaannya harus sebagus dengan sistemnya.

Baca juga :  "Criminal Justice System" Tidak Diatur dalam Draft Rancangan Perpres Pelibatan TNI Mengatasi Terorisme

“Syarat PPDB soal zonasi, batas usia sebaiknya ulangi sosialisinya. Jangan mau buka PPDB baru disosialisasi. Itu tak masuk,” katanya lagi.

Pemerintah harus menjamin anak Indonesia, anak Minang bisa sekolah di negeri sendiri. Kalau sudah penuh kuotanya baru ke swasta.
PPDB adalah hal yang baru. Hal-hal baru selalu memerlukan pemahaman yang luas.

“Sekarang orangtua pada menangis. Ini kesalahan kebijakan masa lampau yang membangun sekolah-sekolah favorit. Akibatnya semua orang ingin sekolah favorit. Kini waktu PPDB muncul surat domisili dekat sekolah favorit itu. Masalah muncul ulah pemerintah sendiri,” pungkas KJ. (ioc)