Isu LGBT menjadi tema yang hangat diperdebatkan menjelang pemilihan presiden Polandia pada 28 Juni mendatang. Presiden Polandia, Andrzej Duda, membandingkan “ideologi” LGBT dengan komunis doktrin.

Meletakan aktivisme hak-hak LGBT sama dengan komunis bisa dianggap sebagai satu hal yang kebencian di Polandia, dimana solidaritas anti-komunis memimpin perjuangan untuk demokrasi semenjak 1980-an. Banyak orang-orang di Polandia percaya bahwa komunis adalah ideologi  asing yang dipaksakan kepada mereka oleh Uni Soviet.

Pada pemilu sebelumnya national law and justice Party (PiS) yang mendukung Andrzej Duda, memenangkan mayorita suara di parlemen dengan agenda nasionalis-konservatif yang berpegang teguh pada nilai-nilai Katolik, termasuk mendukung keluarga tradisional dan melawan pernikahan sejenis. Pada pidatonya Sabtu (13//6) di Brzeg, selatan Polandia, Duda menuduh kemajuan gerakan LGBT lebih buruk dari komunisme dan ia sepakat dengan para politisi konservatif yang menyatakan “LGBT bukan manusia, ini adalah ideologi,” tulis Euronews.

“Mereka mencoba meyakinkan kita bahwa mereka (LGBT) adalah manusia, tetapi ini adalah ideologi,” kata Duda yang diiringi dengan tepuk tangan dan teriakan “Andrzej Duda!” tulis Time.

Baca juga :  "Criminal Justice System" Tidak Diatur dalam Draft Rancangan Perpres Pelibatan TNI Mengatasi Terorisme

Berbicara di depan para pendukungnya, Duda mengatakan, “Para orang tua bertanggung jawab untuk pendidikan seks anak-anak mereka,” dan “tidak mungkin ada institusi yang memaksa bagaimana mereka membesarkan anak-anaknya,” tulis BBC.

Dilansir dari Euronews. Duda mengatakan kepada para pendukungnya bahwa generasi orang tua saya mereka tidak berjuang melawan komunisme untuk menerima “sebuah ideologi” yang ia anggap “bahkan lebih jauh merusak kemanusiaan.”

Sebelumnya, Duda telah menandatangani draf deklarasi yang menyatakan bantuan terhadap keluarga untuk “menyelamatkan anak-anak dari ideologi LGBT” dengan melarang “propaganda ideologi LGBT pada institusi publik.”

Pihak oposisi dan kelompok pejuang hak LGBT mengutuk pidato ini.

Love Does Not Exclude, sebuah kelompok kanan di Polandia menyebutkan kepada Reuters, tawaran Duda sama dengan keputusan pemerintah untuk melarang “propaganda homoseksual” di Rusia.

Salah seorang kandidat lain, Rafal Trzaskowski, yang memperjuangkan toleransi terhadap kaum gay dan kulit hitam, mengatakan bahwa pernyataan itu akan memecah belah Polandia. “Saya pikir siapapun yang menggunakan bahasa-bahasa itu akan membayar harga politis,” kata Trzaskowski seperti dilansir dari Time.

Baca juga :  Bansos Salah Sasaran, Pemkab Pessel Bakal Validasi Data Penerima

Trzaskowski yang menjabat sebagai walikota Warsaw dari centre right Civic Platform (PO) telah dikritik kelompok agamis konservatif karena mengizinkan diskusi tentang LGBT dilakukan di sekolah-sekolah Warsawa.

Robert Biedron, politisi pertama Polandia yang menyatakan dirinya adalah seorang gay, meminta Duda untuk “mengakhiri semua kebencian ini” dalam sebuah kicauan setelah pidato itu tulis Reuters.

Polandia adalah negara satelit bekas Uni Soviet dan merupakan negara pertama yang menghapus komunis di negara itu pada 1989. Dikutip dari Reuters, tahun ini negara itu dianggap sebagai negara dengan hak-hak LGBT terburuk menurut sebuah survei oleh NGO ILGA-Europe yang berkantor di Brussels (Belgia). (Haldi Patra)