Pandemi pada dasarnya adalah fenomena psikologis. Hal itu dijelaskan oleh Prof Steven Taylor, Guru Besar Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas British Columbia dalam sebuat artikelnya.

Menurut Taylor, pandemi disebabkan dan hanya bisa dikendalikan oleh cara orang berperilaku. Jadi pandemik bukan hanya bicara seberapa banyak masyarakat terinfeksi virus, namun ia bisa dikendalikan ketika orang mau melakukan hal-hal tertentu, seperti menggunakan masker, menutup mulut ketika batuk, mencucui tangan dan mematuhi jarak sosial.

“Kita tidak tahu kapan vaksin pandemi ini ditemukan, maka jika masyarakat menolak melakukan hal tersebut dengan alasan psikologis, makan pandemik akan terus menyebar,” tegas penulis buku The Psychology of Pandemics: Preparing for Next Global Outbreak of Infection Disease ini. Kerentanan psikologis tersebut akan mempengaruhi penyebaran infeksi pandemi, tekan sosial dan gangguan sosial lainya.

Menjadi jelas, lanjut Profesor yang berdarah Australia ini,  bahwa psikologi sangat penting dalam memahami bagaimana orang mengatasi atau bereaksi terhadap ancaman infeksi pandemi. Oleh sebab itu, mengatasi pandemi bukan hanya berkaitan dengan persoalan medis. Namun, memahami psikologi pandemi untuk menemukan cara membantu orang dan masyarakat pada umumnya untuk mengontrol penyebaran penularan dan untuk menangani tekanan emosional yang terkait dengan pandemi.

Baca juga :  Empat Pasien Isolasi di RSUP M Djamil Negatif COVID-19

Taylor, yang banyak meneliti tentang interaksi antara kecemasan individu dan penyebaranya pada perilaku kelompok, memberi contoh bagaimana panic buying merupakan fenomenaa ketakutan yang ditularkan dari orang lain. Sehingga orang meniru apa yang dilakukan oleh orang lain. Perilakau seperti ini bisa dilihat ketika “anda pergi ke supermarket dan semua orang berlarian seperti ayam kaget, mengambil semua yang mereka bisa, anda akan mulai bertanya-tanya, aduuh, ini benar-benar berbahaya. Saya lebih baik melakukan hal yang sama (menimbun).

Berdasarkan hal itu dalam artikel lain, Taylor memberikan solusi terhadap prilaku seperti itu dengan cara membatinkan pada diri sendiri (inoculate), “Saya akan masuk ke sana dan akan ada orang-orang yang panik, itu akan memberi saya dorongan untuk bertindak panik dan saya hanya perlu mengendalikan otak saya dan berpikir dengan hati-hati, bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya saya butuhkan di supermarket? Alhasil anda tidak akan terjebak dalam kepanikan massal, itulah  strategi manajemen kecemasan (anxiety management strategies) tukasnya.

Baca juga :  Semua Pasien Positif Covid-19 di Padang Panjang Sembuh

Dalam sebuah situs QA (Question and Answer), Taylor membedakan orang dalam dua kelompok ketika menghadapi pandemic Covid-19. Pertama Orang dengan kepercayaan rendah (under estimate). Kelompok ini cenderung mengabaikan informasi baik dari pemerintah, otoritas kesehatan atau media. Mereka selalu percaya dengan cara mereka sendiri dan terlalu optimis dalam memahami wabah atau Covid-19 ini. Kedua, orang yang berlebihan dalam mesikapi virus ini (over estimate). Tipe orang ini adalah orang yang dengan masalah kecemasan yang sudah ada sebelumnya. Mereka ini juga cenderung mengkuatirkan segala sesuatu berlebihan karena merasa  berada dalam zona ketidakpastian. Dan, orang yang mengalami kesulitan mengatasi ketidakpastian cenderung memiliki emosi negatif, tambah Prof Taylor. (Taufik/Independent,RNZ)