Oleh: Abdullah Khusairi

Semangat (ghirah) keagamaan yang tumbuh di kelas menengah baru perkotaan sering terjebak dalam pseudo-religiositas, disebabkan ilmu agama yang belum memadai.

Ghirah itu tiba menjadi alternatif pelarian (escapisme) dari tekanan pekerjaan, mengisi kekosongan bathin dan sandaran dari godaan-godaan hidup yang diyakini membawa kesesatan.

Escapisme tersebut disambut pula dengan smartphone yang sangat membantu kaum menengah baru ini mendapatkan ilmu agama melalui mesin pencari (search engine) tanpa harus berguru dan berlelah-lelah dalam belajar. Smartphone yang berbasis big data dengan pengolahan alogritma menjadi mazhab baru dalam keberagamaan kaum menengah.

Pernyataan di atas muncul mengalir setelah membaca artikel Muhammad Taufik bertajuk “Santri Tanpa Pesantren: Penganut Mazhab “Googleiyah”. Tulisan ini menggelitik untuk dibahas karena telah memaparkan dinamika keberagamaan yang mau tak mau telah masuk ke jagat maya. Dimana ada kemudahan bagi generasi baru untuk belajar, tinggal tanya ke mesin pencari. Saya hendak mengulas lebih jauh dinamika keberagamaan ini melalui perspektif yang berbeda.

 Disrupsi Teologis

Sejarah kini sedang terpusatkan ke dalam sistem big data yang disediakan perusahaan Google, juga beberapa penyedia layanan serupa, lalu ummat belajar melalui smartphone yang dimiliki dengan membaca data yang tersedia. Layanan itu berbasis algoritma sebagai penghitung dan penjawab seluruh kemauan dan keinginan pemilik akun di smartphone. Begitu mudah dibandingkan dengan masa lalu yang harus membaca kitab tebal.

Inilah disrupsi bidang pendidikan keagamaan, yang juga telah melanda sektor kehidupan lainnya. Perubahan pada dasarnya adalah keniscayaan bila mana ia masih mampu dihadapi dengan baik, sayangnya pada kekacauan perubahan yang terjadi sedemikian cepat, banyak yang tidak siap. Termasuk kekacauan pemahaman keagamaan karena berguru pada mesin, tidak kepada seorang guru. Mesin pencari, memang cerdas karena berbasis Artifisial Intellegensia (AI) sayangnya ilmu butuh penjelasan rinci dari sekadar yang dibacakan. Itulah yang tidak didapatkan bila beragama mengandalkan smartphone.

Pada dasarnya, ghirah keberagamaan itu sangat baik. Hanya saja bila tidak hati-hati, rawan terjebak pada sikap yang sensitif dan reaktif. Dua sikap ini cenderung muncul bukanlah berangkat ilmu agama yang dimiliki tetapi karena hajat hidup, pandangan politik dan aktualisasi diri. Tentu saja ada yang ingin mengakui sikap sensitif dan reaktif berdalil agama karena hal ini tetapi bila dilokalisir lebih jauh, persoalan ghirah keberagamaan telah diseret ke wilayah kepentingan lain, bukan lagi teologis semata.

Baca juga :  Terkonfirmasi Positif COVID-19 Bertambah 4 Orang di Sumbar

Arus Silang Ideologis

Siapakah kelas menengah baru perkotaan seperti itu? Bila “di-zoom-in” lebih jauh, mereka adalah kaum urban mapan yang berjuang untuk mengejawantahkan eksistensi dan untuk meraih kuasa publik. Ghirah agama muncul dimungkinkan karena hendak mencapai pengakuan eksistensi dan aktualisasi diri itu. Sayangnya, tak pernah mendapat pengajaran keagamaan yang memadai karena jenjang pendidikannya yang dilalui semuanya sekolah formal. Maka alternatif paling mungkin adalah berguru kepada Google, maka jadilah jamaah Googleiyah seperti dimaksudkan Muhammad Taufik.

Mari kita mundur sedikit, perihal kelas menengah baru perkotaan ini. Pada 80-90an kesempatan mendapat pendidikan formal lebih terbuka dari sebelumnya. Kebijakan pemerintah yang menganakemaskan ilmu eksak salah satu pemicu trend tersebut. Mereka yang mendapat tempat di ilmu-ilmu eksak inilah yang kini menjadi kelas baru yang produktivitas kerjanya ditentukan oleh mesin dan sistem. Mereka tidak mendapat pengajian formal yang utuh.

Kini, generasi itulah yang menggali, mencari, menumbuhkan, menggelorakan, semangat keberagamaan dengan mendompleng, melahirkan, mengagungkan tokoh-tokoh baru, yang sebenarnya punya agenda setting tersendiri pula, seiring dengan keterbukaan informasi dan kebebasan ekspresi politik. Agar aktualisasi dan eksistensi ini bisa cepat berterima, simbolisasi segera ditanam untuk citra diri.

Fenomena ini tumbuh mekar sejak era kebebasan tiba, selepas reformasi. Tanpa menihilkan model alamiah kaum tradisional yang juga tumbuh kian keren, kelas menengah baru nonpendidikan agama tadi sedang mencari celah pengakuan untuk mendapatkan kekuatan politik. Ada yang berhasil ada yang tumbang. Ada yang bertahan ada yang hilang. Ada juga yang bermetamorfosis menjadi ulama terkenal, dipanggil-panggil ustadz!

Baca juga :  Tindakan Arogan Petugas PSBB di Lubuk Paraku terhadap Ketua KPU Sumbar, Dari Berkata Kasar hingga Postingan Facebook

Lalu kemana generasi 80-90an yang ditertawakan teman-temannya ketika masuk sekolah keagamaan? Mereka juga bagian dari kelas menengah baru tersebut, tetapi tidak dominan seperti yang baru “bermazhab googleiyah.” Alih-alih unjuk diri, para generas 80-90an yang ditertawakan dulu itu, kini tersenyum aneh melihat kelas menengah yang belum memadai ilmu agamanya itu berjuang untuk menyatakan diri sebagai orang shaleh, beriman, serta harus diakui publik seperti itu. Salah satu petunjuk hal serupa itu, memasukkan putra-putri mereka ke sekolah keagamaan, mendidik anaknya menjadi hafiz/hafizah. Ukuran keagamaan beralih dari otoritas ke popularitas, sensitif dan reaktif  bila berhubungan dengan agama. Kelompok ini rentang terpapar hoax dan fake news.

Banjir Informasi

Akhirnya titik temu itu ada pada episentrum badai informasi yang menerpa tanpa ampun di tengah ketidaksiapan ummat dalam beragama pada satu sisi, kemudahan dan kemurahan teknologi informasi pada sisi lain, serta ada kepentingan orang menyebar informasi. Industri informasi berkembang pesat, sementara ummat belum dibekali dengan literasi yang memadai pula. Akhirnya, apa yang ada didapatakan dari internet sudah diyakini sebagai sebuah kebenaran. Ingat, ini era informasi yang mengalami bah, arus membawa semua material informasi itu ke hadapan publik dengan suasana yang keruh. Rajinlah verifikasi agar mendapat informasi, pengajian agama, yang jernih dan tepat.

Informasi itu, di dalamnya adalah media, isi (content), juga strategi merupakan senjata baru dalam menundukkan publik. Ruang public (public sphere) adalah panggung atau pasar wacana yang seperti diungkapkan Gramscy, yang hendak diraih bersebab wacana adalah kuasa mutakhir untuk menundukkan public. Lebih-lebih ketika demokratisasi model pemilihan langsung, one man one vote diterapkan. Demografi ummat Islam yang mayoritas salah satu pemicunya. Artinya, kesempatan ini lebih dahulu diisi oleh orang yang lihat dan cermat membaca kecenderungan kemajuan zaman. Atas semua itu ia akan meraih keuntungan (bonafide) dari keadaan tanpa disadari oleh public yang menikmati informasi tersebut.

Baca juga :  Andari Gusman : Milenial Minangkabau Harus Percaya Diri dan Berani Keluar dari Zona Nyaman

Kenapa begitu mudah orang percaya dengan isi sebuah media? Itu karena lemah daya kritis, kesiapan ilmu pembanding, yang membuatnya tunduk segera dengan segala keterkejutan terhadap isi informasi. Mengaji dengan mesin pencari berarti menemuikan salah satu media online. Dari sini dimulai maksud mazhab googleiyah harus hati-hati mencari sumber otoritatif agar tidak tergelincir pada pseudo-religiositas. Sebuah bentuk kepalsuan-kepalsuan yang dipoles untuk memuaskan public tetapi sesungguhnya tidak ada. Ada banyak pengajian agama yang beritikad sebagai bisnis informasi secara murni. Ummat adalah konsumen. Ini bahaya dan keliru.

Apakah akhirnya kita menyerah membiarkan mazhab baru itu? Saya masih meyakini sebuah niat baik dengan jalan yang masih sering keliru sekalipun akan menemukan momentumnya. Mungkin saja perlu arahan lebih lanjut, mesin pencari membaca data di dalam bank data yang banyak, mereka yang telah lebih dahulu lmengisi bank tersebut akan terakses. Sebelum terlambat, sudah ada yang memulai, perlunya data-data dari sumber otoritatif dapat diakses dengan mudah.

Kita memang perlu maklum dengan keadaan kaum menengah baru ini. Di tengah kegalauan dalam menggapai cita-cita dalam kehidupan, tekanan kebutuhan ekonomi, industri informasi yang menggoda selera, mereka perlu sandaran teologis agar tidak tercerabut, hidup tanpa jiwa dan tidak menjadi robot-robot industri. Sandaran tersebut dijawab dengan mesin pencari, kini waktunya mengisi mesin pencari tersebut dengan kebenaran-kebenaran yang universal sebagaimana maksud kehadiran agama. Kebenaran-kebenaran parsial, sering kali menyaru, menyelip, di tengah lautan informasi keagamaan. Pituah lain, perlu kecedasan memilih dan memilih sumber-sumber atau yang disebut kritik sumber, agar pengajian dengan mesin pencari menambah pencerdasan. Bukan sebaliknya, dibawa arus ke pseudo religiositas. []

Penulis adalah Doktor Pengkajian, Islam Mengajar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang