Sebenarnya saya ada niat untuk pulang ke Padang. Apalagi mau Ramadhan. Tapi, saya memilih untuk tidak pulang, karena saya lebih sayang keluarga.

Demikian Bima Bagas, seorang karyawan swasta di Jakarta yang berasal dari Kota Padang, menjawab pertanyaan inioke.com, terkait rencana pulang kampung di tengah wabah Covid-19, pada Jumat, 9/4.

Sepotong kalimat dari Bima Bagas tersebut seakan menggambarkan bagaimana suasana hati para perantau Minang yang ingin pulang kampung, di saat sesulit wabah, namun mengurungkan niat. Akibat Covid-19 ini, ia dan sebagian besar rekan-rekannya harus bekerja dari rumah (Work from Home). Demikian kebijakan yang diambil kantornya guna meminimalisir penyebaran Covid-19.

Meskipun telah bekerja dari rumah, yang notabene bisa dimanfaatkan untuk pulang kampung, namun rasa rindu terhadap kampung halaman tersebut terpaksa disimpan sementara demi suasana kampung, khususnya rumah yang kondusif dari penyebaran Covid-19.

Bima tentu tidak sendirian. Riki Andesko, yang juga bekerja di Jakarta pada salah satu Bank swasta, juga memilih untuk tidak pulang kampung.

“Kita tidak bisa menjamin kondisi kesehatan kita, apakah benar-benar bersih dari Covid-19 atau tidak. Jika begitu, maka kemungkinan kalau dipaksakan pulang akan tidak baik. Lebih baik tidak mudik dulu demi menjaga kesehatan diri dan keluarga di kampung,” ungkap Riki.

Niatan sebagian besar perantau Minang, khususnya yang berada di Jakarta, untuk menahan diri pulang kampung juga sejalan dengan imbauan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Menurut Anies, pihaknya sudah mengimbau sejak agar masyarakat tidak pulang kampung demi kebaikan bersama. Sehingga masyarakat diminta patuh agar tidak menyebarkan Covid-19 ke kampung halamannya.

Baca juga :  Mengurai "Ruh" Pemberdayaan dalam Pembangunan Desa

“Kita di DKI, himbauan saya sudah sampaikan dua minggu lalu jangan pulang kampung, jangan meninggalkan Jakarta, demi kebaikan seluruh masyarakat. Jadi bukan hanya memikirkan diri sendiri tapi juga masyarakat,” ungkap Anies dalam konferensi pers di Balaikota DKI Jakarta, Kamis, (26/03/2020).

Tidak hanya Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, juga mengimbau seluruh perantau agar tidak pulang kampung untuk sementara waktu sebagai langkah antisipasi penyebaran virus corona. Irwan Prayitno juga mengeluarkan surat edaran terkait penyebaran virus Corona (Covid-19). Lewat edaran itu, Pemprov Sumbar meminta warganya di daerah lain tak pulang ke kampung halaman untuk sementara waktu. Edaran bernomor 050/078/BKPdR/III-2020 ditandatangani Irwan pada Selasa (24/3).

Kecemasan Kesehatan dan Ekonomi

 Meskipun imbauan untuk tidak kembali ke kampung sudah dikeluarkan, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, hal tersebut bukan berarti membuat masyarakat yang berada di daerah rantau benar-benar mengurungkan niat untuk pulang kampung. Pelbagai faktor menjadi alasan, seperti kesehatan dan ekonomi.

Dari 31 Maret hingga 15 April diperkirakan sudah 80 ribu orang pulang kampung ke Ranah Minang, tersebar di kabupaten/ kota di Sumatera Barat. Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, melalui imbauannya, para perantau sebaiknya tak pulang kampung dulu. Apalagi, kata Irwan para perantau yang kembali tersebut sebagian berprofesi sebagai pedagang. Mereka mengalami kesulitan sejak pandemi Covid-19. Para perantau ini masuk ke Sumbar melalui jalur udara dan sembilan pintu masuk lewat jalur darat.

Pintu masuk lewat darat itu adalah 2 titik di perbatasan Kabupaten Pesisir Selatan dengan Bengkulu dan Kerinci Jambi, 1 titik di Kabupaten Limapuluh Kota pintu masuk dari Riau, dan 2 pintu di Kabupaten Pasaman, yakni pintu masuk dari Sumatera Utara dan Riau. Selain itu ada 1 titik di Kabupaten Pasaman Barat sebagai pintu masuk dari Sumut, 1 di Kabupaten Dharmasraya, pintu masuk dari Jambi, serta 2 di Kabupaten Solok Selatan, pintu masuk dari Jambi.

Baca juga :  Pemprov Sumbar Bakal Usulkan PSBB untuk Kota Padang dan Bukittinggi

Banyaknya perantau yang tetap kembali ke kampung halaman tentu harus dipahami juga, bukan soal langkah mereka salah atau benar. Pada kondisi serba sulit seperti sekarang, memang sangat dilematis.

“Dilema juga. Di satu sisi mereka harus memutus mata rantai penyebaran Covid 19. Namun di sisi lain mereka juga tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk tetap bertahan di daerah rantau. Seperti beberapa teman saya yg terpaksa harus pulang ke kampung mengingat penghasilan yg terus menurun akibat sebagian besar masyarakat memilih berdiam diri di rumah,” Ujar Riki Andesko, salah satu perantau Minang di Jakarta, kepada inioke.com.

Tidak hanya para perantau yang berprofesi sebagai pedagang saja, mahasiswa pun juga demikian. Faizah Khairunnisa, mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Bandung, juga memilih untuk kembali ke kampungnya di Sijunjung dua minggu lalu. Menurut Faizah, proses belajar di kampus sudah dihentikan.

“Kampus sudah lockdown. Bagi mereka yang masuk, mereka harus menyertakan surat keterangan sehat dan izin mendesak yg sudah disetujui oleh prodi. Tidak ada aktivitas belajar mengajar di kampus Bandung,” jelas Faizah, Jumat, 10/4.

Baca juga :  Ini Tiga Pejabat Lulus Seleksi Terbuka Kepala DP3AP2KB Kota Padang

“Orang tua menyetujui saya untuk pulang kampung, namun dengan syarat tidak membawa barang-barang dan saya harus menggunakan masker. Baju-baju saya dikirim melalui paket. Kemudian saya juga harus melaksanakan karantina mandiri di kamar selama 14 hari,” tambah Faizah.

Dukungan orang tua untuk kembali ke kampung halaman bukan hanya dialami oleh Faizah. Valen Mitra, salah seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Kedinasan di Kota Bandung juga demikian. Orangtuanya juga mendukung agar ia lebih baik pulang ke Sijunjung, mengingat kondisi Bandung dan sekitarnya sudah tidak kondusif.

“…iya, orang tua sudah menyuruh saya pulang, karena sudah mulai panik dengan keadaan Bandung yg masuk zona merah. Takut nanti akan diadakannya local lockdown di beberapa kota, pembatasan penerbangan, dan penutupan akses jalan. Sehingga akan makin sulit,” jelas Valen.

Namun, orangtua Valen juga tetap meminta Valen untuk melakukan antisipasi saat pulang kampung.

“Orangtua mendukung dengan syarat mematuhi SOP yang ada, yaitu dengan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari di rumah dan melaporkan kepada puskesmas terdekat,” tambah Valen.

Kini, apa pun, corona sedang mewabah. Dalam masa sulit, para perantau, termasuk mahasiswa yang kuliah di rantau, pulang adalah kerinduan. Namun, ketika ada imbauan untuk tidak mudik, ada hal yang membuat resah. Memang, kita tak tahu dengan badan diri, apakah ada virus terbawa atau tidak. Imbauan tak mudik serta keinginan mudik, dua hal yang tak ada salahnya, tapi butuh kearifan, mana yang tepat untuk kebaikan bersama. (Ikshan Yosari, Jakarta)