Oleh Fidelis Mbah

 

Sebagian besar penduduk terkurung di rumah mereka. Masjid-masjid ditutup dan festival yang biasanya dilakukan di akhir Ramadan mungkin akan dibatalkan. Kemeriahan yang tertunda.

Saat itu pukul 4.42 pagi, hari ke 16 Ramadan, saat Ismaila Alhassan terbangun karena panggilan shalat terdengar keras dari luar rumahnya.

Daripada menuju masjid yang terletak hanya beberapa meter dari rumahnya di Kano, kota terpadat kedua di Nigeria, pria 47 tahun dan empat anaknya itu justru berjalan ke tempat shalat yang ada di dalam rumah mereka dan shalat di sana. Mereka akan selalu menggunakan tempat ini dalam melaksanakan shalat lima waktu.

Keputusan Alhassan untuk melaksanakan kewajiban agama itu di rumah sejalan dengan pembatasan ketat yang diberlakukan di Kano untuk mengurangi penyebaran pandemi coronavirus.

“Ramadan tahun ini jelas berbeda dengan sebelumnya. Kami tidak bisa pergi ke masjid lagi. Kami tidak bisa berbuka bersama teman, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Kami terkurung di rumah hampir seperti tahanan. Tetapi kami harus menuruti arahan pemerintah,’ kata Alhassan ke Al Jazeera.

“Kami berdoa untuk pertolongan Allah agar pandemi ini segera berakhir jadi kami bisa kembali pada kehidupan normal lagi,’ Katanya.

Langkah Lockdown

Kano, kota komersial di utara Nigeria dengan perkiraan populasi sekitar 13 juta jiwa, telah di lockdown oleh Presiden Muhammadu Buhari pada 27 April akibat 640 kasus “kematian misterius” dalam dua minggu.

Baca juga :  Fadly Amran Harap Pemerintah Pusat Setuju Chatib Sulaiman sebagai Pahlawan Nasional
Barisan tempat tidur untuk laki-laki di pusat isoloasi coronavirus di Stadion Sani Abacha Kano (file: Aminu Abubakar/AFP)

Hal itu muncul dalam laporan-laporan setempat, menyebutkan para penggali kubur di pemakaman mengatakan bahwa mereka telah menguburkan mayat dalam jumlah yang lebih dari biasanya dalam beberapa minggu terakhir. Hal itu menyebabkan kecemasan dalam masyarakat.

Pemerintah negara bagian menyangkal bahwa kematian itu berhubungan dengan pandemi corona, sementara pemerintah federal menurunkan tim pencari fakta ke Kano untuk menyelidiki “tingkat kematian yang meningkat” itu sementara lockdown diberlakukan.

Dalam pelaksanaannya, sekolah, masjid dan kantor-kantor ditutup. Pertemuan-pertemuan publik dilarang dan masyarakat diminta untuk tetap di rumah.

Pada 2 Mei, Gubernur Abdullahi Ganduje mengumumkan pelonggaran sebagian terhadap lockdown untuk dua hari dalam seminggu, Senin dan Kamis dari pukul 10.00 sampai 14.00, “agar masyarakat bisa keluar rumah dan membeli kebutuhan.”

Namun, tempat-tempat ibadah di kawasan mayoritas Muslim tetap ditutup. Akademisi Islam Umar Bawa mengatakan pada Al Jazeera bahwa hal ini tidak diterima baik selama Ramadan.

“Ada banyak keluhan, terutama dengan meningkatnya lockdown untuk beberapa hari.” Katanya. Beberapa orang bertanya, “Mengapa tidak membuka masjid selama 30 menit untuk shalat Jumat?”

Baca juga :  707 Orang Terjangkit Covid-19 di Sumbar, Sembuh 503 Orang

Namun, Bawa mengaku, seperti yang lainnya, bahwa ia menuruti perintah untuk tetap diam di rumah dan tidak membahayakan kesehatan publik.

seorang perempuan berjalan menggunakan masker melewati sebuah bus di Lagos, episenter virus di Nigeria (File: Temilade Adelaja/Reuters)

Mengumpulkan Bantuan

Ramadan adalah periode ketika kaum Muslim didorong untuk membantu yang kurang beruntung dengan donasi dan pekerjaan amal –tetapi tahun ini hal itu menjadi pekerjaan yang sulit.

“Orang-orang menggunakan kesempatan ini untuk menyalurkan sedekah tetapi sekarang mereka merasa ketakutan,” kata Rabiu Bashir (23), seorang Bankir di Kano. “Tidak ada hubungan komunal dan pertukaran seperti sebelumnya,” katanya kepada Al Jazeera. “Lockdown ini membuat semuanya suram.”

Menurut Bawa, dua hari pelonggaran memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk mengerahkan bantuan kepada yang membutuhkan. Bantuan dan kontribusi dikumpulkan pada hari-hari saat lockdown dilonggarkan, katanya.

Saat ini adalah waktu ketika biasanya penduduk Kano seharusnya merayakan Festival Durbar di akhir Ramadan, satu dari acara budaya yang paling berwarna di Nigeria yang menarik ratusan ribu orang.

Namun, tahun ini, festival itu mungkin tidak akan diselenggarakan akibat dari lockdown –kurang dari dua minggu dari seharusnya pelaksanaannya, persiapan belum lagi dilakukan.

“Banyak yang akan merindukan Dubar –dari orang-orang kaya sampai orang-orang biasa,” kata Bashar. “Karena itulah yang membuat Hari Raya menjadi spesial.”

Festival ini biasanya diawasi oleh Emir yang berpengaruh di Kano, yang dipandang sebagai penguasa senior Islam kedua di Nigeria. Pada 11 Maret, Aminu Ado Bayero diangkat sebagai penguasa tradisional baru menggantikan Emir Lamido Sanusi setelah terjadi perdebatan dengan pemerintah.

Baca juga :  Padang Panjang Kota Koperasi Syariah Pertama di Sumbar

“Saya yakin banyak yang ingin melihat emir baru ini pada Durbar, namun tampaknya kita harus menunggu lebih lama untuk melihatnya,” kata Bashir.

Di Nigeria, dilaporkan 7.787 kasus terkonfirmasi dan 158 kematian.

Lagos menjadi episenter virus di negara itu dengan 1.990 kasus, sedangkan Kano menempati urutan kedua dengan 693 infeksi tercatat.

Dengan tidak adanya kemungkinan kapan lockdown akan berakhir, masyarakat bersiap untuk menghadapi Hari Raya Idul Fitri yang berbeda tahun ini.

“Apa yang kami pikirkan untuk dilakukan adalah berdandan, berfoto, makan bersama dan menghabiskan waktu sebagai sebuah keluarga,” ujar Bashir untuk rencana perayaan hari raya keluarganya.

Meskipun dalam masalah di tahun ini, namun Alhassan yakin Kano kano akan “bangkit dan kembali ke kehidupan normal lagi”.

“Ini hanya kemunduran sementara,” katanya. “Kita akan segera berkumpul lagi untuk shalat berjamaah di masjid, berbagi makanan, saling mengunjungi dan melaksanakan Durbar tahun depan, Insha Allah,” katanya. (Dialihbahasakan oleh Haldi Patra dari www.aljazeera.com)