Oleh Haldi Patra

 

Ramadan di Perancis, tak ada suasana kota yang spesial bagi pemeluk Islam asal Indonesia seperti Dayu. Selain menunaikan ibadah puasa yang mencapai 16 jam, semua ia jalani dengan iklas. Dengan sifat-sifat individualisme orang Perancis, di negara Eropa Barat dengan kasus terkonfirmasi coronavirus sebanyak 180 ribuan dan 32 ribuan diantara menyebabkan kematian, ada rasa rindu bagi Dayu: ingin pulang ke Indonesia, tapi….

Paris, Perancis, kota paling romantis di Eropa dan menjadi pusat mode dunia. Jutaan turis berdatangan ke kota ini setiap tahunnya. Salah satu keajaiban dunia, Menara Eiffel berdiri dengan anggun dan menjadi simbol paling ikonik kota itu. Lukisan Monalisa karya Leonardo Da vinci terpampang di sebuah sudut Museum Louvre.

Di kota itu, Dayu Rahma Saymenta (26), alumni Jurusan Hubungan Internasional Universitas Andalas, mencoba peruntungan perantauannya. Bermula dari saat menunggu panggilan kerja, ia mengikuti program kursus bahasa perancis yang diadakan oleh IFI (Institute Français d’Indonesie) di kedutaan Perancis di Jakarta.

Dayu Rahma Saymenta

“Kebetulan ada informasi mengenai Campus Fest, ada tawaran untuk mengikuti kursus pendalaman bahasa Perancis langsung di negeri itu dan disertai program magang di sebuah perusahaan travel agency,”  katanya dalam bincang-bincang santai dengan inioke.com pada Rabu (21/05.2020).

Itu menjadi pembuka jalannya untuk menjelajahi tanah Eropa serta beberapa negara Afrika Utara. “Indonesia bebas visa untuk masuk ke beberapa negara Afrika Timur,” katanya pada inioke.

Pada tahun 2018, disponsori oleh suatu perusahaan, perempuan dari kota kecil bernama Payakumbuh di Sumatera Barat ini terbang ke Perancis.

Setelah selesai program magang itu, ia berencana untuk mengambil program master. Informasi yang menarik adalah biaya program master di beberapa kampus di sana lebih murah dibandingkan di Indonesia. “Sekitar 300-400 Euro, atau 5-6 jutaan (Kurs Rp16.134). Dan itu bisa ditopang dengan penghasilan dengan kerja paruh waktu.”

Kini, Dayu masih mengikuti kursus bahasa Perancis untuk meningkatkan kemampuannya berbahasa itu di Universitas PARIS X (Nanterre Universitè). Untuk bisa diterima di kampus dengan program reguler, seseorang harus berada pada level fluent, sedangkan kini ia masih di intermediate. Jadi ada beberapa level lagi yang harus diraih untuk ke tingkat itu.

Baca juga :  Seorang PDP COVID-19 Asal Kabupaten Solok Meninggal, Hasil Tes Swabnya Belum Keluar

“Sebenarnya saya bisa mengambil kelas internasional dengan bahasa Inggris. Tapi mendaftar ia memilih kelas reguler dengan bahasa Perancis tentu lebih memberikan peluang yang lebih besar,” katanya karena ia ingin berkarir di negara itu.

Tahun ini ia akan mencoba melamar ke beberapa universitas untuk program master. Sebenarnya, ia telah diterima di ESG (Ecole de commerce) untuk jurusan Hospitality Management. Tapi itu adalah kampus swasta. Bagaimanapun Dayu tetap mencoba mendaftar di kampus negeri.

“Agar lebih murah, ” katanya. Karena ia di sana tidak dengan beasiswa melainkan biaya sendiri.

Quality Friend

Pertama kali tiba di Perancis, seperti kebanyakan orang yang datang ke daerah baru, Dayu mengalami cultural shock (geger budaya).

“Orang-orang disini sifatnya individualisme. Mereka tidak peduli dengan orang lain. Kamu belum tentu ‘berteman’ dengan seseorang walaupun beberapa kali bertemu dengannya.”

Hal itu tentu berbeda dengan budaya kita, khususnya di Indonesia, yang biasanya akan menjadi teman apabila bertemu dengan seseorang. Dayu menambahkan, “jadi wajar jika orang-orang di sini punya sedikit teman. Tapi dari sedikit itu, mereka adalah quality friend.”

Dayu teringat pernah menyaksikan seorang turis yang dicopet dan berteriak minta tolong di metro (jaringan kereta api bawah tanah). Namun orang-orang tidak peduli sama sekali. “Mereka ada yang hanya menoleh sejenak dan berlalu, bahkan ada yang tidak menoleh sedikitpun dan bersikap tidak ada yang terjadi sama sekali.”

Hal yang kontras sekali dengan apa yang ada di Indonesia. Di mana orang-orang akan geger mengejar si pencopet. Jika tertangkap bogem mentah pasti akan menyambut. Bahkan beberapa kasus para pencopet yang bernasib sial dibakar hidup-hidup.

Masih Lidah Indonesia

Baca juga :  9 Orang Tewas Tertimbun Longsor Tambang Emas di Solok Selatan

Makanan masih merupakan satu masalahnya baginya. Tentu saja selain harus memilih-milih makanan untuk mendapatkan yang halal. “Kita tidak bisa seenaknya masuk restoran dan memesan menu-menu yang tersedia,” katanya.

Setelah hampir dua tahun di Perancis, ia tetap kesulitan untuk menyesuaikan lidahnya dengan makanan-makanan di sana. Secara berkelakar Inioke menyebutkan bahwa Dayu masih memiliki lidah Indonesia.

Dayu tertawa, “Setidaknya senang untuk membuat lidah ini berbicara bahasa Indonesia, terutama bahasa Minang.” (Inioke melakukan wawancara ini dalam bahasa Minang).

Selama Lockdown

Foto tanggal 16 maret di salah satu Supermarket di Perancis. Minggu pertama lockdown

Perancis dihantam pandemi ini dengan cukup parah, dilansir dari Worldmeters.com, negara Eropa Barat ini memiliki kasus terkonfirmasi coronavirus sebanyak 180 ribuan dan 32 ribuan diantara menyebabkan kematian. Paris –seperti banyak kota lainnya di dunia, di-lockdown  selama berminggu-minggu.

Dayu mengungkapkan beberapa pengalaman selama lockdown. Seperti langkanya berbagai kebutuhan pokok. “Yang lucunya, tisu toilet juga ikut-ikutan langka. Padahal symptom-nya kan hanya kemungkinan kecil diare. Entah untuk apa guna tisu toilet oleh mereka,” katanya sambil berkelakar.

Joging, Demi bisa Keluar Rumah

Selain itu, ada satu lagi pengalaman unik. “Jadi sepertinya lockdown  ini membuat orang-orang menjadi stress.  Mereka butuh keluar rumah. Jadi ada aturan, boleh keluar rumah di sekitar lingkungan tempat tinggal untuk jogging. Lalu tiba-tiba semua orang menjadi senang jogging. Bahkan orang-orang yang sebelum pandemi ini tidak pernah jogging sama sekali, kini hobi melakukannya. Tampaknya apapun mereka lakukan demi bisa keluar rumah.”

Sebab jika tertangkap keluar rumah oleh polisi, sanksinya bisa didenda. Pemerintah tidak main-main dalam menerapkan sanksi ini. seseorang yang tertangkap bisa didenda sebesar 130 Euro pada kesempatan pertama. Artinya jika masih ‘nakal’ dan kembali tertangkap, denda itu bisa berlipat ganda sampai ribuan Euro.

Meski begitu, rata-rata masyarakat Paris menjalankan aturan lockdown  dengan sepenuh hati. “Di sini, orang-orang hanya takut dengan virus. Maksudnya, mereka tidak terlalu khawatir dengan masalah ekonomi. Para pekerja tetap digaji, meskipun hanya mendapat kira-kira 70% dari total gaji,” kata Dayu pada inioke.

Baca juga :  Penerima Beasiswa Jurnalistik Inioke Mulai Ikut Pelatihan untuk Pertama Kali

Lockdown di Bulan Ramadan

Tisu toilet pun habis diborong

Menjalani Ramadan di Eropa adalah satu masalah bagi muslim yang berasal dari wilayah tropis. Perancis yang beriklim sedang kini tengah berada pada musim semi. Siang hari bisa mencapai 16 jam. Bandingkan dengan Indonesia yang matahari bersinar selama 12 jam sepanjang tahun.

Lockdown  membuat orang-orang tidak bisa keluar rumah. Dalam kesulitan itu masih ada hal positif yang bisa didapatkan. “Karena hanya, jadi bisa hemat energi untuk 16 jam,” katanya bercanda.

Bagaimanapun juga, Ramadan di perantauan tentulah memiliki kesulitan sendiri. Dayu merasakan tidak ada sesuatu yang berbeda dalam Ramadan di Perancis. “Kalau di Indonesia. Ramadan selalu disambut dengan suka cita. Nuansanya benar-benar terasa. Sedangkan di sini, rasanya hampir tidak ada yang spesial.”

Islam dianut oleh 8,8% dari sekitar 67 juta orang populasi Perancis. Jumlah ini adalah minoritas. Masjid terletak berjauhan dan tidak ada suara adzan dilantunkan. Ramadan seharusnya adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga atau kenalan. Ketika lockdown diterapkan, memupus kemungkinan bagi Dayu ataupun orang-orang Indonesia lainnya untuk berkumpul. Berbuka bersama dan melaksanakan shalat Tarawih.

“Jangankan ketika lockdown, pada masa normal saja susah untuk melaksanakan tarawih. Masjid yang ada setengah jam naik kereta. Kalau buka puasa pukul 9 malam, ditambah dengan tarawih, biasanya baru tengah malam bisa pulang. Ya, seperti itulah keadaannya,” kata Dayu.

Ketika Pandemi ini berakhir, Dayu ingin pulang ke Indonesia untuk bertemu keluarganya. Melepaskan rindu. Namun untuk saat ini, hal itu menjadi tidak mungkin.

“Seandainya bisa pulang ke Indonesia, karena kita tahu kapan pandemi ini akan benar-benar berakhir, belum tentu bisa kembali ke Perancis,” katanya. Dan Dul Fitri pun akan dilalui di Perancais oleh Dayu, sembari berharap, tentu Covid-19 segera teratasi. (*)

Haldi Patra, Reporter inioke.com